Stuttgart Tak Terkalahkan di Liga Champions, Sinyal Kejutan dari Jerman
Baca dalam 60 detik
- VfB Stuttgart mencatat tujuh poin dari tiga laga Liga Champions dan belum terkalahkan, meski di Bundesliga terpuruk di peringkat 13.
- Hasil imbang 1-1 melawan Atlético Madrid dianggap sebagai kemunduran karena Die Schwaben mendominasi permainan dan bermain dengan keunggulan jumlah pemain.
- Pelatih Sebastian Hoeneß menegaskan timnya mampu bersaing dengan klub elite Eropa, tetapi tantangan berikutnya adalah konsistensi di kompetisi domestik.

VfB Stuttgart membuktikan bahwa penampilan impresif di Liga Champions bukanlah kebetulan. Meski baru mengumpulkan tujuh poin dari tiga pertandingan dan belum terkalahkan, hasil imbang 1-1 melawan Atlético Madrid pada matchday ketiga justru meninggalkan rasa kecewa — sebuah indikasi bahwa ekspektasi di klub asal Jerman selatan itu telah berubah secara signifikan.
Di pentas domestik, Stuttgart memang tengah terpuruk. Kekalahan 0-1 dari Hamburg pada matchday keenam Bundesliga menjadi kekalahan keempat mereka musim ini, angka yang sudah menyamai separuh total kekalahan sepanjang musim lalu. Posisi mereka di klasemen sementara melorot ke peringkat 13. Namun, di Eropa, anak asuh Sebastian Hoeneß tampil bak tim yang berbeda: agresif, terorganisir, dan percaya diri.
Perjalanan di Liga Champions diawali dengan kemenangan 3-1 atas Viking, di mana Ermedin Demirović mencetak hat-trick. Kemenangan meyakinkan 3-0 atas Slovan Bratislava menyusul, memperlihatkan kualitas lini serang yang tajam. Dua lawan tersebut mungkin tidak selevel Atlético, tetapi tetap merupakan ujian awal yang layak.
Menghadapi Atlético — semifinalis Liga Champions 2025/26 dan langganan kompetisi elite Eropa — Stuttgart tidak gentar. Kiper Jan Oblak dipaksa bekerja keras sejak menit pertama, dan Jamie Leweling membuka keunggulan pada menit ke-36. Bahkan, kiper muda Dennis Seimen mencatat debut Liga Champions sebagai penjaga gawang termuda klub di kompetisi ini. Sayangnya, keunggulan itu sirna setelah Julian Alvarez menyamakan kedudukan tak lama setelah jeda. Stuttgart kemudian mendapat peluang emas ketika Martin Hjulmand diusir wasit karena pelanggaran keras terhadap Angelo Stiller, tetapi hingga peluit panjang, skor tetap 1-1.
Kekecewaan pasca-laga justru menunjukkan mentalitas baru di ruang ganti. Pelatih Hoeneß menyatakan timnya pantas berbangga atas performa, tetapi juga mengakui ada rasa kecewa karena hasil bisa lebih baik. "Kami hanya kurang gol kemenangan melawan tim top Eropa. Itu menunjukkan betapa bagusnya penampilan kami," ujarnya seperti dikutip dari laman resmi Bundesliga. Senada, Leweling menambahkan bahwa sebelum pertandingan, hasil imbang mungkin sudah diterima, tetapi setelah pertandingan, ada perasaan bahwa Stuttgart bisa meraih lebih.
Konsistensi menjadi pekerjaan rumah berikutnya. Stuttgart akan menjamu Borussia Mönchengladbach pada Jumat mendatang dalam lanjutan Bundesliga. Jika mampu menerjemahkan performa Eropa ke kompetisi domestik, bukan tidak mungkin posisi mereka di klasemen akan membaik. Di Liga Champions, Stuttgart tampak nyaman dan memiliki potensi untuk melangkah lebih jauh daripada dua tahun lalu, ketika mereka gagal menembus 24 besar.
Pertanyaannya, apakah Stuttgart mampu menjaga momentum ini dan menjelma sebagai kuda hitam yang sesungguhnya? Ataukah performa di Eropa hanya ilusi sementara di tengah keterpurukan domestik? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



