EA Resmi Konfirmasi Star Wars Battlefront 3, tapi Bayar dengan PHK dan Penutupan BioWare
Baca dalam 60 detik
- Electronic Arts memastikan Star Wars Battlefront 3 tengah dikembangkan oleh DICE dan Respawn, sekaligus membantah rumor Bungie.
- Kabar baik itu datang bersamaan dengan pemutusan hubungan kerja 3% tenaga kerja global dan penutupan permanen BioWare.
- Kolaborasi dua studio ini menandai taruhan besar EA di pasar penembak live-service setelah sukses Battlefield 6.

Setelah hampir satu dekade menjadi spekulasi, Electronic Arts akhirnya mengonfirmasi bahwa Star Wars Battlefront 3 benar-benar dalam tahap pengembangan. Konfirmasi ini disampaikan oleh Cam Weber, Presiden dan Chief Studios Officer EA, serta David Tinson, Presiden dan COO, dalam keterangan yang dikutip Variety. Namun, pengumuman tersebut hadir di tengah langkah restrukturisasi besar yang berdampak pahit bagi sebagian karyawan.
EA resmi menutup BioWare, studio legendaris di balik seri Mass Effect dan Dragon Age, dan menghentikan produksi judul Mass Effect terbaru. Langkah ini merupakan bagian dari pemutusan hubungan kerja terhadap 3% dari total tenaga kerja global EA, yang menjadi aksi korporasi pertama setelah akuisisi oleh Public Investment Fund Arab Saudi, Silver Lake, dan Affinity Partners milik Jared Kushner rampung pada 4 Agustus lalu.
Meski demikian, bagi penggemar Star Wars, kabar ini menjadi oase di tengah gurun. Battlefront 3 akan digarap bersama oleh DICE dan Respawn Entertainment. DICE dikenal sebagai pengembang di balik dua seri Battlefront sebelumnya, sementara Respawn memiliki rekam jejak kuat lewat Apex Legends dan seri Jedi: Fallen Order. Kolaborasi ini sekaligus membantah rumor yang menyebut Bungie, pencipta Destiny, akan mengambil alih proyek tersebut.
Keputusan mempertemukan DICE dan Respawn bukan tanpa alasan. Weber dan Tinson menyatakan bahwa EA mencatat kinerja kuat dari game penembak live-service, terutama Battlefield 6. Kesuksesan itu mendorong rencana sekuel Battlefield berikutnya, serta ekspansi portofolio di genre yang sama. Battlefront 3 pun menjadi kandidat logis untuk mengisi ceruk tersebut, mengingat basis penggemar Star Wars yang besar dan potensi monetisasi jangka panjang.
"Kami akan menyatukan studio Respawn dan DICE untuk berkolaborasi dalam proyek masa depan," ujar Weber dan Tinson dalam pernyataan resmi, seperti dikutip Variety.
Sejarah mencatat, Battlefront 2 yang dirilis pada 2017 sempat menuai kritik tajam karena mekanisme pay-to-win dan kustomisasi terbatas. Meski begitu, melalui serangkaian pembaruan, game itu berhasil memulihkan reputasinya dan mempertahankan komunitas pemain yang solid. Kebangkitan minat terhadap semesta Star Wars, terutama setelah kesuksesan serial Andor musim kedua, turut mendorong lonjakan pemain yang kembali ke server lama dan memicu permintaan akan sekuel.
Bagi industri game nasional, perkembangan ini menjadi cermin bagaimana konsolidasi korporasi global berdampak pada ekosistem pengembangan game. Indonesia sendiri memiliki studio-studio independen yang tumbuh, namun skala investasi dan teknologi yang dimiliki EA jelas belum tertandingi. Kisah BioWare—studio yang harus tutup meski memiliki warisan kuat—menjadi peringatan bahwa dalam industri kreatif, tekanan finansial dan ekspektasi pemegang saham dapat mengalahkan loyalitas penggemar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana EA akan mengeksplorasi era baru dalam semesta Star Wars, seperti The High Republic dan Dawn of the Jedi, yang muncul setelah tahun 2017. Dengan dukungan Respawn yang ahli di genre penembak multipemain, Battlefront 3 berpotensi menjadi standar baru game Star Wars. Namun, bayang-bayang PHK dan penutupan studio tetap menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap pengumuman, ada harga yang harus dibayar.



