Russell Desak Sirkuit F1 Diperbaiki Tiap Dua Tahun, Verstappen Keluhkan Trek COTA Bikin Punggung Rusak
Baca dalam 60 detik
- George Russell menilai aspal sirkuit Formula 1 perlu diganti setiap dua tahun agar lebih konsisten dan aman.
- Keluhan Max Verstappen soal guncangan di COTA memicu perdebatan tentang kualitas permukaan lintasan di kalender F1.
- Perubahan regulasi ban 18 inci disebut Russell mengurangi efek suspensi alami sehingga getaran lebih terasa.

Pembalap Mercedes, George Russell, mengusulkan agar sirkuit Formula 1 diaspal ulang secara berkala—setiap dua tahun—sebagai respons terhadap keluhan Max Verstappen tentang kondisi permukaan Circuit of the Americas (COTA) yang dinilai terlalu bergelombang. Verstappen bahkan menyebut guncangan di trek tersebut bisa membuatnya membutuhkan “punggung baru” setelah balapan.
Pernyataan Russell muncul menjelang Grand Prix Amerika Serikat di Austin, Texas, akhir pekan ini. Ia mengakui bahwa COTA memang memiliki karakteristik trek yang tidak rata, tetapi menegaskan problem serupa juga ditemui di sejumlah sirkuit lain dalam kalender 24 balapan. Menurutnya, aspal yang menua dan mulai terkelupas menjadi persoalan umum yang perlu mendapat perhatian serius dari pengelola sirkuit dan FIA.
“Saya berpendapat lintasan F1 sebaiknya diaspal ulang setiap beberapa tahun agar kondisinya lebih konsisten. Saat ini kita mendatangi sirkuit yang aspalnya mengelupas dan rusak, sehingga menimbulkan lebih banyak masalah,” ujar Russell dalam sesi media di Austin, Kamis (17/10/2024).
Verstappen sebelumnya menyoroti kondisi COTA setelah menonton ajang World Endurance Championship (WEC) di sirkuit tersebut. Pembalap Red Bull itu terkejut melihat kerasnya guncangan yang dialami mobil dan pembalap. “Dari yang saya lihat di WEC, treknya sangat bergelombang. Ya ampun, sepertinya saya perlu memesan tulang punggung baru setelah akhir pekan ini, atau menjadi seperti Robocop,” katanya, seperti dikutip Motorsport.com.
Russell tidak menampik bahwa COTA termasuk sirkuit yang bergelombang. Namun, ia menekankan bahwa masalah utama bukan semata pada COTA, melainkan pada usia aspal di banyak sirkuit. Ia juga mengaitkan sensitivitas mobil F1 saat ini dengan perubahan regulasi ban. Sejak beralih ke ban berukuran 18 inci, profil samping ban menjadi lebih tipis, sehingga kemampuan ban meredam guncangan berkurang drastis. “Lingkar ban sama, tetapi lingkar pelek jauh lebih besar. Efek suspensi alami dari ban yang dulu berfungsi sebagai peredam kini hampir hilang,” jelasnya.
Isu kualitas aspal sempat menjadi sorotan di Grand Prix Monako ketika Lance Stroll dan Charles Leclerc mengalami kecelakaan di Tikungan 19. Balapan sempat dihentikan untuk inspeksi permukaan trek oleh FIA. Kedua pembalap saat itu menyalahkan masalah pada mobil mereka, tetapi banyak pihak menduga insiden dipicu oleh aspal yang rusak.
Meski demikian, Russell menilai situasi ini bukanlah hal yang bisa diubah dalam waktu singkat. “Ini memang tidak ideal, tetapi tidak banyak yang bisa kami lakukan,” ujarnya. Ia berharap usulan pengaspalan ulang secara periodik dapat menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan keselamatan dan konsistensi balapan.
Di sisi lain, Russell tiba di Austin dengan posisi kedua klasemen pembalap, terpaut 102 poin dari rekan setimnya di Mercedes, Kimi Antonelli, yang secara teoritis masih bisa merebut gelar juara dunia pada balapan Minggu nanti. Kedua pembalap Mercedes akan menggunakan paket peningkatan terbaru akhir pekan ini. Russell mengakui bahwa komponen baru tersebut memerlukan penyesuaian setelan yang lebih besar dari perkiraan awal tim.
Pernyataan Russell ini menambah tekanan bagi penyelenggara sirkuit dan FIA untuk mengevaluasi standar pemeliharaan lintasan. Dengan semakin ketatnya persaingan dan mobil yang semakin sensitif terhadap permukaan trek, kualitas aspal bisa menjadi faktor penentu hasil balapan—bahkan keselamatan pembalap. Akankah FIA mempertimbangkan regulasi baru soal interval pengaspalan ulang? Publik menantikan langkah konkret sebelum insiden serupa terulang.



