Vivo V80 Resmi: Kamera Zeiss 50MP dan AI Foto, Tantang Pasar Menengah
Baca dalam 60 detik
- Vivo V80 meluncur dengan kamera utama 50MP Zeiss, telephoto 3x, dan baterai jumbo 7.200mAh.
- Fitur AI generatif memungkinkan pengguna mengubah pencahayaan hingga memperluas bingkai foto secara instan.
- Ponsel ini akan dipasarkan di India, Asia Tenggara, dan Timur Tengah, namun harga dan ketersediaan global belum diumumkan.

Vivo secara resmi memperkenalkan V80, penerus lini V-series yang menyasar segmen menengah dengan mengandalkan kemitraan Zeiss dan sederet fitur fotografi berbasis kecerdasan buatan. Peluncuran ini menandai langkah agresif Vivo memperkuat posisinya di pasar ponsel kamera, segmen yang selama ini dikuasai merek-merek premium.
Spesifikasi kamera menjadi daya tarik utama. V80 membawa telephoto 50MP Zeiss Super Telephoto dengan sensor Sony IMX882 berukuran 1/1,95 inci, dilengkapi stabilisasi optik dan zoom optik 3x. Vivo juga memperkenalkan mode ZEISS 100mm Center-Stage Portrait yang menawarkan bokeh ala lensa Planar dan color grading sinematik. Kamera utama 50MP menggunakan sensor Sony LYTIA 700V 1/1,56 inci, ditemani kamera ultra-wide dan kamera selfie 50MP dengan autofokus. Konfigurasi ini tergolong mumpuni di kelasnya, meski ukuran sensor yang relatif moderat menuntut peran besar dari pemrosesan gambar Vivo.
Di sisi perangkat lunak, Vivo tidak tanggung-tanggung menyematkan fitur AI. AI Creative Camera memungkinkan pengguna mengubah pencahayaan foto secara total—menambahkan sinar matahari buatan, sorotan dramatis, atau efek glow yang tidak ada saat pemotretan. Ada pula AI Best Face untuk memperbaiki ekspresi dari Live Photos, AI Magic Move untuk memindahkan subjek, AI Erase untuk menghapus gangguan, dan AI Image Expander yang memperluas latar belakang. Fitur-fitur ini membuka ruang kreatif baru, terutama bagi penggemar potret, meski semakin mengaburkan batas antara merekam momen dan menciptakan momen.
Selain kamera, V80 mengemas baterai berkapasitas besar 7.200mAh dengan pengisian 90W, layar OLED 6,59 inci 144Hz, dan bodi ramping 7,69mm. Untuk video, ponsel ini mendukung perekaman 4K 60fps di kamera depan dan belakang, plus preset warna sinematik. Namun, pembuat film serius mungkin merasa kontrol kreatifnya masih terbatas.
"Kami ingin menghadirkan pengalaman fotografi kelas profesional ke lebih banyak pengguna," ujar perwakilan Vivo dalam peluncuran virtual, seperti dikutip dari siaran pers.
Vivo juga menghadirkan mode CCD Flash Portrait yang menghadirkan kembali kontras tajam dan warna nostalgis kamera digital lawas. Ini menarik karena kita kini menggunakan pemrosesan modern canggih untuk mereplikasi ketidaksempurnaan yang dulu berusaha dihilangkan.
Pasar Indonesia menjadi salah satu target utama Vivo untuk V80. Sebagai salah satu merek dengan pangsa pasar terbesar di Tanah Air, Vivo diperkirakan akan segera membawa perangkat ini ke Indonesia setelah peluncuran di India dan Asia Tenggara. Kehadiran V80 dapat memperketat persaingan di segmen Rp5–7 juta, terutama melawan Samsung Galaxy A series dan Xiaomi Redmi Note. Fitur AI yang kaya dan baterai jumbo menjadi nilai jual tersendiri bagi konsumen Indonesia yang aktif di media sosial.
Meski demikian, harga dan ketersediaan di Eropa dan Inggris masih belum diumumkan. Vivo belum memberikan bocoran mengenai harga resmi, tetapi mengingat spesifikasi yang ditawarkan, V80 diprediksi bersaing di kelas menengah atas. Pertanyaan besarnya: apakah kehadiran AI yang begitu dominan akan membuat pengguna semakin malas memotret dengan benar, atau justru mendorong eksplorasi kreatif tanpa batas? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti—perang kamera ponsel semakin panas.



