Kenzo Nambu Tolak Pensiun di Usia 34, tetapi Klub Indonesia Masih Ragu karena Isu Cedera
Baca dalam 60 detik
- Kenzo Nambu menegaskan belum gantung sepatu meski berstatus tanpa klub setelah kontraknya di Persipal Palu berakhir.
- Sejumlah klub Indonesia disebut meragukan kondisi fisiknya, padahal Nambu mengklaim tidak pernah menjalani operasi dan selalu fit.
- Gelandang berusia 34 tahun itu berharap bursa transfer paruh musim menjadi pintu masuk kembali ke kompetisi profesional.

Kenzo Nambu memastikan dirinya belum menutup lembaran karier sebagai pesepak bola profesional. Di tengah statusnya yang kini tanpa klub, pemain berusia 34 tahun itu menegaskan masih menyimpan ambisi untuk kembali merumput, khususnya di kompetisi domestik Indonesia.
Terakhir, Nambu memperkuat Persipal Palu pada Pegadaian Championship 2025/2026. Namun, hingga bursa transfer BRI Super League dan Pegadaian Championship 2026/2027 ditutup, ia belum menemukan pelabuhan baru. Situasi ini kontras dengan pengakuannya yang merasa kondisi fisiknya masih mumpuni untuk bersaing di level profesional.
Dalam wawancara dengan jurnalis Bola.com, Nambu membantah kabar yang menyebutnya telah pensiun. Ia justru menyayangkan minimnya tawaran yang datang, meski telah menjalin komunikasi dengan sejumlah klub. Menurutnya, ada satu faktor yang berulang kali menjadi penghalang: kekhawatiran berlebihan terhadap riwayat cedera.
"Mereka tidak tertarik dengan saya. Mereka selalu bicara soal cedera saya padahal kondisi saya baik-baik saja. Saya tidak cedera, saya juga tidak pernah melakukan operasi," ujar Nambu, seperti dikutip dari wawancara eksklusif.
Pernyataan itu sekaligus membantah asumsi yang beredar di kalangan manajemen klub. Nambu mengaku bingung karena dirinya tidak pernah mengalami cedera parah yang memerlukan tindakan operasi. Ia menilai, label 'rawan cedera' yang melekat padanya lebih merupakan prasangka daripada fakta medis.
Meski begitu, Nambu tidak menutup mata terhadap realitas pasar. Ia menyadari bahwa keputusan klub untuk merekrut pemain tidak semata-mata soal kualitas, tetapi juga risiko investasi. Namun, ia berharap ada klub yang mau melihat lebih dari sekadar catatan medis.
"Sejujurnya saya masih ingin terus bermain sepak bola tapi sayangnya saya tidak bisa menemukan klub sampai bursa transfer ditutup," tambahnya.
Di luar lapangan, Nambu mengisi waktu dengan mengelola sejumlah bisnis di Tokyo. Ia juga berperan sebagai konektor bagi pengusaha Jepang yang ingin menanamkan modal di Indonesia. Aktivitas ini menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya meninggalkan dunia olahraga, melainkan memperluas jaringan di sektor ekonomi.
Kasus Nambu menjadi cermin bagaimana klub di Indonesia masih sangat berhati-hati dalam merekrut pemain di usia kepala tiga, terutama yang memiliki catatan cederaโmeski sang pemain membantahnya. Di sisi lain, regulasi kompetisi yang semakin ketat dan persaingan memperebutkan slot pemain asing membuat ruang bagi pemain seperti Nambu kian sempit.
Ke depan, peluang Nambu kembali bermain akan sangat bergantung pada bursa transfer paruh musim. Jika tidak ada klub yang membuka pintu, ia mungkin harus mempertimbangkan opsi bermain di liga lain atau beralih fokus ke bisnisnya. Namun, satu hal yang pasti: Nambu belum siap menggantung sepatu.



