Akses Terjal dan Kekeringan Jadi Penghambat Utama Pemadaman Karhutla di Kalimantan
Baca dalam 60 detik
- Manggala Agni mengungkap dua kendala besar dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan: medan yang sulit dijangkau serta minimnya sumber air akibat kemarau panjang.
- Strategi sumur bor dan operasi malam hari menjadi andalan untuk menjangkau titik api yang tidak dapat diakses lewat jalur darat maupun udara.
- Pemerintah mendorong pelibatan masyarakat melalui Masyarakat Peduli Api, meski risiko keselamatan petugas tetap tinggi dan menjadi perhatian serius.

Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih menghadapi hambatan berat. Kepala Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Kalimantan, Yudo Shekti Mutiko, mengungkapkan bahwa aksesibilitas medan dan krisis air menjadi dua tantangan utama yang memperlambat proses pemadaman. Meski demikian, tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan memastikan operasi tidak pernah berhenti, bahkan hingga malam hari.
Menurut Yudo, tidak semua titik api dapat dijangkau dengan mudah. Sebagian lokasi hanya bisa diakses melalui jalur air, sementara pemadaman udara kerap tidak memungkinkan karena kondisi cuaca atau keterbatasan armada. "Tantangan utama adalah aksesibilitas yang luar biasa. Tidak semua bisa kami jangkau, tetapi kami tetap berupaya, termasuk lewat jalur air," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (11/10).
Keterbatasan sumber air akibat kemarau panjang membuat metode konvensional tidak selalu efektif. Sejak awal, Manggala Agni mengembangkan sumur bor sebagai solusi untuk mendapatkan air di area yang jauh dari sungai atau danau. Namun, upaya ini tetap membutuhkan waktu dan tenaga ekstra, terutama ketika titik api berada di lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Yudo menegaskan bahwa berbagai kendala tersebut tidak menyurutkan semangat petugas di lapangan. "Kesulitan ada, tapi bukan berarti kami tidak berupaya. Teman-teman bekerja bukan hanya siang, malam pun dilakukan," tegasnya. Ia juga menyebut bahwa Manggala Agni akan tetap bertahan meski menghadapi risiko keselamatan. "Kalau yang lain mundur, Manggala Agni tetap bertahan," tambahnya.
Selain mengandalkan personel internal, Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni menggandeng masyarakat setempat melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA). Program ini bertujuan mempercepat deteksi dini dan pemadaman awal di wilayah rawan terbakar. Pelibatan warga dinilai krusial mengingat luasnya area yang harus dipantau, sementara jumlah petugas terbatas.
Meski demikian, tantangan struktural seperti perubahan iklim dan alih fungsi lahan terus membayangi. Pola kemarau yang semakin ekstrem membuat karhutla berpotensi berulang setiap tahun. Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur di pedalaman Kalimantan menyulitkan distribusi logistik dan peralatan pemadaman. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan TNI/Polri.
Ke depan, efektivitas penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada kesigapan petugas, tetapi juga pada investasi jangka panjang dalam teknologi pemantauan dan pencegahan. Tanpa perbaikan sistemik, ancaman kabut asap lintas negara dan kerusakan ekosistem akan terus menghantui. Mampukah Indonesia memutus siklus tahunan ini, atau akankah kita kembali berjibaku dengan asap di musim kemarau berikutnya?



