Studi: Narasi Kiamat Bikin Publik Lumpuh, Bukan Bergerak
Baca dalam 60 detik
- Riset lintas negara menemukan pesan iklim bernada horor justru menurunkan partisipasi nyata meski paling banyak dibagikan di media sosial.
- Kegagalan komunikasi krisis berakar pada bias negatif media dan psikologi ketakutan yang hanya efektif sekali pakai.
- Pendekatan berbasis konsensus ilmiah dan harapan dinilai lebih ampuh menggerakkan aksi kolektif menghadapi ancaman global.

Kampanye iklim yang gemar menakut-nakuti publik dengan gambaran kiamat ternyata tidak mendorong tindakan nyata. Sebuah eksperimen berskala besar yang melibatkan 59.440 responden di 63 negara menemukan bahwa pesan bernada malapetaka justru menjadi pemicu terburuk bagi partisipasi warga dalam aksi mitigasi, seperti menanam pohon atau mendukung kebijakan iklim.
Temuan itu dipublikasikan oleh Jay Van Bavel, guru besar psikologi dan ilmu saraf di New York University, yang meneliti efektivitas berbagai jenis pesan perubahan iklim. Ia dan timnya menguji 11 variasi pesan, mulai dari penekanan konsensus ilmuwan, norma sosial, dampak regional, hingga narasi serba suram tentang masa depan. Hasilnya konsisten: pesan yang menakutkan memang paling laris dibagikan di internet, tetapi paling gagal memicu tindakan sukarela.
Fenomena ini bukan hal baru. Van Bavel merujuk pada "Jam Kiamat" yang dibuat Bulletin of the Atomic Scientists pada 1947. Jarum jam itu terus dimajukan setiap kali dunia mendekati bencana, dan kini berada di 85 detik menuju tengah malam. Meski demikian, ia menilai komunikasi krisis semacam itu hanya efektif untuk membangunkan publik, bukan untuk menggerakkan mereka secara berkelanjutan.
Menurut Van Bavel, akar masalahnya terletak pada cara kerja psikologi manusia. Pesan yang membangkitkan rasa takut memang bisa memicu tindakan, tetapi biasanya hanya sekali dan itupun jika disertai keyakinan bahwa perubahan masih mungkin dilakukan. Jika publik terus dibombardir cerita mengerikan tanpa jalan keluar, mereka cenderung mengabaikannya. "Seperti anak yang berteriak serigala, penyampai pesan itu akan cepat diabaikan," tulisnya.
Ia juga menyoroti ekosistem informasi modern yang memperkuat bias negatif. Prinsip lama jurnalisme "if it bleeds, it leads" atau "yang berdarah, yang memimpin" kini mendominasi laman berita dan media sosial. Analisis terhadap 22.743 eksperimen judul di situs Upworthy.com menunjukkan bahwa setiap tambahan kata negatif meningkatkan jumlah klik. Artinya, media punya insentif untuk terus menyajikan berita buruk, meski dampaknya melemahkan aksi kolektif.
"Jika kita ingin memotivasi orang menghadapi ancaman yang mengerikan, kita harus memberi mereka alasan untuk berharap. Tanpa itu, kita hanya akan menggulir layar keputusasaan sementara dunia terbakar," tulis Van Bavel.
Sebagai alternatif, ia menawarkan pendekatan yang lebih membumi. Pesan yang menekankan konsensus ilmiah, misalnya dengan menyebut bahwa 99% ilmuwan iklim sepakat tentang pemanasan global akibat aktivitas manusia, terbukti lebih efektif pada hampir semua indikator, kecuali untuk dibagikan di media sosial. Selain itu, riset mahasiswa doktoralnya, Danielle Goldwert, menemukan bahwa menjelaskan manfaat emosional dari aksi iklim, seperti rasa harapan dan koneksi sosial, secara signifikan meningkatkan partisipasi politik, advokasi, donasi, hingga perubahan gaya hidup.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan mengingat kerentanan wilayah pesisir dan sektor pertanian terhadap krisis iklim. Kampanye lingkungan di dalam negeri kerap mengandalkan foto-foto bencana dan proyeksi suram untuk membangun kesadaran. Namun, jika pola global ini berlaku, pendekatan tersebut berisiko menuai apatisme. Alih-alih terus menebar ketakutan, organisasi masyarakat sipil dan pemerintah perlu merancang pesan yang memberdayakan, misalnya dengan menunjukkan keberhasilan program adaptasi atau peluang ekonomi dari transisi energi.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah media dan aktivis sanggup mengubah cara berkomunikasi. Van Bavel menegaskan bahwa fakta tentang krisis iklim tetap harus disampaikan, tetapi caranya tidak perlu membuat publik merasa tidak berdaya. "Kita perlu mengambil pendekatan yang berlawanan: memberi alasan untuk berharap," ujarnya. Tanpa pergeseran strategi, gelombang keputusasaan hanya akan menghasilkan inaction di tengah ancaman yang semakin nyata.



