Ripple Masuk Bisnis Pembiayaan ETF Berleverage, Tantang Dominasi Bank Besar
Baca dalam 60 detik
- Ripple Prime membiayai ETF berleverage melalui total return swap, dengan tarif sekitar 8% per tahun.
- Akuisisi Hidden Road senilai US$1,25 miliar menjadi pintu masuk Ripple ke pasar prime brokerage multi-aset.
- Regulasi perbankan yang lebih ketat membuka celah bagi pemain nonbank seperti Ripple, Jane Street, dan Clear Street.

Ripple memperluas sayap ke bisnis pembiayaan leveraged exchange-traded fund (ETF), sebuah ceruk yang selama puluhan tahun dikuasai bank-bank besar dan perusahaan sekuritas global. Langkah ini menandai pergeseran strategi perusahaan kripto tersebut dari sekadar penyedia likuiditas aset digital menjadi pemain di pasar keuangan konvensional yang lebih luas.
Divisi prime brokerage Ripple, Ripple Prime, dilaporkan memasok pendanaan bagi sejumlah dana yang memungkinkan investor melipatgandakan pergerakan harian saham individu maupun indeks pasar. Menurut laporan The Wall Street Journal pada Rabu, ekspansi ini dilakukan melalui kontrak total return swap—instrumen derivatif yang memberikan eksposur tanpa harus membeli saham secara langsung.
Ripple memasuki bisnis ini lewat akuisisi Hidden Road, firma multi-asset prime brokerage, senilai US$1,25 miliar pada Oktober 2025. Kesepakatan itu memberi Ripple operasi yang sudah mapan dalam kliring perdagangan, pembiayaan posisi investasi, serta penanganan transaksi lintas saham, obligasi, mata uang, dan aset digital.
Sebagai ilustrasi, dana yang menjanjikan dua kali lipat imbal hasil harian Nvidia dapat memilih masuk ke kontrak total return swap ketimbang membeli saham Nvidia dua kali lipat dari nilai asetnya. Broker menyediakan eksposur tersebut, biasanya melakukan lindung nilai melalui pembelian saham atau transaksi lain, sambil memungut biaya pembiayaan dari dana.
The Journal melaporkan bahwa Tradr 2X Long SNDK Daily ETF, yang menargetkan dua kali pergerakan harian produsen chip memori Sandisk, membayar Ripple sebesar overnight bank funding rate—tolok ukur bunga pinjaman semalam antarbank—ditambah empat poin persentase. Dengan tingkat suku bunga yang berlaku, itu berarti biaya pembiayaan tahunan sekitar 8%, dikenakan atas eksposur swap dan terpisah dari biaya pengelolaan ETF.
Bank-bank secara tradisional memasok sebagian besar pembiayaan ini, tetapi persyaratan modal dan risiko yang semakin ketat menciptakan celah bagi perusahaan nonbank seperti Ripple Prime, Jane Street, dan Clear Street. Ripple meluncurkan bisnis Delta One pada Agustus, menawarkan total return swap terkait saham AS, indeks pasar, dan aset digital. Perusahaan menyatakan operasi tersebut memiliki modal regulasi bersih lebih dari US$1 miliar dan telah menyelesaikan penawaran utang senior US$275 juta untuk membiayai ekspansi lebih lanjut.
Pada Selasa, Ripple juga mengumumkan perluasan perjanjian dengan manajer dana lindung nilai Brevan Howard, di mana Ripple Prime akan menyediakan layanan pialang, kliring, dan pembiayaan lintas kelas aset. Langkah ini memperkuat posisi Ripple sebagai penyedia infrastruktur keuangan institusional, bukan sekadar pemain di ekosistem XRP.
"Bisnis ini memberi Ripple pendapatan berbasis biaya yang terkait dengan perdagangan saham dan pembiayaan institusional," demikian inti laporan tersebut, seraya mencatat perusahaan belum mengungkap berapa besar pendapatan dari pembiayaan ETF berleverage atau seberapa banyak aktivitas itu menggunakan XRP maupun XRP Ledger.
ETF berleverage menyesuaikan eksposur mereka setiap hari, dan pergerakan tajam pada saham individu dapat membuat perusahaan pembiayaan terpapar risiko jika aset dana tidak cukup menutup kerugian. Ini menjadi tantangan manajemen risiko yang serius, terutama ketika volatilitas pasar meningkat.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan perspektif tentang bagaimana perusahaan kripto global mendiversifikasi pendapatan ke layanan keuangan tradisional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia tengah menyusun kerangka regulasi aset kripto yang lebih komprehensif, termasuk kemungkinan perluasan layanan derivatif dan pembiayaan. Jika Ripple sukses di pasar AS, model bisnis serupa berpotensi menginspirasi pemain lokal untuk menjajaki kemitraan dengan lembaga keuangan tradisional, meski dengan catatan ketatnya persyaratan modal dan manajemen risiko.
Ke depan, pertanyaan kuncinya adalah seberapa besar bisnis pembiayaan ETF berleverage ini akan berkontribusi terhadap pendapatan Ripple, dan apakah perusahaan akan mengungkap keterkaitannya dengan ekosistem XRP. Jika Ripple mampu membuktikan bahwa model nonbank dapat mengelola risiko derivatif secara prudent, gelombang pemain baru bisa menyusul—mengubah lanskap pembiayaan pasar modal global dalam beberapa tahun mendatang.



