Tabebuya di Cikini: Ketika Bunga Musiman Menantang Estetika Kota Jakarta
Baca dalam 60 detik
- Pohon tabebuya di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, tengah berbunga lebat pada awal Oktober 2026, menciptakan pemandangan kontras di tengah padatnya lalu lintas.
- Fenomena ini bukan sekadar keindahan musiman, tetapi cerminan keberhasilan adaptasi tanaman tropis di ruang urban yang minim ruang terbuka hijau.
- Pemerintah daerah perlu menjadikan momen ini sebagai evaluasi program penghijauan kota, bukan sekadar konten visual semata.

Bunga tabebuya yang bermekaran dan berguguran di sepanjang Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, pada Kamis (8/10/2026), menjadi pemandangan langka di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Warna-warni kelopak yang jatuh di trotoar dan badan jalan itu tidak hanya menarik perhatian pengendara, tetapi juga memantik diskusi tentang kualitas ruang terbuka hijau di Jakarta.
Tabebuya, yang dikenal sebagai pohon terompet atau trumpet tree, memang bukan spesies asli Indonesia. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan dan mulai populer sebagai penghias jalan di berbagai kota besar Indonesia sejak satu dekade terakhir. Kehadirannya di Cikini pada awal Oktober menunjukkan bahwa musim kemarau yang berkepanjangan justru memicu pembungaan serentakโsebuah siklus alami yang jarang teramati di kawasan padat seperti Jakarta Pusat.
Namun, di balik estetika itu, ada persoalan mendasar yang perlu dicermati. Jakarta masih menghadapi defisit ruang terbuka hijau (RTH). Data dari Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta menunjukkan bahwa hingga 2025, luas RTH publik baru mencapai sekitar 15 persen dari total wilayah, jauh di bawah amanat Undang-Undang Penataan Ruang yang mensyaratkan 30 persen. Kehadiran tabebuya di Cikini seolah menjadi oase kecil di tengah dominasi beton dan aspal.
Pengamat tata kota dari Universitas Indonesia, Nirwono Joga, menilai bahwa fenomena tabebuya berbunga seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperluas penanaman pohon berbunga di koridor jalan utama. Menurutnya, selain mempercantik wajah kota, pohon seperti tabebuya mampu menurunkan suhu udara permukaan hingga 2โ3 derajat Celsius dan menyerap polutan udara. "Ini bukti bahwa ruang hijau sekecil apa pun memberi dampak nyata," ujarnya ketika dihubungi beberapa waktu lalu.
Meski demikian, perawatan tabebuya tidak bisa dilakukan secara serampangan. Pohon ini membutuhkan sinar matahari penuh dan drainase yang baik. Jika ditanam di lokasi dengan genangan air atau polusi tinggi, pertumbuhannya akan terhambat dan bunganya tidak muncul optimal. Karena itu, keberhasilan di Cikini patut diapresiasi, tetapi juga menuntut konsistensi perawatan dari petugas taman.
"Bunga tabebuya yang berguguran di jalan bukan hanya soal keindahan, tetapi juga indikator bahwa ekosistem mikro di sekitar masih mampu mendukung kehidupan tanaman." โ Nirwono Joga, pengamat tata kota.
Di sisi lain, warga yang melintas mengaku senang dengan pemandangan tersebut. Seorang pengendara ojek daring, Rudi (42), mengatakan bahwa ia sengaja memperlambat laju motornya untuk melihat bunga-bunga yang jatuh. "Biasanya Cikini macet dan panas. Hari ini jadi lebih berwarna," tuturnya. Namun, ia juga berharap agar bunga yang berguguran tidak membuat jalan licin, terutama saat hujan turun.
Fenomena tabebuya di Cikini bukan yang pertama. Pada 2023, kawasan Senayan dan Tebet juga sempat viral karena hal serupa. Namun, intensitasnya tahun ini dinilai lebih merata. Hal ini memicu spekulasi bahwa perubahan pola curah hujan dan suhu global turut memengaruhi siklus pembungaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa awal Oktober 2026 masih berada di penghujung musim kemarau dengan curah hujan rendah, kondisi ideal bagi tabebuya untuk berbunga.
Pertanyaannya, apakah pemerintah akan menjadikan momen ini sebagai pijakan kebijakan penghijauan yang lebih agresif? Ataukah tabebuya hanya akan menjadi latar belakang foto sesaat, lalu dilupakan setelah bunganya gugur? Publik berhak menuntut yang pertama.



