Williams Racing Gugat Pemilik Bengkel, Sasis FW23 Senilai Rp15 Miliar Raib
Baca dalam 60 detik
- Williams Racing menempuh jalur hukum di Pengadilan Tinggi London untuk memulihkan sasis FW23 yang hilang setelah dipinjamkan ke Autotech Performance Ltd.
- Tergugat, Peter Thorpe, membantah klaim kepemilikan pribadi dan mengaku tidak tahu keberadaan mobil sejak Agustus 2021, dengan alasan gangguan kognitif pasca-stroke.
- Sengketa ini menyoroti kerentanan aset bersejarah tim balap dan berpotensi memengaruhi nilai koleksi memorabilia Formula 1 di pasar global.

Williams Racing membawa sengketa hukum ke Pengadilan Tinggi London untuk menuntut pengembalian sasis FW23 tahun 2001 yang hilang setelah dipinjamkan ke bengkel Autotech Performance Ltd. Langkah ini diambil setelah upaya damai gagal, dan tim asal Grove tersebut menuntut ganti rugi lebih dari ยฃ1 juta (sekitar Rp20 miliar) atau pengembalian fisik mobil bersejarah itu.
Sasis FW23 bukan sekadar monumen. Mobil ini pernah mengantar Ralf Schumacher meraih tiga kemenangan grand prix dan menjadi kendaraan yang membawa Juan Pablo Montoya mencetak kemenangan perdananya di Formula 1. Williams mengklaim nilai internal sasis tersebut mencapai ยฃ750.000 (sekitar Rp15 miliar), mencerminkan statusnya sebagai artefak langka dalam koleksi warisan tim.
Kasus ini bermula pada 2015 ketika Williams meminjamkan FW23 ke Autotech untuk dipamerkan. Namun, setelah Autotech dilikuidasi pada musim panas 2021, mobil itu tidak dapat ditemukan. Dalam berkas pengadilan, Williams menuduh Peter Thorpe, mantan direktur Autotech, mengambil alih kendali sasis dengan mengklaim kepemilikan pribadi kepada likuidator dan memindahkannya sebelum tim sempat bertindak.
Thorpe membantah semua tuduhan. Ia menegaskan tidak pernah mengklaim kepemilikan pribadi dan mengaku tidak mengetahui keberadaan mobil setelah Agustus 2021. Tim hukumnya mengungkapkan bahwa Thorpe mengalami stroke pada Oktober 2018 yang menyebabkan gangguan kognitif berat dan masalah memori. Mereka juga mempertanyakan valuasi Williams, dengan alasan FW23 yang hilang hanyalah cangkang display tanpa mesin, sehingga nilainya jauh lebih rendah dari mobil balap fungsional.
"Kami mempercayakan sistem hukum Inggris untuk menyelesaikan misteri ini dan mengembalikan properti kami," ujar juru bicara Williams Racing, yang menolak berkomentar lebih lanjut karena proses hukum masih berjalan.
Perseteruan ini menyoroti tantangan yang dihadapi tim balap dalam mengelola aset bersejarah. Koleksi warisan tidak hanya bernilai sentimental, tetapi juga investasi finansial yang signifikan. Ketika peminjaman untuk tujuan promosi berubah menjadi sengketa, tim menghadapi risiko kehilangan aset tak ternilai. Kasus ini juga dapat memengaruhi cara tim dan kolektor menyusun perjanjian pinjam pakai di masa depan, dengan penekanan pada due diligence dan klausul pengembalian yang lebih ketat.
Di Indonesia, sengketa semacam ini menjadi pelajaran berharga bagi pengelola museum dan koleksi otomotif. Komunitas mobil klasik Tanah Air kerap meminjamkan kendaraan bersejarah untuk pameran, namun sering kali tanpa perjanjian hukum yang memadai. Insiden Williams-Autotech menunjukkan pentingnya dokumentasi kepemilikan, asuransi, dan mekanisme penyelesaian sengketa yang jelas. Jika tidak, pemilik aset berisiko kehilangan jejak kendaraan, terutama saat pihak peminjam mengalami kesulitan keuangan atau likuidasi.
Ke depan, putusan pengadilan akan menentukan tidak hanya nasib FW23, tetapi juga preseden bagi sengketa serupa di dunia motorsport. Apakah nilai historis sebuah sasis dapat diukur hanya dari komponen fisiknya? Dan seberapa jauh tanggung jawab peminjam ketika aset hilang dalam proses likuidasi? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan membentuk lanskap hukum koleksi balap di tahun-tahun mendatang.



