Ekspedisi Purdue Bawa Pulang Tangan Kosong: 'Puing Pesawat' Amelia Earhart Ternyata Tumpukan Pohon
Baca dalam 60 detik
- Tim ekspedisi 17 orang dari Purdue University memastikan objek putih di perairan Nikumaroro bukan bangkai Lockheed Electra, melainkan kayu dan karang yang terlapisi.
- Misteri hilangnya Amelia Earhart pada 1937 kembali menemui jalan buntu setelah hipotesis pendaratan darurat di atol Kiribati itu gugur.
- Pertanyaan besar kini beralih ke metode arkeologi bawah laut yang lebih presisi, bukan sekadar interpretasi citra satelit.

Harapan untuk memecahkan salah satu teka-teki penerbangan paling terkenal abad ke-20 kembali pupus. Ekspedisi yang didukung Purdue University memastikan bahwa objek yang sempat dikira bagian dari pesawat Amelia Earhart di perairan Nikumaroro, Kiribati, hanyalah kumpulan pohon besar yang terdampar di ujung pasir semenanjung Taraia.
Tim yang terdiri dari 17 orang itu menghabiskan berhari-hari menyeberangi Samudra Pasifik, melewati terumbu karang, dan mendirikan tenda di atol tak berpenghuni tersebut. Mereka melakukan riset selama empat hari, termasuk pemindaian logam, setelah citra satelit 2020 menunjukkan benda putih memanjang di perairan dangkal. Namun, konfirmasi Purdue pada Senin (19/10) menutup spekulasi: yang terlihat sebagai kilau logam itu adalah lapisan karbonat alami, bukan badan pesawat.
“Sayangnya, kami tidak menemukan bukti yang selama ini dicari,” ujar Steve Schultz dari Purdue University, dikutip dari lokasi ekspedisi. Pernyataan itu menandai berakhirnya babak baru dalam pencarian yang sudah berlangsung hampir sembilan dekade.
Penemuan ini bukan kali pertama ekspedisi ke Nikumaroro berakhir tanpa hasil. Sebelumnya, tim lain mengklaim menemukan tanda-tanda kamp korban terdampar, sepatu wanita era 1930-an, hingga pecahan botol krim kosmetik. Semua petunjuk itu memperkuat dugaan bahwa Earhart dan navigatornya, Fred Noonan, pernah singgah di atol tersebut setelah pesawat Lockheed Electra 10-E mereka kehabisan bahan bakar. Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar mengonfirmasi lokasi akhir penerbang legendaris itu.
Richard Pettigrew, kepala Archaeological Legacy Institute, sempat menjadi salah satu pihak yang paling vokal mendorong ekspedisi ini. Ia menemukan rekaman video udara yang menunjukkan kilau di air, yang kemudian ia yakini sebagai indikasi keberadaan logam. Keyakinan itu ternyata tidak terbukti. Bagi sebagian peneliti, kasus ini menjadi pelajaran tentang betapa mudahnya interpretasi visual di lingkungan laut menyesatkan, terutama ketika objek telah tertutup endapan karang dan pasir selama puluhan tahun.
“Meski ini mengecewakan banyak pihak, termasuk kami, misi ini menambah babak baru dalam upaya mencari jawaban atas misteri Earhart,” demikian pernyataan Purdue University.
Purdue bukan lembaga sembarangan dalam kisah Earhart. Universitas di Indiana itu adalah tempat ia pernah mengajar dan membimbing calon pilot wanita, sekaligus salah satu pendukung pendanaan bagi modifikasi pesawat Lockheed Electra yang ia juluki “laboratorium terbang”. Keterlibatan Purdue membuat ekspedisi ini memiliki bobot emosional tersendiri, meski hasilnya harus diterima sebagai bagian dari proses ilmiah yang panjang.
Di sisi lain, kegagalan ini menambah daftar hipotesis yang telah gugur. Teori bahwa Earhart ditangkap pasukan Jepang, atau bahwa ia selamat dan hidup dengan identitas lain, sama-sama belum memiliki bukti konklusif. Yang tersisa hanyalah serangkaian petunjuk fragmen yang terus memicu perdebatan di kalangan sejarawan dan arkeolog.
Bagi Indonesia, kisah Earhart sebenarnya bukan sekadar nostalgia penerbangan. Kawasan Pasifik yang menjadi lokasi pencarian beririsan dengan jalur pelayaran dan penerbangan yang menghubungkan Asia Tenggara dengan Amerika Serikat. Ketika ekspedisi semacam ini gagal, perhatian publik internasional terhadap kawasan Pasifik justru meningkat, termasuk pada isu konservasi terumbu karang dan pengelolaan situs warisan di negara-negara kepulauan seperti Kiribati. Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki kepentingan strategis untuk memastikan narasi arkeologi maritim di kawasan tidak didominasi oleh ekspedisi asing semata.
Ke depan, para peneliti kemungkinan akan beralih dari pendekatan visual berbasis satelit ke metode survei bawah laut yang lebih presisi, seperti sonar pemindaian dan analisis kimia sedimen. Pertanyaannya, apakah teknologi yang lebih canggih akan cukup untuk mengungkap kebenaran yang telah tertimbun hampir satu abad, ataukah misteri Earhart akan tetap menjadi teka-teki abadi yang justru membuat namanya terus dikenang?



