Switch 2 Dijailbreak, AI Bikin Modding Konsol Makin Cepat dan Rumit
Baca dalam 60 detik
- Seorang modder mengklaim berhasil menjailbreak Nintendo Switch 2 dan menyisipkan karakter seperti Cinnamoroll hingga Hatsune Miku ke Mario Kart World.
- Eksploitasi ini memanfaatkan aplikasi SmileBASIC 4 seharga US$25 dan bantuan AI generatif, tetapi belum praktis karena harus diulang setiap konsol dimatikan.
- Fenomena ini menandai gelombang baru jailbreak berbantuan AI yang juga menerpa PS5, memicu respons cepat dari produsen konsol melalui pembaruan firmware.

Nintendo Switch 2, konsol generasi terbaru yang baru saja menggebrak pasar, diklaim telah dijailbreak oleh seorang peretas. Uniknya, aksi tersebut dilakukan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) generatif, menandai babak baru dalam dunia modding konsol yang semakin sulit dibendung.
Peretas yang dikenal sebagai pepsipu mengunggah video pada Kamis (22/10/2026) yang memperlihatkan Mario Kart Worldโgame eksklusif Switch 2โdimainkan dengan karakter di luar pakem, seperti Cinnamoroll dari Sanrio dan Hatsune Miku. Video itu menjadi bukti bahwa konsol anyar Nintendo tersebut telah ditembus, meski dengan metode yang tidak sederhana.
Menurut penjelasan pepsipu, proses jailbreak ini memanfaatkan aplikasi pemrograman SmileBASIC 4 yang dijual seharga US$25 di Nintendo eShop. Celah keamanan itu kemudian dieksploitasi untuk menjalankan kode kustom. Namun, tidak seperti jailbreak konvensional yang menawarkan solusi permanen, eksploitasi ini bersifat sementara: setiap kali konsol dimatikan, perangkat akan kembali ke kondisi semula dan pengguna harus mengulang seluruh proses dari awal.
Meski terkesan mengkhawatirkan bagi Nintendo, dampaknya tidak serta-merta fatal. Pasalnya, eksploitasi ini tergolong rumit dan tidak dapat dilakukan oleh pengguna awam. Selain itu, Nintendo memiliki rekam jejak dalam menutup celah keamanan melalui pembaruan perangkat lunak. Namun, kehadiran AI generatif telah mempercepat laju inovasi di komunitas homebrew, sehingga produsen konsol dituntut untuk lebih gesit merespons.
Teknologi AI coding, khususnya model Claude Opus 5.5 yang dirilis September lalu, telah memicu gelombang proyek komunitas yang sebelumnya mustahil. Selain jailbreak konsol, muncul port browser untuk game klasik seperti Halo: Combat Evolved, serta video viral yang memperlihatkan modifikasi game seperti menambahkan Mario ke Elden Ring atau skateboarding di Call of Duty. Fenomena ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas para peretas, tetapi juga menarik perhatian industri.
Xbox CEO Asha Sharma baru-baru ini mengumumkan pembentukan Xbox Labs, sebuah divisi yang tampaknya terinspirasi oleh tren tersebut, meski tidak secara eksplisit menyebut AI atau vibe-coding. Langkah ini mengisyaratkan bahwa perusahaan konsol mulai mengakui kekuatan komunitas yang dimudahkan oleh AI, sekaligus berupaya mengakomodasi atau mengendalikannya.
Situasi yang dihadapi Nintendo mirip dengan yang dialami Sony. PlayStation 5 belakangan ini menerima serangkaian pembaruan firmware untuk menambal kerentanan keamanan, sebagai respons terhadap gelombang jailbreak berbantuan AI yang muncul lebih cepat dari sebelumnya. Para homebrewer tampaknya berupaya membobol sistem sebelum peluncuran Grand Theft Auto 6, yang mungkin dipicu oleh kekecewaan sebagian penggemar terhadap Sony dan Rockstar yang mulai mengurangi dukungan media fisik.
Di Indonesia, fenomena jailbreak konsol bukan hal baru. Komunitas gamer dan modder Tanah Air kerap memodifikasi perangkat untuk mengakses game bajakan atau fitur tambahan. Namun, dengan semakin canggihnya teknologi AI, praktik ini berpotensi meningkat, terutama karena akses terhadap alat dan panduan semakin mudah melalui internet. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah menegaskan pentingnya menghormati hak kekayaan intelektual, termasuk perangkat lunak game. Meski demikian, penegakan hukum di ranah digital masih menjadi tantangan tersendiri.
Ke depan, pertarungan antara pembuat konsol dan komunitas peretas akan semakin sengit. AI di satu sisi mempermudah peretasan, tetapi di sisi lain juga dapat digunakan untuk memperkuat keamanan. Nintendo dan Sony mungkin perlu mengadopsi pendekatan baru, seperti memanfaatkan AI untuk mendeteksi anomali atau merancang sistem yang lebih adaptif. Pertanyaannya, akankah produsen konsol mampu menutup celah secepat AI menciptakan celah baru? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: era jailbreak yang dipandu AI telah tiba, dan industri game harus bersiap.



