Marc Marquez: Peluang Pensiun Tiga Tahun ke Depan 70%, tapi Tetap 'Orang Bebas'
Baca dalam 60 detik
- Marc Marquez memperkirakan ada kemungkinan 70% dirinya gantung helm dalam tiga tahun ke depan, tepat saat kontrak Ducati berakhir pada 2028.
- Kepastian juara dunia 2025 membuatnya lebih tenang dan menerima hasil di luar kemenangan, mengubah cara pandangnya tentang akhir karier.
- Cedera di Indonesia menunda niat pensiun dini; ia menegaskan tidak akan berhenti selama masih bisa pulih dan bersaing.

Pembalap Ducati, Marc Marquez, untuk pertama kalinya memberi angka konkret soal masa depan kariernya: ia menilai peluang dirinya pensiun dalam tiga tahun ke depan mencapai 70 persen. Pernyataan itu disampaikan Marquez dalam wawancara eksklusif dengan Motorsport.com di Phillip Island, Australia, Kamis (23/10/2025), sehari sebelum sesi latihan bebas Grand Prix Australia. Kontraknya bersama Ducati baru akan berakhir pada akhir 2028, sehingga angka tersebut secara implisit menunjuk pada kemungkinan besar bahwa kesepakatan itu menjadi kontrak terakhirnya di MotoGP.
Ucapan Marquez kali ini kontras dengan sikapnya setahun lalu. Menjelang seri pembuka musim di Qatar, ia dengan tegas menyatakan bahwa dalam tiga tahun ia masih akan berada di lintasan. Namun dinamika sejak itu berjalan cepat: ia merebut kembali gelar juara dunia pada 2025 setelah terakhir kali menang pada 2019, lalu hanya berselang beberapa hari mengalami cedera lagi pada lengan kanannya yang sudah beberapa kali dioperasi, akibat kecelakaan di Indonesia. Cedera itu memaksanya menjalani operasi lanjutan dan rehabilitasi panjang, serta memaksa adaptasi baru terhadap karakter motor di sejumlah sirkuit.
“Kali ini pertanyaannya lebih rumit untuk dijawab. Saya tidak tahu pasti, tetapi jika harus memberi angka, saya katakan ada 70 persen kemungkinan saya sudah pensiun dalam tiga tahun, dan 30 persen masih membalap,” ujar Marquez, seperti dikutip Motorsport.com, saat berbincang di kediamannya bersama sang adik, Alex Marquez, tak jauh dari Phillip Island.
Meski demikian, ambisi Marquez belum pudar. Ia sempat memangkas 102 poin dari pemimpin klasemen hanya dalam tujuh balapan antara seri Italia dan San Marino, yang menunjukkan bahwa naluri kompetitifnya masih tajam. Namun, efek psikologis dari gelar 2025 rupanya lebih dalam dari sekadar trofi. Marquez mengaku kini lebih menerima hasil di luar kemenangan, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia toleransi.
“Justru karena gelar tahun lalu, saya sekarang merasa tenang dan santai. Itu juga menjelaskan mengapa di balapan yang saya tidak sepenuhnya nyaman, saya bisa finis keenam atau ketujuh. Setelah menjuarai dunia lagi, saya menerima bahwa matahari tidak bersinar setiap hari. Gelar itu mengubah cara saya akan pensiun nanti. Mau menang satu gelar lagi atau tidak, tidak akan membuat perbedaan. Saat pensiun, saya akan melakukannya sebagai orang bebas, damai dengan diri sendiri,” tutur juara dunia bertahan itu.
Keputusan untuk tidak pensiun dini ternyata juga dipengaruhi oleh cedera di Lombok, Indonesia, yang kembali membangkitkan semangatnya untuk mengejar target baru. “Saya tidak tergoda untuk pensiun karena saya tidak punya waktu untuk sampai ke titik itu, sebab seminggu kemudian saya cedera lagi di Indonesia. Selama masih ada cedera yang bisa saya pulihkan dan memungkinkan saya terus membalap serta mencoba menang lagi, saya tidak akan pensiun. Itu jelas,” tegasnya.
Bagi Marquez, gelar 2025 bukan sekadar mengembalikan supremasi, melainkan juga melepaskan beban psikologis setelah bertahun-tahun bergulat dengan cedera dan operasi. Ia mengaku sempat merasa “kosong” dan kehilangan hasrat membalap selama beberapa hari setelah memastikan titel. Namun, alih-alih memilih pensiun, ia justru mendapat dorongan baru dari cedera yang menimpanya. Kombinasi antara kelegaan dan cedera itu menciptakan keseimbangan baru dalam cara ia memandang sisa kariernya.
Pernyataan Marquez ini juga menjadi sinyal bagi lanskap MotoGP dalam beberapa tahun ke depan. Dengan kontrak hingga 2028, ia masih memiliki tiga musim penuh untuk menambah koleksi gelar, tetapi angka 70 persen menunjukkan bahwa ia tidak lagi mengejar ambisi tanpa batas. Sikapnya yang lebih menerima hasil di luar podium utama bisa memengaruhi cara ia mengambil risiko di lintasan, terutama di sirkuit-sirkuit yang tidak bersahabat dengan kondisi fisiknya. Bagi Ducati, pernyataan ini menjadi pengingat bahwa mereka perlu menyiapkan regenerasi lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Pertanyaannya kemudian: jika Marquez benar-benar pensiun pada 2028, akankah ia melakukannya dengan gelar tambahan, atau justru dengan ketenangan yang telah ia temukan sekarang? Yang jelas, ia telah menetapkan syarat pensiunnya sendiri—bukan karena tekanan usia atau cedera, melainkan karena telah merasa bebas.



