Piala FFI 2026: Nominasi Diumumkan, Sejumlah Film Bisa Ditonton di Netflix dan Bioskop
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah film yang bersaing di Piala Citra FFI 2026 sudah tersedia di platform streaming, memudahkan publik menonton sebelum malam penghargaan.
- Ghost in the Cell garapan Joko Anwar memimpin perolehan nominasi dengan 12 kategori, diikuti Abadi Nan Jaya dan Latas masing-masing sembilan nominasi.
- Keputusan sejumlah film tayang lebih dulu di layanan digital dinilai mengubah cara industri mempromosikan karya menjelang ajang penghargaan.

Festival Film Indonesia (FFI) 2026 telah merilis daftar nominasi Piala Citra, dan sejumlah film yang masuk bursa sudah bisa disaksikan penonton Indonesia melalui platform streaming maupun bioskop. Langkah ini memberi kesempatan publik menilai sendiri kualitas karya sebelum malam puncak penghargaan digelar.
Dari daftar yang beredar, Ghost in the Cell arahan Joko Anwar menjadi film dengan nominasi terbanyak, yakni 12 kategori, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik. Film ini mengisahkan seorang jurnalis bernama Dimas (Endy Arfian) yang dijebak atas pembunuhan atasannya dan harus bertahan di ekosistem Lapas Labuhan Angsana yang korup. Ghost in the Cell dapat ditonton di Netflix dengan label usia 17 tahun ke atas.
Sementara itu, Abadi Nan Jaya karya Kimo Stamboel dan Latas masing-masing mengantongi sembilan nominasi. Keduanya juga sudah tersedia di Netflix. Abadi Nan Jaya mengangkat cerita keluarga pemilik usaha jamu di desa terpencil dekat Yogyakarta yang terpecah akibat ambisi sang kepala keluarga, hingga memicu wabah zombi. Adapun Latas menyoroti tradisi kerasukan di sebuah desa yang terancam digusur, dengan Bayu (Angga Yunanda) bertekad menjadi Perasuk Utama demi menyelamatkan mata air keramat.
Fenomena film nominasi yang lebih dulu hadir di layanan digital bukan hal baru, tetapi skalanya tahun ini terasa lebih besar. Nobody Loves Kay karya Bernadus Raka, yang kembali tayang di bioskop CGV mulai 15 Oktober 2026, juga masuk daftar nominasi Sutradara Terbaik. Film berlabel D17+ ini mengikuti perjalanan Kay (Bima Azriel) dan dua sahabatnya yang terancam berpisah karena masalah nilai sekolah dan kompetisi gaming.
Selain itu, ada Rumah Tanpa Jendela garapan Teddy Soeria Atmadja yang masuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik dan Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Shenina Cinnamon. Film ini menyoroti kehidupan rumah tangga Malik (Angga Yunanda) dan Alya (Shenina Cinnamon) yang goyah setelah Malik terkena PHK, lalu terjerat ancaman setelah menemukan koper berisi uang miliaran rupiah. Rumah Tanpa Jendela dapat disaksikan di Netflix dengan label R13+.
Tak ketinggalan, Willa arahan Ryan Adriandhy yang mengantongi 10 nominasi, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik dan Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Luisa Adreena. Film berlabel SU ini mengisahkan Willa, gadis keturunan Tionghoa-Surabaya, yang menghadapi dunia baru setelah sahabatnya mengalami kecelakaan. Willa juga tersedia di Netflix.
"Ketersediaan film nominasi di platform streaming memberi penonton kesempatan menilai karya secara langsung, bukan sekadar mengandalkan ulasan," ujar seorang pengamat film yang enggan disebutkan namanya.
Dari sisi industri, keputusan menayangkan film nominasi lebih awal di layanan digital dinilai menguntungkan dari segi jangkauan penonton. Namun, hal ini juga memunculkan pertanyaan tentang daya tarik bioskop di tengah gempuran platform streaming. Sejumlah pengamat menilai FFI perlu terus beradaptasi dengan perubahan perilaku menonton masyarakat.
Ke depan, malam penghargaan Piala Citra FFI 2026 akan menjadi ajang pembuktian bagi film-film yang telah lebih dulu hadir di hadapan publik. Apakah ketersediaan di streaming akan memengaruhi peluang kemenangan, atau justru sebaliknya, penilaian juri tetap independen dari popularitas? Yang jelas, persaingan tahun ini semakin ketat dengan kehadiran karya-karya yang telah lebih dulu diapresiasi di festival internasional.



