Order of the Sinking Star: 1.000 Puzzle, Ambisi Besar yang Bisa Jadi Pedang Bermata Dua
Baca dalam 60 detik
- Thekla Interactive merilis Order of the Sinking Star, puzzle game dengan lebih dari 1.000 teka-teki yang tersebar di peta dunia terbuka ala Zelda 1987.
- Desain puzzle yang tajam dan mekanisme unik dari empat dunia berbeda menjadi kekuatan utama, tetapi volume yang masif bisa memicu kelelahan kognitif.
- Ketiadaan narasi yang kuat membuat motivasi pemain murni bergantung pada kepuasan memecahkan teka-teki, bukan cerita.

Setelah hampir tujuh puluh jam menyelami Order of the Sinking Star, satu hal yang langsung menonjol: game ini bukan sekadar kumpulan teka-teki, melainkan sebuah pernyataan ambisi dari Thekla Interactive dan sutradara Jonathan Blow. Dengan lebih dari seribu puzzle yang tersebar di peta dunia terbuka, game ini menantang pemain untuk terus berpikir di luar kotak—atau lebih tepatnya, di dalam grid. Namun, seperti halnya sebuah ekspedisi besar, kelebihan dan kekurangan game ini justru terletak pada skalanya yang luar biasa.
Berbeda dari puzzle game konvensional yang biasanya menyajikan serangkaian level linear, Sinking Star mengadopsi struktur non-linear yang terinspirasi dari The Legend of Zelda (1987). Pemain menjelajahi sebuah dunia misterius yang terbagi menjadi empat wilayah utama, masing-masing dengan mekanisme unik yang dikembangkan dari game-game puzzle independen sebelumnya. Wilayah utara, misalnya, mengadaptasi Heroes of Sokoban dengan karakter RPG klasik seperti Warrior, Mage, dan Thief, yang masing-masing memiliki kemampuan berbeda dalam memanipulasi blok. Sementara itu, wilayah timur mengambil ide dari Mirror Isles dengan mekanisme teleportasi cermin, wilayah selatan dari Skipping Stones to Lonely Homes yang melibatkan lompatan batu di atas air, dan wilayah barat dari Promesst yang menawarkan sinar khusus untuk menembus dinding dan teleportasi jarak jauh.
Kekuatan utama Sinking Star terletak pada kemampuannya menggabungkan berbagai mekanisme tersebut secara mulus. Ketika pemain mulai mencampur aturan dari satu dunia dengan dunia lain, munculah teka-teki yang benar-benar menantang dan memuaskan. Desainnya yang ketat membuat hampir setiap solusi terasa logis dan memuaskan, dengan lebih dari seribu puzzle yang hampir semuanya dapat diselesaikan tanpa celah eksploitasi. Hanya satu puzzle yang penulis temukan bisa diselesaikan dengan cara di luar maksud pengembang, itu pun setelah puluhan jam bermain.
Namun, di balik kecemerlangan desainnya, Sinking Star juga menyimpan masalah yang khas dari proyek yang terlalu ambisius: kompleksitas yang berlebihan. Semakin dalam pemain masuk, semakin banyak aturan yang harus diingat sekaligus. Beberapa puzzle terasa sulit bukan karena menuntut pemikiran kreatif, melainkan karena menumpuk terlalu banyak aturan hingga membingungkan. Ada kalanya pemain menghabiskan berjam-jam hanya untuk menyadari bahwa solusinya sebenarnya sederhana, tetapi aturan yang terlupakan dari level sebelumnya membuatnya tampak rumit.
Meski demikian, Sinking Star menawarkan sistem yang sangat memaafkan. Tombol undo instan memungkinkan pemain membatalkan satu langkah, termasuk pergerakan satu kotak grid. Ada juga tombol restart cepat tanpa loading, serta kontrol kecepatan waktu yang memudahkan eksperimen. Pendekatan ini mengurangi frustrasi dan mendorong pemain untuk terus mencoba berbagai ide tanpa takut terjebak dalam kesalahan permanen.
Sayangnya, aspek naratif Sinking Star terasa jauh lebih lemah dibandingkan desain puzzle-nya. Cerita tentang karakter-karakter yang terjebak di dunia aneh ini disampaikan lewat potongan-potongan kecil yang tersebar, tetapi tidak pernah terasa memuaskan. Motivasi para karakter—seperti sekelompok pahlawan RPG yang mengejar hakim jahat, atau pengumpul permata yang ingin meneliti—terasa dangkal dan lebih berfungsi sebagai alasan untuk memperkenalkan mekanisme baru. Misteri besar tentang apa sebenarnya tempat ini dan siapa yang menciptakannya juga tidak terjawab dengan memuaskan, bahkan setelah mencapai salah satu ending.
Akibatnya, dorongan untuk terus bermain murni berasal dari rasa penasaran terhadap teka-teki berikutnya, bukan dari keinginan mengungkap plot. Bagi sebagian pemain, ini mungkin bukan masalah, terutama jika mereka menikmati tantangan intelektual. Namun, bagi yang mengharapkan narasi kuat seperti dalam game-game puzzle naratif lainnya, Sinking Star bisa terasa hampa.
"Desain puzzle-nya luar biasa, tetapi ceritanya terasa seperti lapisan tipis yang hanya untuk membenarkan ide-ide baru," demikian kesan yang muncul setelah puluhan jam bermain.
Di tengah pasar game Indonesia yang didominasi genre aksi dan MOBA, kehadiran Sinking Star menawarkan alternatif segar bagi gamer yang mencari tantangan kognitif. Meski tidak memiliki elemen lokal, game ini menunjukkan bahwa puzzle game dengan skala besar dan desain cerdas bisa memiliki tempat di hati pemain global. Untuk pengembang lokal, Sinking Star bisa menjadi pelajaran tentang bagaimana menciptakan mekanisme yang dalam dan memuaskan, sekaligus pengingat bahwa narasi tetap penting untuk membangun keterikatan emosional.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Thekla Interactive akan merilis konten tambahan atau sekuel yang memperbaiki kelemahan naratif, atau justru mempertahankan fokus pada puzzle. Jika mereka mampu menyeimbangkan ambisi desain dengan cerita yang lebih kuat, Sinking Star bisa menjadi salah satu puzzle game paling berpengaruh dekade ini. Namun, jika tidak, game ini akan dikenang sebagai kumpulan teka-teki brilian yang tenggelam dalam lautan ambisinya sendiri.



