Menteri Kesehatan Inggris Prioritaskan Akhiri Perawatan Anak di Lorong Rumah Sakit
Baca dalam 60 detik
- Yvette Cooper memerintahkan NHS England menyusun rencana darurat menghapus praktik perawatan di lorong untuk pasien anak.
- Lebih dari 50.000 orang menunggu lebih dari 12 jam di unit gawat darurat Inggris pada September, memicu kemarahan publik.
- Pemerintah mengalokasikan £140 juta untuk kapasitas perawatan mendesak, tetapi serikat perawat menilai itu sekadar tambalan.

Menteri Kesehatan Inggris Yvette Cooper menetapkan prioritas baru: mengakhiri praktik perawatan anak di lorong rumah sakit (corridor care) yang dinilainya tak bisa ditoleransi. Dalam wawancara dengan BBC, Cooper mengungkapkan telah meminta NHS England menyusun rencana mendesak untuk menghapus praktik tersebut dan menetapkan standar baru penanganan anak di unit gawat darurat (A&E).
Langkah ini muncul setelah 16 organisasi kesehatan—termasuk Age UK, Marie Curie, dan Royal College of Nursing (RCN)—melayangkan surat terbuka yang mendesak tindakan tegas. Mereka menyebut perawatan di lorong bertentangan secara fundamental dengan standar layanan NHS dan hanya bisa dihilangkan melalui aksi lintas sistem. Desakan itu menemukan momentumnya dalam kisah tragis Finlay Roberts, balita dua tahun yang meninggal pada 2024 setelah jam-jam terakhirnya dihabiskan di lorong A&E yang penuh sesak.
Data NHS menunjukkan beban yang kian berat. Pada September, jumlah pasien yang menunggu lebih dari 12 jam di A&E—dihitung dari keputusan untuk dirawat inap hingga benar-benar mendapat tempat tidur—mencapai 50.582 orang, naik dari 44.951 pada Agustus. Angka ini menjadi salah satu indikator paling gamblang dari krisis kapasitas yang melanda layanan kesehatan Inggris.
Cooper menyatakan data pengumpulan akan diubah untuk memasukkan jumlah anak dalam statistik, agar persoalan ini lebih terlihat. "Kesehatan anak harus menjadi prioritas yang jauh lebih besar bagi NHS," tegasnya. Pemerintah menargetkan penghapusan perawatan lorong secara lebih luas pada akhir masa parlemen ini. Namun, ujian sesungguhnya adalah musim dingin yang di depan mata. Setelah musim panas terpanas yang memicu rekor kunjungan, NHS menghadapi tekanan ganda: gelombang penyakit musiman dan kapasitas yang belum pulih.
"Tidak ada anak yang boleh dirawat di lorong. Tidak ada pasien yang boleh dirawat di lorong," ujar Cooper, seraya menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua Finlay mewakili NHS.
Kisah Finlay menjadi simbol getir dari krisis ini. Ayahnya, David Roberts, mengenang bagaimana putranya sempat dipindahkan ke ruangan dengan tempat tidur, namun tak lama kemudian dikembalikan ke lorong. "Dia hanya memeluk saya, sementara kami sekarang tahu, perlahan meninggal," tuturnya. Ibunya, Liz Roberts, menyebut perawatan lorong "merampas martabat seseorang saat mereka paling rentan", dan mengenang saat ia diminta memberikan supositoria kepada Finlay di lorong karena tak ada pilihan lain. Whittington Health NHS Trust, yang mengelola rumah sakit tempat kejadian, menyampaikan belasungkawa dan mengakui bahwa lonjakan permintaan ekstrem membuat sebagian pasien terpaksa dirawat di area sementara, termasuk lorong.
Pemerintah telah mengumumkan tambahan dana £140 juta untuk meningkatkan kapasitas perawatan mendesak, yang akan dialokasikan ke 14 skema di seluruh Inggris, mencakup pusat perawatan mendesak baru, penambahan armada ambulans, dan peningkatan unit gawat darurat. Cooper menegaskan langkah ini bagian dari persiapan dini menghadapi musim dingin. Namun, kritik datang dari dalam sistem sendiri. Direktur Eksekutif RCN England, Patricia Marquis, menyambut dana tersebut untuk jangka pendek, tetapi menyebutnya "sekadar tambalan pada sistem yang sudah di titik kritis". Ia mengingatkan bahwa tenaga keperawatan sudah kelelahan dan kekurangan staf sebelum musim dingin tiba.
Bayangan krisis yang lebih luas juga terlihat dari daftar tunggu perawatan rutin yang naik dua bulan berturut-turut. Hingga akhir Agustus, sekitar 7,37 juta tindakan medis menunggu untuk dilakukan, melibatkan 6,24 juta pasien—angka tertinggi sejak Oktober 2025. Kondisi ini memunculkan keraguan apakah NHS mampu memenuhi target pemerintah untuk menangani 92% pasien dalam 18 minggu pada 2029. Think tank kesehatan King's Fund memperingatkan adanya "krisis kembar" yang menghadang musim dingin, dengan jeda antarperiode puncak yang terlalu singkat bagi staf dan sistem untuk pulih.
Di tengah tekanan itu, NHS mengimbau masyarakat yang memenuhi syarat untuk segera mendapatkan vaksinasi flu. Direktur Medis NHS, Prof Frankie Swords, menyebut tanda-tanda awal musim dingin sudah "mengkhawatirkan", dengan lebih banyak pasien datang ke A&E karena flu dan virus pernapasan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. "Sayangnya, orang-orang masih menunggu lebih lama dari yang kami inginkan," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin bagaimana sistem kesehatan dengan sumber daya terbatas—atau yang tengah menghadapi lonjakan permintaan—kerap terjebak pada solusi jangka pendek. Kebijakan yang menempatkan kesehatan anak sebagai prioritas, serta transparansi data yang memecah kelompok rentan, bisa menjadi pelajaran berharga. Pertanyaannya, akankah janji politik di Inggris berujung pada perbaikan struktural, atau hanya menjadi retorika musiman yang menguap bersama redanya tekanan?



