Pinjaman Berbasis Bitcoin Kini Biayai Kuliah dan Modal Usaha, Bukan Sekadar Trading
Baca dalam 60 detik
- Dua pemberi pinjaman kripto terkemuka mengungkap pergeseran penggunaan jaminan Bitcoin untuk kebutuhan konsumtif dan produktif, seperti biaya pendidikan dan modal kerja.
- Volume pinjaman Ledn telah melampaui US$11 miliar, sementara SALT mencatat lonjakan peminjam institusi dan generasi baby boomer yang ingin memahami mekanisme pinjaman.
- Industri bergerak menuju suku bunga tetap dan jangka panjang, dengan ekspansi potensial ke aset fisik seperti emas sebagai jaminan berikutnya.

Pinjaman yang dijamin dengan Bitcoin (BTC) tidak lagi identik dengan spekulasi jangka pendek. Dua perusahaan pinjaman kripto lama, SALT Lending dan Ledn, melaporkan bahwa dana yang diperoleh dari penggadaian aset digital itu kini mengalir untuk kebutuhan nyata: biaya kuliah, penutup bulan-bulan sepi, hingga modal kerja usaha. Data dan percakapan dengan nasabah menunjukkan pergeseran fungsi Bitcoin dari instrumen trading menjadi agunan kredit yang setara dengan praktik perbankan konvensional.
Hunter Albright, Chief Revenue Officer SALT Lending, mengungkapkan bahwa pihaknya melihat peningkatan peminjam yang menggunakan Bitcoin untuk keperluan darurat dan keputusan hidup besar, seperti membiayai pendidikan anak atau perjalanan sekali seumur hidup. "Kami juga melihat orang memanfaatkannya untuk menambal arus kas," ujarnya kepada CoinDesk. SALT, yang memulai layanan pinjaman berbasis Bitcoin pada 2016, awalnya melayani penambang Bitcoin. Kini, basis peminjamnya melebar ke institusi, serta generasi X dan baby boomer yang memiliki Bitcoin dan ingin memahami proses pinjaman.
Ledn, yang debut pada 2018, telah menyalurkan lebih dari US$11 miliar pinjaman hingga saat ini. Perusahaan memperkirakan angka tersebut dapat menembus US$1 triliun dalam beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya permintaan pinjaman non-trading. Adam Reeds, co-founder dan CEO Ledn, menjelaskan bahwa nasabah mereka beragam, dari investor tradisional yang ingin mengoptimalkan posisi Bitcoin, pengusaha yang membutuhkan modal kerja, hingga pemain institusi. Nasabah private wealth Ledn meminjam dalam jumlah besar untuk investasi, real estat, bisnis, atau pendidikan anak. Sementara nasabah ritel mengambil pinjaman lebih kecil untuk kebutuhan jangka pendek, seperti menutup biaya hidup saat pendapatan utama menurun.
Motivasi utama peminjam adalah membuka likuiditas dari aset pasif tanpa harus menjual dan kehilangan eksposur terhadap potensi kenaikan harga Bitcoin. Albright menegaskan filosofi SALT tidak berubah sejak awal: "Kami tidak percaya orang harus menjual aset paling berharga mereka untuk mendapatkan nilainya." Reeds menambahkan bahwa keyakinan akan apresiasi Bitcoin di masa depan membuat banyak nasabah memperpanjang pinjaman mereka. "Sebagian besar klien memperpanjang pinjaman karena premis dasarnya adalah tidak menjual Bitcoin dan terus memegang posisi," katanya.
Menurut Albright, strategi keuangan yang selama berabad-abad dinikmati ultra-kaya dan korporasi besar kini mulai terdemokratisasi. Untuk memperkuat pergeseran mainstream ini, SALT menargetkan produk pinjaman yang menyerupai KPR: suku bunga tetap, tenor lebih panjang, dan kepastian biaya di tengah volatilitas Bitcoin. Langkah ini diamini pemain besar. Pada 22 September, Coinbase menambahkan pinjaman berbunga tetap ke aplikasi ritelnya melalui protokol Morpho Midnight. Pengguna dapat meminjam USDC dengan jaminan Bitcoin, dengan suku bunga dan tanggal jatuh tempo yang ditetapkan sejak awal. Opsi bunga tetap ini melengkapi pinjaman bunga variabel yang sudah ada, yang mencatat outstanding lebih dari US$1,4 miliar terhadap agunan sekitar US$3 miliar. Namun, pinjaman bunga tetap Coinbase berjangka pendek, sementara SALT mengincar tenor yang jauh lebih panjang.
"Tahap berikutnya adalah pinjaman terhadap aset keras secara lebih luas. Emas adalah contoh berikutnya yang jelas. Ini aset dua puluh triliun dolar, namun meminjam dengannya sebagian besar masih menjadi hak istimewa institusi. Bagi sebagian besar pemegang sehari-hari, cara mendapatkan uang dari emas adalah dengan menjualnya." — Adam Reeds, CEO Ledn
Ledn melihat model kolateralisasi ini akan meluas ke luar Bitcoin, menyasar emas sebagai aset safe-haven yang telah lama digunakan untuk membuka likuiditas. Reeds menyebut emas sebagai evolusi logis, mengingat nilainya yang mencapai US$20 triliun tetapi akses pinjamannya masih didominasi institusi. Ia menambahkan bahwa klien mereka semakin berpikir dalam kerangka aset keras yang ingin dipegang jangka panjang dan dijadikan jaminan, bukan dijual.
Di Indonesia, tren ini berpotensi mengubah lanskap pembiayaan konsumen dan UMKM begitu kerangka regulasi aset kripto semakin mapan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia tengah menyiapkan aturan turunan yang dapat membuka ruang bagi produk pinjaman berbasis aset digital, meski dengan prinsip kehati-hatian. Jika terealisasi, pemilik Bitcoin di Tanah Air—yang jumlahnya terus bertambah—dapat memperoleh alternatif likuiditas tanpa harus menjual aset, mirip dengan gadai emas yang sudah akrab di masyarakat. Namun, risiko volatilitas dan perlindungan konsumen tetap menjadi pekerjaan rumah besar.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah pinjaman berbasis kripto akan menjadi arus utama, melainkan seberapa cepat infrastruktur dan regulasi domestik mampu mengakomodasi kebutuhan riil masyarakat. Jika model KPR kripto benar-benar terwujud, batas antara aset digital dan keuangan tradisional akan semakin kabur—dan itu bisa menjadi berkah sekaligus ujian bagi industri di Indonesia.



