Ujian Sesungguhnya Bayern: Freiburg dan Benteng Europa-Park Menanti Sebelum Der Klassiker
Baca dalam 60 detik
- Bayern Munich memuncaki klasemen usai menghancurkan RB Leipzig 6-1, tetapi rekor tandang mereka musim ini masih rapuh dengan dua kali kehilangan poin.
- Freiburg menjelma menjadi tim paling efisien di Bundesliga dengan rekor sempurna di kandang dan catatan gol tertinggi sepanjang sejarah klub pada fase awal musim.
- Laga di Europa-Park Stadion menjadi ujian mental bagi pasukan Vincent Kompany sebelum menghadapi Borussia Dortmund, sekaligus peluang Freiburg mematahkan dominasi 46 pertemuan.

Bayern Munich kembali ke puncak klasemen Bundesliga setelah pesta gol 6-1 atas RB Leipzig, namun perjalanan ke markas Freiburg pada matchday ketujuh menjadi jebakan yang bisa mengguncang kepercayaan diri mereka sebelum Der Klassiker melawan Borussia Dortmund. Laga di Europa-Park Stadion, Sabtu malam WIB, bukan sekadar pemanasan: Freiburg sedang menjelma menjadi tim paling efisien di liga dan belum pernah kalah di kandang musim ini.
Kemenangan besar atas Leipzig memang mengembalikan citra dominan Bayern. Akan tetapi, ada pola yang mengganggu dalam kampanye 2026/27 ini. Dari empat pertandingan yang mereka jalani, dua di antaranya berakhir tanpa kemenangan, dan keduanya terjadi saat bermain di luar Allianz Arena—masing-masing imbang 0-0 di Schalke dan 2-2 di Augsburg. Jumlah poin yang hilang itu (empat) setara dengan total kehilangan poin Bayern sepanjang paruh pertama musim lalu. Sebuah anomali bagi tim yang biasanya mendominasi laga tandang.
Di sisi lain, Freiburg menjelma sebagai kekuatan baru yang patut diperhitungkan. Tiga laga kandang di Bundesliga berakhir dengan kemenangan, menghasilkan 11 gol dan hanya kebobolan dua kali. Catatan itu meluas ke kompetisi Eropa: Motherwell dan Jablonec juga takluk di Europa-Park Stadion. Yang lebih mengejutkan, 15 gol liga yang mereka cetak sejauh ini adalah rekor klub terbaik pada fase awal musim, sekaligus menempatkan mereka sebagai tim dengan efisiensi penyelesaian akhir tertinggi di Bundesliga (+3,8).
Ancaman Freiburg tidak hanya soal ketajaman, tetapi juga variasi serangan. Mereka memimpin liga dalam hal gol sundulan (empat), sementara Bayern justru berada di peringkat kedua terbawah untuk duel udara yang dimenangkan (69). Ini menjadi titik lemah yang bisa dieksploitasi oleh striker setinggi 196 cm, Igor Matanović, yang telah mencetak tiga gol dan menjadi mesin pressing tim dengan 83 duel dimenangkan—terbanyak kedua di liga.
Di lini tengah, Bayern masih mengandalkan duet Joshua Kimmich dan Aleksandar Pavlović yang menempati urutan pertama dan kedua dalam jarak tempuh di klub. Namun, Kimmich absen saat Bayern imbang melawan Arsenal karena urusan keluarga, dan statusnya untuk laga melawan Freiburg masih tanda tanya. Tom Bischof, yang tampil impresif menggantikan Kimmich di laga Liga Champions, kemungkinan kembali dipercaya berduet dengan Pavlović. Sementara itu, Freiburg akan mengandalkan Maximilian Eggestein dan Yannik Engelhardt—duet pekerja keras yang telah menyumbang lima gol dan menempatkan Eggestein di urutan keenam liga dalam jarak tempuh (71,3 km), di atas Kimmich dan Pavlović.
Kekuatan lini depan Bayern juga tidak utuh. Luis Díaz, pencetak hat-trick ke gawang Leipzig, mengalami cedera hamstring saat melawan Arsenal di Liga Champions. Posisi di sayap kiri kemungkinan diisi oleh Ismael Saibari, Lennart Karl, atau Alphonso Davies. Meski demikian, trisula Harry Kane, Michael Olise, dan Díaz telah mengoleksi 13 gol musim ini—hanya terpaut dua gol dari total keseluruhan Freiburg. Kembalinya Yuito Suzuki, top skor Freiburg dengan empat gol, setelah menjalani sanksi kartu merah, menambah daya gedor tuan rumah.
"Kami bermain sejak awal dan langsung memanfaatkan peluang. Itu masalah dalam beberapa laga terakhir—tidak memaksimalkan peluang. Hari ini berbeda. Dan ketika kami mulai bergerak, lawan akan sangat kesulitan, terutama di kandang," ujar rekrutan musim panas Bayern, Nathaniel Brown, usai laga melawan Leipzig.
Pernyataan Brown menyiratkan satu hal: Bayern masih belum konsisten saat bermain di luar rumah. Dari 22 gol yang mereka cetak musim ini, hanya empat yang lahir di laga tandang. Namun, kerja keras pasukan Kompany patut diacungi jempol. Mereka menjadi tim dengan jarak tempuh terjauh di Bundesliga (747,6 km), menandakan intensitas pressing dan transisi yang masih menjadi identitas permainan.
Bagi Freiburg, sejarah tidak berpihak kepada mereka. Mereka hanya sekali menang atas Bayern dalam 46 pertemuan liga terakhir, dan baru sekali memulai musim dengan empat kemenangan kandang beruntun (musim 2016/17 di bawah Christian Streich). Tetapi catatan itu justru menjadi motivasi tambahan. Jika Suzuki, Eggestein, dan Matanović tampil on fire, bukan mustahil Freiburg menciptakan kejutan yang akan mengguncang peta persaingan gelar.
Pertanyaannya, apakah Bayern mampu membuktikan bahwa kemenangan atas Leipzig adalah awal kebangkitan, atau justru Freiburg yang akan menegaskan bahwa Europa-Park Stadion adalah benteng terakhir yang belum terjamah? Jawabannya akan terlihat dalam 90 menit di Breisgau, sebelum bayang-bayang Der Klassiker benar-benar menghantui.



