CEO TikTok Ramal Terobosan Ilmiah Besar dari AI dalam Tiga Tahun
Baca dalam 60 detik
- Shou Zi Chew memprediksi AI akan memicu lompatan besar di fisika, bioteknologi, kimia, dan ilmu material dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
- ByteDance, induk TikTok, tengah memperluas riset AI ke prediksi struktur biomolekuler melalui model Protenix-v2 yang berpotensi mempercepat penemuan obat.
- Chew memperingatkan risiko keamanan siber yang membengkak seiring makin murahnya biaya serangan siber dan perlunya pengamanan ketat pada agen AI otonom.

CEO TikTok Shou Zi Chew memproyeksikan bahwa kecerdasan buatan akan mendorong terobosan ilmiah besar dalam dua hingga tiga tahun mendatang, sebuah lompatan yang berpotensi mengubah lanskap riset di berbagai disiplin ilmu. Pernyataan itu disampaikan Chew dalam konferensi DBS Asia Future Forward di Singapura, Senin (12/10/2026), seperti dikutip CNBC.
Menurut Chew, AI tidak lagi sekadar alat bantu komputasi, melainkan katalis yang mempercepat penemuan di bidang fisika, bioteknologi, kimia, dan ilmu material. "Dalam dua hingga tiga tahun, kita akan menyaksikan terobosan ilmiah nyata—di fisika, bioteknologi, kimia, ilmu material—semua karena AI. Itu sangat, sangat mungkin," ujarnya. Ia menambahkan bahwa kurva perkembangan teknologi saat ini sedang menanjak tajam, terutama dalam riset ilmiah.
Optimisme Chew sejalan dengan langkah ByteDance, perusahaan induk TikTok, yang kian agresif memperluas riset AI di luar aplikasi konsumen. Pada April lalu, tim riset Seed milik ByteDance memperkenalkan Protenix-v2, model AI yang dirancang untuk memprediksi dan mendesain struktur biomolekuler. Model ini berpotensi mempercepat penemuan obat dan riset biologi molekuler, menjadikan ByteDance pemain baru yang patut diperhitungkan di arena AI untuk sains.
Chew tidak menampik bahwa dalam jangka pendek ekspektasi terhadap AI sering kali berlebihan. Namun, ia menegaskan bahwa dalam jangka panjang potensi teknologi ini justru kerap diremehkan. "Saya pikir dalam jangka pendek kita mungkin terlalu melebih-lebihkan, tetapi dalam jangka panjang kita cenderung meremehkannya," kata dia. Pandangan ini mencerminkan pola adopsi teknologi yang kerap tidak linear—euforia awal diikuti kekecewaan, lalu lonjakan nilai yang sesungguhnya.
Meski begitu, Chew menyoroti tantangan besar yang menyertai kemajuan AI, terutama keselarasan model dengan nilai etika manusia. Ketika sistem menjadi semakin otonom, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana memastikan mesin bertindak sesuai dengan penalaran manusia? "Jika itu terjadi, pertanyaannya adalah bagaimana menyelaraskan model? Bagaimana membuat mesin melakukan hal-hal yang jelas bagi kita sebagai manusia?" ujarnya.
Chew juga memperingatkan risiko keamanan siber yang kian membengkak. Ia menilai model AI yang semakin canggih menurunkan biaya bagi aktor jahat untuk melakukan penipuan dan serangan siber. "Risiko keamanan siber cukup besar," tegasnya. Ia mencontohkan bahaya memberikan izin luas kepada agen AI untuk bertransaksi secara otonom, yang bisa berujung pada pembelian berlebihan atau penyalahgunaan wewenang. "Anda memerlukan alat yang tepat untuk bertahan menghadapi biaya serangan yang terus menurun," tambahnya.
Pernyataan Chew muncul di tengah gelombang investasi besar-besaran perusahaan teknologi global ke riset ilmiah berbasis AI. Pekan lalu, pemerintah Amerika Serikat, Meta, dan Google mengumumkan partisipasi dalam inisiatif senilai US$1,8 miliar untuk mengembangkan model AI yang mampu memprediksi perilaku sel, guna mempercepat riset biologi dan penemuan obat. Langkah ini menandai pergeseran dari AI sebagai alat produktivitas menjadi mesin penemuan ilmiah.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang sekaligus tantangan. Sektor riset dan pengembangan domestik masih tertinggal dalam adopsi AI untuk sains. Namun, dengan populasi besar dan kebutuhan mendesak di bidang kesehatan dan energi, kolaborasi lintas negara bisa menjadi jalan pintas. Pemerintah dan institusi riset dalam negeri perlu mulai menjajaki kemitraan dengan pengembang AI global, sembari memperkuat regulasi perlindungan data dan keamanan siber yang menjadi prasyarat kepercayaan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengubah sains, melainkan seberapa cepat dan siapa yang akan memimpin. Jika proyeksi Chew tepat, tiga tahun dari sekarang lanskap riset global bisa berbeda secara fundamental—dan negara yang lambat beradaptasi berisiko hanya menjadi penonton.



