Kopi, Tomat, dan Mikroplastik: Tiga Temuan Terbaru soal Kesehatan Hati
Baca dalam 60 detik
- Studi pada 355.000 orang Inggris menemukan konsumsi kopi minimal lima cangkir sehari menurunkan risiko sirosis hingga 32% dan kanker hati hampir 50%.
- Penelitian kecil pada penderita MASLD menunjukkan tomat dapat mengurangi lemak hati, tetapi belum terbukti memperbaiki peradangan atau fibrosis.
- Paparan mikroplastik polietilen pada tikus memperburuk kerusakan hati, memicu kekhawatiran tentang dampak kemasan plastik pada manusia.

Kabar baik bagi para pencinta kopi: sebuah studi besar yang dipublikasikan di Clinical Gastroenterology and Hepatology pada Juli lalu menemukan bahwa konsumsi kopi setiap hari berkaitan dengan risiko sirosis dan kanker hati yang jauh lebih rendah. Temuan ini memperkuat bukti yang berkembang bahwa minuman sehari-hari bisa berdampak signifikan pada organ yang selama ini jarang disorot: hati.
Penelitian tersebut menganalisis data lebih dari 355.000 orang dewasa dari U.K. Biobank selama rata-rata 13 tahun. Semua peserta bebas dari sirosis dan kanker hati pada awal studi. Hasilnya, mereka yang mengonsumsi lima cangkir kopi atau lebih per hari memiliki risiko sirosis 32% lebih rendah dan risiko kanker hati hampir 50% lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak minum kopi.
Hyunseok Kim, dokter spesialis hepatologi transplantasi di Cedars-Sinai Medical Center, California, yang menjadi salah satu penulis studi, menegaskan bahwa hubungan dosis-respons terlihat jelas. โSemakin banyak asupan kopi, semakin rendah risiko sirosis, kanker hati, dan kematian terkait hati,โ ujarnya seperti dikutip Medical News Today. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa studi observasional tidak membuktikan sebab-akibat, melainkan menunjukkan kaitan erat yang konsisten.
Sementara itu, bagi penderita metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) โ kondisi perlemakan hati yang terkait dengan sindrom metabolik โ konsumsi tomat rutin mungkin memberi angin segar. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nutrients pada Juli melibatkan 79 orang dewasa dengan MASLD. Kelompok kontrol menjalani diet tanpa tomat, sedangkan kelompok lain mengonsumsi 200 gram tomat mentah dan 50 gram saus tomat setiap hari selama enam minggu.
Kedua kelompok memang mengalami penurunan lemak hati, tetapi kelompok yang mengonsumsi tomat menunjukkan penurunan paling besar. Namun, Randa Abdelmasih, spesialis endokrinologi dan obesitas dari University of Texas Medical Branch, yang tidak terlibat dalam studi, memberikan catatan penting. โStudi ini menunjukkan perbaikan lemak hati, tetapi tidak ada perbaikan signifikan pada kekakuan hati, skor fibrosis, enzim hati, resistensi insulin, penanda inflamasi, profil lipid, atau komposisi tubuh,โ ujarnya. โJadi, meskipun temuan pencitraan menarik, kita belum bisa menyimpulkan bahwa konsumsi tomat secara bermakna mengubah progresi penyakit atau memperbaiki luaran klinis.โ
Di sisi lain, kekhawatiran justru muncul dari paparan mikroplastik. Sebuah studi pada tikus yang dipublikasikan di Science Advances pada Juni menemukan bahwa polietilen โ sumber utama mikroplastik โ dapat meningkatkan risiko kerusakan hati atau memperburuk kondisi hati yang sudah ada. Peneliti menguji efek polietilen pada tikus yang diberi diet kontrol atau diet yang dirancang untuk menginduksi metabolic dysfunction-associated steatohepatitis (MASH), jenis penyakit hati yang lebih parah.
Hasilnya, paparan polietilen menyebabkan masalah hati pada kedua kelompok, dan memperburuk cedera hati pada tikus dengan diet MASH. Opel Baker, dokter umum di Mayfield Clinic, yang tidak terlibat dalam studi, berkomentar, โTemuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik polietilen dapat memengaruhi metabolisme hati dan berpotensi berkontribusi pada perubahan hati berlemak pada tikus, tetapi kita tidak bisa mengasumsikan efek yang sama terjadi pada manusia.โ Ia menambahkan bahwa penelitian pada manusia masih sangat dibutuhkan sebelum menyimpulkan mikroplastik sebagai penyebab penyakit hati berlemak.
Ketiga temuan ini menawarkan perspektif beragam: dari potensi manfaat kopi dan tomat hingga risiko yang mungkin timbul dari paparan plastik sehari-hari. Bagi Indonesia, di mana prevalensi penyakit hati berlemak terus meningkat seiring lonjakan obesitas dan diabetes, edukasi tentang pola makan dan pengurangan paparan mikroplastik menjadi semakin relevan. Pertanyaannya, seberapa siap sistem kesehatan kita mengintegrasikan temuan ini ke dalam panduan gaya hidup? Dan apakah regulasi kemasan pangan akan menyesuaikan diri dengan bukti yang terus berkembang?



