Ekspektasi Inflasi AS Melonjak ke Level Tertinggi Sejak 2023, The Fed Didesak Menahan Suku Bunga
Baca dalam 60 detik
- Survei New York Fed mencatat ekspektasi inflasi 12 bulan ke depan naik menjadi 3,9%, tertinggi sejak Mei 2023.
- Rumah tangga AS memperkirakan belanja mereka tumbuh 5,5%, sinyal tekanan harga masih membayangi konsumsi.
- Pasar memperkirakan The Fed menahan suku bunga bulan ini, tetapi berpotensi menaikkannya secara agresif dalam lima tahun ke depan.

Keyakinan konsumen Amerika Serikat terhadap prospek inflasi jangka pendek kembali menguat pada September 2026. Survei Consumer Expectations yang dirilis Federal Reserve New York menunjukkan median ekspektasi inflasi untuk 12 bulan ke depan melesat ke 3,9%, naik 0,3 poin persentase dari Agustus dan menjadi yang tertinggi sejak Mei 2023 ketika angka tersebut berada di 4,1%.
Lonjakan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Survei yang sama mencatat ekspektasi pertumbuhan belanja rumah tangga mencapai 5,5%, juga naik 0,3 poin persentase secara bulanan dan menyentuh level tertinggi dalam hampir tiga setengah tahun terakhir. Artinya, konsumen AS tidak hanya melihat harga akan terus naik, tetapi juga bersiap mengeluarkan lebih banyak uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Data tersebut muncul di tengah posisi The Fed yang tengah menimbang arah kebijakan moneter. Inflasi masih bertahan jauh di atas target 2%, sementara sejumlah pejabat bank sentral, termasuk Presiden Fed New York John Williams, menilai otoritas memiliki ruang untuk bersabar sebelum mengubah suku bunga acuan. Pasar memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan menahan suku bunga pada rapat bulan ini.
Menariknya, survei menunjukkan ekspektasi jangka menengah dan panjang relatif lebih terkendali. Proyeksi inflasi tiga tahun hanya naik tipis 0,1 poin persentase menjadi 3,3%, sedangkan outlook lima tahun stagnan di 3%. Namun, sinyal dari pasar obligasi justru berlawanan. Indikator breakeven lima tahun—selisih imbal hasil antara obligasi biasa dan obligasi indeks inflasi—berada di kisaran 2,35%, level tertinggi sepanjang tahun ini. Imbal hasil Treasury juga melonjak ke level yang belum terlihat sejak awal abad ini.
"Ekspektasi inflasi merupakan pendorong utama inflasi itu sendiri. Ketika rumah tangga yakin harga akan naik, mereka cenderung mempercepat belanja dan menuntut upah lebih tinggi, yang pada gilirannya memperkuat tekanan harga," demikian kerangka berpikir yang selama ini dipegang para pejabat The Fed.
Pasar berjangka Fed funds memperlihatkan ekspektasi yang lebih agresif untuk jangka panjang. Kontrak berjangka mengimplikasikan suku bunga acuan mencapai 5,58% dalam lima tahun, jauh di atas target saat ini yang berada di kisaran 3,75%–4%. Ini menandakan pelaku pasar tidak sepenuhnya percaya The Fed akan mampu mempertahankan sikap akomodatif dalam jangka panjang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bukan tanpa implikasi. Ketika ekspektasi inflasi AS menguat dan peluang kenaikan suku bunga The Fed kembali terbuka, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan arus modal keluar dari pasar emerging market berpotensi meningkat. Bank Indonesia mungkin perlu menyesuaikan kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas eksternal, meskipun ruang pelonggaran moneter domestik menjadi lebih terbatas. Selain itu, kenaikan imbal hasil Treasury AS dapat menarik dana asing dari obligasi negara berkembang, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia.
Ke depan, fokus tertuju pada rapat FOMC bulan ini dan data inflasi berikutnya. Jika ekspektasi konsumen terus meningkat, The Fed berada di posisi sulit: menahan suku bunga terlalu lama berisiko melepas jangkar inflasi, tetapi menaikkannya terlalu cepat dapat menekan pertumbuhan ekonomi yang baru pulih. Pertanyaannya, akankah bank sentral AS mampu meyakinkan pasar bahwa inflasi tetap terkendali tanpa harus mengorbankan momentum pemulihan?



