Kasus Demensia Global Diproyeksi Naik 116% pada 2050, Perempuan dan Negara Berkembang Paling Rentan
Baca dalam 60 detik
- Insiden demensia tahunan diprediksi melonjak dari 11,4 juta (2023) menjadi 24,7 juta pada 2050, dengan total penderita global berpotensi menembus 150 juta jiwa.
- Perempuan mencatat angka kejadian lebih tinggi (10,6 per 1.000 orang-tahun) dibanding pria (8,6), sementara negara berpendapatan rendah-menengah mencapai 13,6 per 1.000 orang-tahun.
- Perbedaan ini menuntut strategi pencegahan spesifik gender dan penguatan layanan kesehatan di wilayah yang selama ini kurang terwakili dalam riset demensia.

Jumlah kasus demensia baru di seluruh dunia diproyeksikan melonjak lebih dari dua kali lipat pada 2050, dari sekitar 11,4 juta kasus per tahun pada 2023 menjadi 24,7 juta kasus per tahun—kenaikan 116% dalam kurun 27 tahun. Proyeksi ini berasal dari studi yang diterbitkan di JAMA Neurology edisi Oktober, yang menganalisis data dari 22 penelitian dengan total 38.418 partisipan di 18 negara atau wilayah.
Studi tersebut menghitung insiden demensia sebesar 9,7 kasus baru per 1.000 orang-tahun setelah memperhitungkan perbedaan usia dan jenis kelamin. Angka ini mengasumsikan laju kejadian yang stabil setiap tahun, dengan populasi yang menua menjadi pendorong utama lonjakan kasus. Temuan ini juga mengungkap disparitas signifikan: perempuan dan penduduk di negara berpendapatan rendah-menengah (LMICs) menghadapi risiko yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya.
Penulis utama studi, Ashleigh Vella, PhD, dari Centre for Healthy Brain Aging (CHeBA), UNSW Sydney, menekankan bahwa untuk pertama kalinya perbandingan insiden demensia dapat dilakukan lintas populasi yang beragam secara geografis dengan pendekatan statistik yang sama. "Memahami perbedaan ini sangat penting untuk mengembangkan strategi pencegahan, diagnosis, dan perawatan demensia yang menjawab kebutuhan populasi dengan risiko terbesar," ujarnya dalam siaran pers.
Perbedaan insiden antara perempuan dan pria tidak sepenuhnya mengejutkan bagi Emer MacSweeney, MBBS, konsultan neuroradiolog dan CEO Re:Cognition Health, yang tidak terlibat dalam studi. "Perempuan memiliki beban demensia seumur hidup yang lebih tinggi, tetapi harapan hidup yang lebih panjang tidak serta-merta menjelaskan semuanya," katanya kepada Medical News Today. Ia menambahkan bahwa faktor spesifik jenis kelamin seperti menopause dan paparan estrogen mungkin berperan, meski belum dapat dipastikan.
"Ini adalah panggilan bangun untuk mempercepat pencegahan, diagnosis, dan pengobatan. Kita tidak bisa menganggapnya sebagai konsekuensi aging yang tak terhindarkan," tegas MacSweeney.
Yang lebih mencolok, kesenjangan antara negara berpendapatan rendah-menengah dan tinggi mencapai 5,3 poin per 1.000 orang-tahun. Namun, studi ini hanya mencakup 6 negara LMICs dari total 18 negara, sehingga kurang representatif. MacSweeney menyoroti peran kesehatan kardiovaskular: hipertensi, diabetes, obesitas, dan merokok memengaruhi otak, sementara akses ke layanan pencegahan sangat bervariasi antarwilayah. "Temuan ini tidak membuktikan bahwa faktor-faktor tersebut sepenuhnya menjelaskan perbedaan," tambahnya.
Bagi Indonesia, implikasi temuan ini sangat relevan. Sebagai negara berpendapatan menengah dengan populasi menua yang cepat, Indonesia diperkirakan menghadapi lonjakan kasus demensia dalam dua dekade mendatang. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi demensia pada lansia sekitar 1,2 juta jiwa, namun angka riil diduga lebih tinggi karena underdiagnosis. Keterbatasan akses ke layanan neurologi dan kesadaran masyarakat yang rendah menjadi tantangan utama. Tanpa intervensi sistematis—seperti pengendalian hipertensi dan diabetes yang masif, serta kampanye gaya hidup sehat—Indonesia berpotensi menanggung beban sosial-ekonomi yang berat, mulai dari biaya perawatan jangka panjang hingga hilangnya produktivitas keluarga.
Studi ini merekomendasikan prioritas pada faktor risiko spesifik jenis kelamin dan penguatan sistem kesehatan di negara berkembang. Namun, MacSweeney mengingatkan bahwa hingga kini belum ada rekomendasi strategi pencegahan yang sepenuhnya terpisah untuk perempuan. "Untuk semua orang, hal mendasar tetap penting: kendalikan tekanan darah dan kolesterol, rutin berolahraga, jangan merokok, makan bergizi, kelola diabetes, lindungi pendengaran dan penglihatan, serta jaga koneksi sosial," paparnya. Langkah-langkah ini, meski tidak menghilangkan risiko, dapat mendukung kesehatan otak.
Dengan proyeksi yang ada, pertanyaannya bukan lagi apakah lonjakan akan terjadi, melainkan seberapa siap sistem kesehatan global—termasuk Indonesia—menghadapinya. Investasi pada deteksi dini, riset yang lebih inklusif, dan program pencegahan yang menyasar kelompok rentan menjadi kunci untuk mengubah lintasan demensia di masa depan.



