SpaceX Pilih 'Tangkap' Starship di Menara, Bukan Kaki Pendaratan: Ini Alasannya
Baca dalam 60 detik
- SpaceX mengadopsi mekanisme penangkapan booster Super Heavy menggunakan lengan mekanik di menara peluncuran, berbeda dengan Falcon 9 yang memakai kaki pendaratan.
- Langkah ini menekan massa kendaraan, memungkinkan muatan lebih besar, dan mempercepat siklus peluncuran menuju operasi mirip maskapai penerbangan.
- Ambisi Elon Musk menjadikan Starship tulang punggung koloni Mars dan penerbangan suborbital antar kota masih menghadapi tantangan teknis dan regulasi yang besar.

SpaceX kembali mencuri perhatian dengan pendekatan kontroversial dalam pengembangan roket Starship. Alih-alih menggunakan kaki pendaratan seperti pada Falcon 9, perusahaan milik Elon Musk itu memilih menangkap booster Super Heavy menggunakan lengan mekanik raksasa di menara peluncuran. Keputusan ini bukan sekadar gaya, melainkan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi massa kendaraan.
Falcon 9 telah membuktikan keandalan pendaratan vertikal sejak 2015, dengan lebih dari 600 kali sukses. Namun, Starship yang jauh lebih besar memerlukan pendekatan berbeda. Dengan menghilangkan kaki pendaratan, SpaceX dapat mengalokasikan bobot untuk muatan yang lebih berat, awak yang lebih banyak, atau bahan bakar tambahan. Ini krusial karena Starship dirancang mengangkut lebih dari 100 ton kargo ke orbit.
Selain itu, penangkapan di menara memungkinkan booster langsung diperiksa dan disiapkan untuk peluncuran berikutnya tanpa harus diangkut ke fasilitas terpisah. SpaceX menargetkan operasi seperti maskapai penerbangan, dengan beberapa peluncuran per hari dari booster yang sama. Visi ini sejalan dengan ambisi jangka panjang Musk untuk membangun kota di Mars dan menyediakan transportasi suborbital antar benua.
Untuk misi ke Mars, SpaceX berencana meluncurkan beberapa Starship sekaligus, termasuk tanker untuk mengisi bahan bakar di orbit. Proses ini akan diulang dalam hitungan hari, mengirim material dan awak ke planet merah. Musk juga membayangkan penerbangan suborbital yang memangkas perjalanan New York-Paris menjadi 30 menit. Namun, tantangan teknis dan regulasi masih sangat besar, termasuk pengembangan sistem pendukung kehidupan jangka panjang dan sertifikasi keamanan.
"SpaceX telah menunjukkan kemampuan terbang dan mendaratkan Starship, tetapi pencapaian ini masih langkah awal dibandingkan pekerjaan yang tersisa," demikian penilaian para pengamat industri.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang kerja sama di sektor antariksa, terutama dalam pengembangan teknologi peluncuran dan infrastruktur pendukung. Meskipun program luar angkasa nasional masih terbatas, kolaborasi dengan SpaceX atau transfer teknologi bisa mempercepat kemajuan industri dirgantara dalam negeri. Selain itu, penerbangan suborbital suatu hari nanti dapat memangkas waktu tempuh dari Jakarta ke kota-kota global, meski masih butuh puluhan tahun.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah SpaceX bisa mewujudkan visi ini, melainkan seberapa cepat dan pada biaya berapa. Dengan rekam jejak sejak 2002, SpaceX mungkin akan mengejutkan lagi, tetapi jalan menuju Mars dan penerbangan suborbital komersial masih panjang dan penuh ketidakpastian.



