Kevin Diks Ingin Duet dengan Jay Idzes di Klub, Tapi Harga Transfer Jadi Tembok
Baca dalam 60 detik
- Kevin Diks mengungkapkan keinginan bermain satu klub dengan Jay Idzes, namun terkendala mahalnya biaya transfer.
- Nilai pasar Diks sekitar Rp87 miliar, sementara Idzes mencapai Rp243 miliar, membuat klub harus merogoh kocek dalam.
- Diks nyaman di Bundesliga bersama Gladbach dan berharap lebih banyak pemain Indonesia menyusul ke Jerman.

Keinginan Kevin Diks untuk berduet dengan Jay Idzes di level klub terhalang oleh realitas pasar transfer yang tidak murah. Bek Borussia Mönchengladbach itu mengaku telah berbicara dengan kapten timnas Indonesia tersebut, tetapi menyadari bahwa mewujudkannya butuh keajaiban finansial.
Dalam sesi media roundtable yang digelar Bundesliga, Rabu (14/10/2026), Diks mengungkapkan bahwa obrolan dengan Idzes sudah terjadi sejak tahun lalu. "Bagaimana luar biasa jika saya bisa bermain bersama Jay. Tapi tentu saja itu sangat sulit," ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi Bundesliga.
Sejak resmi menjadi Warga Negara Indonesia, duet Diks dan Idzes memang nyaris tak tergantikan di jantung pertahanan Garuda. Idzes dipercaya sebagai kapten utama, sementara Diks beberapa kali mengambil alih ban kapten ketika rekannya itu absen. Puncaknya, Diks memimpin Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 saat Idzes harus menepi karena cedera.
Namun, chemistry yang terbangun di level internasional tidak serta-merta bisa dipindahkan ke ranah klub. Menurut data Transfermarkt, nilai pasar Diks saat ini berada di kisaran lima juta euro atau setara Rp87 miliar. Sementara Idzes jauh lebih mahal, yakni 14 juta euro atau sekitar Rp243 miliar. Totalnya, klub yang ingin menyatukan keduanya harus menyiapkan dana tak kurang dari Rp330 miliar.
Angka tersebut menjadi tembok tebal bagi klub mana pun yang berminat. Butuh negosiasi panjang atau situasi khusus—misalnya kontrak yang tersisa singkat—agar transfer semacam ini bisa terealisasi. Terlebih lagi, baik Diks maupun Idzes saat ini merupakan pemain kunci di klub masing-masing.
Diks sendiri mengaku betah di Bundesliga. Sejak bergabung dengan Gladbach pada 2025, ia langsung menjadi pilar di lini belakang. Fleksibilitasnya sebagai bek sayap maupun bek tengah membuatnya kerap dipercaya mengawal pertahanan Die Fohlen. Dari 39 pertandingan yang telah dilakoninya, lima gol telah ia sumbangkan, semuanya di ajang Bundesliga.
"Saya pikir banyak pemain timnas Indonesia layak bermain di Bundesliga. Tapi dengan keadaan, transfer, dan segalanya, sepak bola itu sulit. Tidak seperti Anda bisa pergi ke sembarang klub," kata Diks.
Harapan Diks agar lebih banyak pemain Indonesia menyusul ke Jerman patut dicermati. Bundesliga memang dikenal sebagai liga yang ramah bagi pemain Asia, dengan biaya hidup dan kompetisi yang menantang. Namun, jalur menuju sana tidak semudah membalikkan telapak tangan. Faktor transfer, kuota pemain asing, dan kebutuhan klub menjadi penentu.
Jika melihat peta kekuatan timnas saat ini, kehadiran pemain-pemain berkiprah di Eropa menjadi keniscayaan. Duet Diks-Idzes di level klub, meski tampak utopis, bisa menjadi katalis peningkatan kualitas sepak bola Indonesia. Klub-klub Eropa mungkin mulai melirik pasar Asia Tenggara, tetapi tetap dengan perhitungan bisnis yang matang.
Pertanyaannya, akankah ada klub yang berani menebus mahalnya harga duet ini? Atau justru kolaborasi mereka hanya akan abadi di seragam Merah Putih?



