Persik Kediri Bangun Tembok Baru: Duo Menara Asing Bikin Gawang Macan Putih Nyaris Tak Terbobol
Baca dalam 60 detik
- Persik Kediri hanya kemasukan tiga gol dalam lima laga BRI Super League 2026/2027, catatan terbaik di kompetisi.
- Duo bek tengah Marcelo Djalo (Spanyol) dan Park Jun-heong (Korea Selatan) menjadi kunci soliditas lini belakang berkat postur menjulang dan pengalaman di liga Asia Tenggara.
- Konsistensi pertahanan ini akan diuji menghadapi rangkaian laga padat; jika bertahan, Persik berpeluang besar bersaing di papan atas.

Persik Kediri mencatat start terbaik dalam beberapa musim terakhir. Setelah lima pekan BRI Super League 2026/2027, gawang Macan Putih baru kebobolan tiga kali โ menjadikan mereka tim paling minim kemasukan di kompetisi. Catatan ini kontras dengan tiga musim sebelumnya ketika lini belakang Persik kerap menjadi titik lemah yang mudah dieksploitasi lawan.
Transformasi itu tak lepas dari kehadiran dua bek tengah asing, Marcelo Djalo dan Park Jun-heong. Meski baru dipasangkan musim ini, keduanya tampak memiliki chemistry yang matang. Kombinasi pemain asal Spanyol dan Korea Selatan tersebut menjelma tembok kokoh di jantung pertahanan, membuat lawan sulit menembus kotak penalti.
Postur tubuh keduanya menjadi senjata utama. Djalo dan Park bagaikan menara kembar yang menjulang di area pertahanan. Namun, tinggi badan bukan satu-satunya modal. Keduanya relatif cepat dan lincah dalam menyapu bola, sehingga mampu mengantisipasi serangan lawan yang mengandalkan kecepatan. Kaki panjang mereka juga memudahkan tackling untuk merebut bola dari penguasaan pemain lawan, seperti yang ditunjukkan Djalo saat merebut bola dari Balsa Sekulic di kotak penalti pada laga sebelumnya.
Yang menarik, baik Djalo maupun Park memiliki karakter tenang di lapangan. Mereka tidak mudah terpancing emosi saat terjadi friksi dengan lawan. Seringkali mereka hanya tersenyum ketika terlibat benturan. Kematangan itu tak lepas dari usia mereka yang sudah 33 tahun. Pengalaman bertanding di level Asia Tenggara membuat keduanya paham betul ritme dan karakter permainan di kawasan ini.
Djalo menghabiskan dua musim terakhir di Liga Thailand bersama Buriram United dan Uthai Thani. Sementara Park Jun-heong musim lalu memperkuat klub elit Malaysia, Johor Darul Ta'zim, setelah sebelumnya membela Ratchaburi FC di Thailand pada 2022/2023. Latar belakang tersebut mempercepat adaptasi mereka dengan gaya sepak bola Indonesia yang mengandalkan fisik dan kecepatan.
Bagi Persik, rekrutan ini terbilang tepat sasaran. Manajemen klub berhasil menemukan pemain yang tidak hanya tangguh secara individual, tetapi juga mampu berkolaborasi dalam sistem pertahanan yang diterapkan pelatih Marcos Reina. Soliditas lini belakang menjadi fondasi penting untuk meraih hasil positif, terutama saat menghadapi tim-tim besar yang memiliki lini serang tajam.
Ke depan, tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi. Jadwal padat dan potensi cedera bisa menguji kedalaman skuad. Jika Djalo dan Park tetap bugar, bukan tidak mungkin Persik menjadi kandidat kuat penghuni papan atas. Namun, jika salah satu absen, stabilitas pertahanan bisa goyah. Mampukah Macan Putih mempertahankan rekor impresif ini hingga akhir musim?



