Liberty Media: MotoGP Tak Bisa Sekadar Tiru Drive to Survive
Baca dalam 60 detik
- Chase Carey menegaskan MotoGP perlu strategi ekspansi sendiri, bukan menjiplak kesuksesan serial dokumenter F1.
- Liberty Media resmi menguasai 84% saham Dorna Sports dan menargetkan pasar Amerika Serikat serta keragaman pembalap.
- Pendekatan 'cookie-cutter' dinilai berisiko gagal karena karakter unik MotoGP dan lanskap digital yang terus berubah.

Direktur Liberty Media, Chase Carey, memperingatkan bahwa MotoGP tidak bisa hanya meniru formula sukses serial dokumenter Netflix Formula 1: Drive to Survive untuk mendongkrak popularitas global. Pernyataan itu muncul setelah Liberty resmi mengakuisisi 84% saham Dorna Sports pada Juli 2025, langkah yang menandai masuknya raksasa media asal Amerika Serikat itu ke jantung balap motor grand prix.
Dalam konferensi di Autosport Business Exchange, New York, Carey mengakui ada kemiripan elemen yang perlu dibenahi di MotoGP dan F1, terutama karena keduanya merupakan waralaba global. Namun ia menekankan bahwa MotoGP memiliki karakter tersendiri yang tidak bisa dipukul rata. “Anda tidak bisa sekadar mencetak cookie-cutter,” ujarnya, mengibaratkan pendekatan seragam sebagai resep yang berisiko gagal.
Liberty Media sendiri bukan nama baru dalam transformasi ajang balap. Sejak mengakuisisi F1 pada Januari 2017, perusahaan itu meluncurkan Drive to Survive dua tahun kemudian. Serial tersebut diakui sebagai katalis yang memperkenalkan F1 ke audiens baru, terutama saat pandemi COVID-19 memaksa orang berdiam di rumah. Kesuksesan itu lantas memicu gelombang peniruan di berbagai cabang olahraga, mulai dari golf dengan Full Swing hingga tenis lewat Break Point.
Carey menilai peniruan mentah-mentah jarang membuahkan hasil setara. Ia mengambil contoh American Idol yang pernah ditangani Fox: acara itu menangkap imajinasi dunia, tetapi acara sejenis yang menyusul tidak mampu mengulang kejayaannya. “Biasanya Anda tidak bisa hanya menyalin sesuatu,” tegasnya. Baginya, kunci terletak pada pemanfaatan kepribadian atlet, platform digital, dan kemitraan strategis yang relevan dengan ekosistem masing-masing ajang.
Bagi Liberty, tantangan MotoGP bukan sekadar menambah kamera di paddock. Selama ini dominasi pembalap Spanyol dan Italia di papan atas menjadi cermin kurangnya keragaman asal negara, sementara pasar Amerika Serikat masih menyimpan potensi besar yang belum tergarap optimal. Carey menyebut MotoGP dalam beberapa hal “bahkan lebih gila” karena para pembalap tampak seperti berbaring di aspal saat menikung, tetapi justru keunikan itulah yang harus dijual.
Ia juga menyoroti pergeseran perilaku konsumen olahraga. Era digital membuat penggemar terhubung 24 jam sehari, tidak hanya saat balapan berlangsung. Konten di balik layar, potongan video pendek, dan interaksi personal menjadi santapan harian yang membangun kedekatan. “Drive to Survive telah menjadi pusat upaya digital kami,” kata Carey, seraya menambahkan bahwa pengalaman menonton balapan langsung tetap menjadi produk premium yang tidak tergantikan.
“Mereka harus mengikuti jalur mereka sendiri dan menemukan peluang sendiri. Anda tidak bisa langsung membuat film MotoGP hanya karena F1 punya film yang sukses. Mungkin itu bukan peluang yang tepat.” — Chase Carey, Direktur Liberty Media
Pernyataan Carey memberi sinyal bahwa Liberty tidak akan memaksakan resep F1 ke MotoGP. Pendekatan yang dipilih tampaknya lebih eksperimental: mencari format yang sesuai dengan ritme balap motor, memanfaatkan tokoh-tokoh karismatik di lintasan, dan menjalin kemitraan dengan platform digital maupun rumah produksi yang tepat. Dalam konteks industri olahraga global, langkah ini mencerminkan pergeseran dari strategi “satu ukuran untuk semua” menuju portofolio pengalaman yang disesuaikan dengan audiens lokal dan global.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. MotoGP memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, dan kehadiran Liberty berpotensi membuka peluang lebih besar bagi pasar Asia Tenggara, termasuk potensi penyelenggaraan balapan atau konten lokal. Namun tanpa strategi yang tepat, gairah penggemar bisa berhenti sebagai konsumsi pasif. Pemerintah dan promoter dalam negeri perlu melihat bagaimana Liberty mengemas MotoGP agar tidak sekadar menjadi tontonan akhir pekan, tetapi juga ekosistem ekonomi yang melibatkan industri kreatif, pariwisata, dan media lokal.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah MotoGP mampu menemukan “Drive to Survive-nya sendiri” tanpa kehilangan identitas. Jika Liberty berhasil, bukan tidak mungkin MotoGP menyalip F1 dalam hal jangkauan audiens muda. Namun jika salah langkah, mereka hanya akan menjadi penonton yang mencoba meniru resep usang di tengah pasar yang kian terfragmentasi.



