Konservatif Incar Kursi Wali Kota London 2028, Empat Kandidat Bertarung Ketat
Baca dalam 60 detik
- Partai Konservatif resmi menutup pendaftaran calon wali kota London, dengan empat figur yang telah mendeklarasikan diri untuk maju pada pemilihan Mei 2028.
- Kegagalan tiga kali berturut-turut sejak 2016 memicu kritik internal bahwa partai selama ini menganggap remeh posisi wali kota, termasuk tuduhan 'pencalonan di atas kertas'.
- Perebutan nominasi akan memuncak pada November mendatang, saat dua finalis diumumkan dan anggota partai di London akan memilih satu di antara mereka.

Partai Konservatif Inggris resmi menutup pendaftaran bakal calon wali kota London untuk pemilihan Mei 2028, dengan empat nama telah menyatakan kesiapannya bertarung memperebutkan nominasi. Langkah ini menandai dimulainya kembali ambisi partai untuk merebut kursi yang telah lama lepas dari genggaman mereka.
Sejak posisi wali kota London diperkenalkan pada 2000, Konservatif hanya pernah sekali menempatkan kadernya di kursi itu, yakni Boris Johnson yang menjabat dua periode dari 2008 hingga 2016. Setelah itu, tiga pemilihan berturut-turut dimenangkan oleh Sadiq Khan, yang kini bergelar Lord Khan of Tooting. Kekalahan beruntun inilah yang memicu introspeksi di internal partai.
Gareth Bacon, Menteri Bayangan untuk London, dalam forum konferensi partai di Birmingham pekan ini menyatakan bahwa Konservatif terlalu lama memperlakukan pencalonan wali kota sebagai formalitas belaka. Ia menyebut partai sempat 'melepas' Susan Hall, kandidat 2024, dan melabeli Khan sebagai figur yang 'toksik dan memecah belah'. Kritik pedas ini menjadi sinyal bahwa partai ingin mengubah pendekatan.
Meski pemilihan masih jauh, dinamika sudah memanas. Partai Konservatif melihat peluang setelah memenangkan kembali basis tradisional seperti Westminster dan Wandsworth dari Partai Buruh pada pemilu lokal Mei 2026. Namun, merebut kursi wali kota tetap menjadi tantangan besar, dan banyak bergantung pada siapa yang mereka usung.
Empat kandidat yang telah terbuka menyatakan diri adalah Festus Akinbusoye, Andrew Boff, Alex Challoner, dan James Cleverly. Akinbusoye, yang beremigrasi dari Nigeria pada 1991 dan pernah menjabat Komisioner Kepolisian Bedfordshire, menawarkan visi pro-kepolisian, pro-pembangunan rumah, dan pro-bisnis. "Kami tidak harus menerima bahwa London yang tak terjangkau adalah harga mati," ujarnya, menekankan perlunya membuat kota ini ramah bagi keluarga muda.
Andrew Boff, Ketua Majelis London yang telah menjabat sejak 2008, mengusung program perumahan ambisius. Ia berjanji mengalokasikan lebih banyak dana untuk rumah berukuran keluarga dan menyediakan lahan gratis bagi kaum muda yang ingin membangun rumah sendiri. Boff juga berencana menghapus perluasan Ulez ke luar London, kebijakan yang selama ini menjadi kontroversi.
Alex Challoner, profesional di bidang hubungan masyarakat yang telah 35 tahun menetap di London, menawarkan pendekatan berbeda. Ia mengusung program 'Fare Watch' untuk menindak penumpang yang menghindari tarif di gerbang Tube, dengan melibatkan British Transport Police dan pelatihan staf Transport for London. Challoner juga menjanjikan pemotongan PPN untuk gym dan tempat pembuatan bir lokal, serta rencana kota yang bisa dibaca dalam satu sore.
James Cleverly, anggota parlemen Braintree yang pernah menjabat Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri, dianggap sebagai kandidat terkuat. Namun, ia membawa beban politik sebagai pendukung Brexit dan pernah memimpin pemangkasan besar saat mengepalai Otoritas Pemadam Kebakaran London. "Saya ingin menjadi juara sejati bagi London, bukan sekadar administrator," tegasnya, seraya menekankan pentingnya keamanan jalanan dan keterjangkauan hidup.
"Saya berharap menjadi juara sejati bagi London, bukan sekadar administrator, melainkan pembela kota yang saya cintai ini." – James Cleverly
Proses seleksi internal akan menentukan siapa yang masuk daftar pendek. Para kandidat harus menunggu hingga November untuk mengetahui apakah mereka lolos. Anggota partai di London diperkirakan akan diberikan pilihan antara dua kandidat, dengan pengumuman finalis dijadwalkan pada 20 November—dimajukan dari rencana semula 13 November karena alasan takhayul.
Bagi Partai Konservatif, pemilihan wali kota London 2028 bukan hanya soal merebut kursi, tetapi juga mengembalikan relevansi di jantung ibu kota yang semakin kosmopolitan. Sementara itu, Partai Buruh masih menunggu apakah Sadiq Khan akan mencalonkan diri untuk periode keempat. Jika ia mundur, peta politik bisa berubah drastis. Pertanyaannya, mampukah Konservatif mengubah 'pencalonan di atas kertas' menjadi kemenangan nyata, atau akankah sejarah terulang kembali?



