Dua Eks Pejabat FBI Ditahan Jelang Pemilu AS: Dakwaan Berbau Politis?
Baca dalam 60 detik
- Nikki Floris dan Bradley Benavides ditangkap karena dituduh berbohong kepada Kongres soal penyelidikan Hunter Biden.
- Dakwaan muncul kurang dari dua pekan sebelum pemilu midterm, memicu tuduhan kriminalisasi politik terhadap pemerintahan Trump.
- Kasus ini menguji independensi DOJ di tengah kekhawatiran intervensi politik menjelang pemungutan suara.

Departemen Kehakiman Amerika Serikat resmi menjerat dua mantan pejabat senior Biro Investigasi Federal (FBI) dengan tuduhan memberikan kesaksian palsu kepada Kongres terkait penyelidikan terhadap Hunter Biden, putra Presiden Joe Biden. Keduanya, Nikki Floris (46) dan Bradley Benavides (56), menyerahkan diri setelah surat perintah penangkapan dikeluarkan pada Jumat pagi waktu setempat.
Penangkapan itu diumumkan langsung oleh Jaksa Agung Distrik Columbia, Jeanine Pirro, melalui akun media sosial X. Menurut Pirro, Floris dan Benavides diduga menyembunyikan peran aktif mereka dalam investigasi terhadap Hunter Biden yang dimulai pada 2019, mencakup dugaan pelanggaran pajak dan pencucian uang. Dalam kesaksian terpisah di hadapan Komite Kehakiman DPR pada 2023, keduanya membantah keterlibatan dalam penyelidikan tersebut.
Yang membuat kasus ini sensitif bukan hanya substansi dakwaannya, melainkan momentumnya. Berkas perkara dilayangkan kurang dari dua minggu sebelum pemilihan umum paruh waktu (midterm) pada 3 November. Langkah ini berseberangan dengan pedoman lama DOJ yang menganjurkan kehati-hatian agar tindakan hukum tidak memengaruhi kontestasi politik yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataannya, Pirro menuding Floris dan Benavides berbohong tentang peran mereka, bahkan menyebut salah satu dari mereka mengklaim hanya mengetahui penyelidikan itu dari Wikipedia. Padahal, menurut afidavit agen khusus FBI, bukti dokumen dan komunikasi kontemporer menunjukkan keduanya terlibat dalam upaya membentuk narasi publik seputar laptop Hunter Biden menjelang pemilu 2020.
"Nikki Floris adalah seorang patriot. Dia mengabdi kepada bangsa ini sebagai perwira intelijen FBI selama hampir 20 tahun. Namun hari ini, DOJ menuduhnya secara palsu atas dasar pernyataan politisi, bukan fakta," demikian pernyataan tim pengacara Floris, yang mencakup Margaret Donovan, Chris Mattei, Mary Dohrmann, dan Kyle Freeny.
Kubu Floris menilai penuntutan ini sebagai upaya transparan untuk meraih keuntungan politik menjelang pemilu. Mereka menyebut tuduhan itu "omong kosong" dan menegaskan bahwa kliennya siap menghadapi proses hukum di pengadilan. Sementara itu, Benavides belum memberikan komentar publik melalui perwakilan hukumnya.
Kasus ini bukan isolasi. Sehari sebelumnya, DOJ juga mengajukan gugatan luar biasa terhadap negara bagian Alaska untuk mengantisipasi kemungkinan kekalahan tipis Senator petahana Dan Sullivan dari Partai Republik. Langkah tersebut memperkuat dugaan bahwa aparat penegak hukum tengah digunakan untuk mengamankan posisi politik menjelang pemiluโsebuah pola yang mengundang kekhawatiran tentang netralitas institusi.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin bagaimana institusi penegak hukum di negara demokrasi besar bisa berada di bawah tekanan politik elektoral. Stabilitas hukum dan kepastian investasi di AS kerap dipandang sebagai acuan global, sehingga setiap guncangan pada independensi DOJ berpotensi memengaruhi persepsi risiko pasar keuangan internasional, termasuk arus modal ke negara berkembang.
Pertanyaannya kini: akankah pengadilan mampu membuktikan bahwa dakwaan ini murni berbasis bukti, bukan kepentingan kekuasaan? Atau justru sebaliknya, kasus ini akan menjadi preseden kelam bagi penegakan hukum di AS menjelang pemilu?



