Conte Tawarkan Diri ke Man United, Tapi Ada Syarat Struktural yang Bikin Ragu
Baca dalam 60 detik
- Antonio Conte secara aktif menyatakan minat melatih Manchester United, namun pihak klub belum menjadikannya kandidat prioritas.
- Kekhawatiran utama manajemen United adalah kecocokan Conte dengan struktur sepak bola yang ada, bukan sekadar catatan trofi.
- Kekalahan 4-1 dari Como memperpanjang tren tanpa kemenangan menjadi tujuh laga dan menempatkan Michael Carrick di ujung tanduk.

Manchester United kembali berada di pusaran krisis setelah kekalahan telak 4-1 dari Como di Italia pada Rabu lalu, memperpanjang rekor tanpa kemenangan menjadi tujuh pertandingan berturut-turut. Tekanan kini beralih ke kursi Michael Carrick, yang dianggap gagal membendung laju negatif tim. Di tengah situasi itu, nama Antonio Conte muncul ke permukaan sebagai alternatif, meski jalan menuju Old Trafford tidak mulus.
Menurut laporan The Telegraph yang dikutip Football FanCast, perwakilan Conte telah mendesak manajemen United untuk mempertimbangkan mantan pelatih Chelsea dan Tottenham Hotspur itu. Sumber yang sama menyebut Conte sendiri terbuka terhadap peluang tersebut dan telah menyampaikan ketertarikannya melalui pihak ketiga. Namun, manajemen United disebut belum menempatkan Conte sebagai kandidat utama karena keraguan tentang bagaimana ia akan bekerja dalam struktur klub yang telah ditetapkan.
Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Sejak beberapa tahun terakhir, United berupaya membangun model di mana keputusan perekrutan pemain dan operasional sepak bola tidak sepenuhnya berada di tangan manajer. Conte dikenal sebagai sosok yang menuntut kendali besar atas urusan teknis dan transfer. Perbedaan visi ini menjadi batu sandungan utama bagi negosiasi apa pun, terlepas dari reputasi dan trofi yang ia miliki.
Rekam jejak Conte memang mengesankan. Ia mengantar Chelsea juara Premier League pada 2017 dan menjuarai Piala FA setahun kemudian. Bersama Napoli, ia meraih scudetto 2025 dan finis runner-up musim berikutnya. Deretan prestasi ini menjadi daya tarik bagi sebagian suporter United yang merindukan kompetisi gelar domestik dan Eropa. Namun, daya tarik trofi tidak serta-merta menyelesaikan persoalan struktural yang lebih rumit.
Mantan pemain sayap United, Ashley Young, yang pernah dilatih Conte di Inter Milan, mempertanyakan kecocokan gaya manajemen Conte yang menuntut intensitas tinggi dalam latihan dan pertandingan. Ia menyoroti bagaimana ekspektasi fisik yang tinggi bisa berbenturan dengan kondisi skuad United saat ini.
Selain Conte, sejumlah nama lain telah dikaitkan dengan kursi pelatih United. TalkSPORT melaporkan bahwa United telah menjajaki minat Julian Nagelsmann, dengan Eddie Howe dan Unai Emery juga disebut sebagai alternatif. Fabian Hรผrzeler dari Brighton sempat masuk radar, tetapi pelatih asal Jerman itu baru saja menandatangani kontrak hingga 2029 dan dilaporkan tidak tertarik pindah ke Old Trafford. Situasi ini membuat United harus mempertimbangkan opsi yang tersedia dengan cermat, termasuk kemungkinan mempertahankan Carrick hingga akhir musim.
Bagi Carrick, laga melawan Bournemouth pada Minggu mendatang menjadi kesempatan untuk meredakan tekanan. Kemenangan meyakinkan bisa memberikan ruang bernapas, meski hanya bersifat sementara. Kekalahan lagi berpotensi mempercepat keputusan klub, yang mungkin akan beralih ke kandidat lain dengan profil yang lebih sesuai dengan struktur yang ada. Pertanyaannya, apakah United akan memprioritaskan trofi jangka pendek dengan mengorbankan konsistensi model jangka panjang, atau tetap pada jalur pembangunan yang sedang dirintis?



