Ghost of Yōtei: Echoes of Sekigahara Review — DLC yang Seharusnya Sudah Ada Sejak Awal
Baca dalam 60 detik
- Ekspansi Echoes of Sekigahara menghadirkan dimensi baru pada Atsu melalui kisah cinta masa lalunya dengan Nagato.
- Konten ini memperlihatkan konsekuensi balas dendam terhadap warga sipil dan satwa di Ashoro Foothills.
- Meski tempurannya familiar, kedalaman karakter dan narasi membuat DLC ini layak dimainkan.

Setahun setelah Ghost of Yōtei dirilis, Sony dan Sucker Punch Productions kembali membawa pemain ke dunia Ezo melalui ekspansi berjudul Echoes of Sekigahara. DLC ini bukan sekadar tambahan wilayah atau senjata baru, melainkan sebuah upaya ambisius untuk mengisi celah naratif yang selama ini membuat protagonis Atsu terasa datar. Sayangnya, konten sepenting ini baru hadir sebagai add-on opsional, bukan bagian dari game utama sejak awal.
Dalam Ghost of Yōtei versi dasar, Atsu digambarkan sebagai sosok yang digerakkan oleh satu tujuan: membalas kematian keluarganya dengan membantai Yōtei Six. Sepanjang perjalanan, ia nyaris tak berubah—sebuah kekuatan tunggal yang haus darah. Baru menjelang akhir cerita, konsekuensi dari aksi balas dendamnya mulai disinggung. Echoes of Sekigahara justru mengambil pendekatan sebaliknya: seluruh narasinya dibangun di atas konsekuensi tersebut, sekaligus menggali lapisan kepribadian Atsu yang selama ini tersembunyi.
Melalui serangkaian kilas balik, pemain diajak mengenal Atsu sebelum ia menjadi Onryō. Dahulu, ia adalah seorang pendekar pedang keliling yang membunuh untuk upah, bertempur di bawah berbagai tuan feodal. Salah satu penugasan membawanya ke Pertempuran Sekigahara, tempat ia bertemu Nagato the Handsome, seorang komandan pasukan dan penembak jitu yang karismatik. Chemistry di antara mereka terasa jelas sejak awal, terutama dalam adegan di mana Nagato mengajari Atsu teknik memanah dengan berdiri di belakangnya dan mengarahkan tangannya. Sederhana, namun efektif untuk menunjukkan bahwa Atsu pernah memiliki kapasitas untuk mencintai, bahkan ketika misi balas dendamnya belum tuntas.
Kilas balik lainnya memperlihatkan Atsu yang lebih lembut, membayangkan masa depan bersama Nagato jauh dari urusan dendam. Tentu saja, Ghost of Yōtei adalah tentang balas dendam, sehingga hubungan mereka berakhir tragis. Di masa kini, Echoes of Sekigahara membawa Atsu ke wilayah baru bernama Ashoro Foothills setelah mendengar ada sayembara untuk kepala Nagato. Tiga tahun setelah Sekigahara, mereka bertemu kembali. Kali ini bukan ketegangan romantis yang muncul, melainkan permusuhan. Atsu siap menebas Nagato, tetapi situasi memaksa mereka bekerja sama untuk mengganggu operasi Lord Saito di wilayah tersebut.
Selain memperdalam karakter Atsu, ekspansi ini juga menyoroti dampak balas dendamnya terhadap orang-orang di luar lingkaran intinya. Ashoro Foothills dulunya dikuasai oleh Snake, salah satu anggota Yōtei Six yang dibunuh Atsu di awal game. Kematiannya tidak membawa kedamaian. Sebaliknya, wilayah yang dulu ia lindungi kini dilanda kekacauan oleh geng Vipers, yang berebut posisi kosong di organisasi Lord Saito. Atsu bahkan bertemu dengan seseorang yang pernah mencintai Snake, menunjukkan bahwa bahkan seorang pembunuh pun bisa memiliki dimensi kemanusiaan dan ditangisi.
Penderitaan juga menimpa satwa liar. Ghost of Yōtei memang dikenal karena kemampuannya menghubungkan pemain dengan alam melalui pemandangan indah dan hewan-hewan menggemaskan. Echoes of Sekigahara melanjutkan tradisi itu, tetapi juga memperlihatkan sisi gelapnya. Vipers memburu hewan tanpa henti untuk memasok pasukan Lord Saito, menghancurkan populasi satwa di Ashoro Foothills. Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika Atsu membebaskan seekor anak beruang yang kemudian meratapi induknya yang mati. Ini menjadi pengingat pahit bahwa ambisi manusia berdampak pada seluruh ekosistem.
Dari sisi permainan, Echoes of Sekigahara menambahkan beberapa elemen baru yang memperkaya pengalaman tempur. Atsu kini bisa menggunakan senjata berat yang dapat dipakai hingga rusak, serta mendapatkan set armor yang mengubah serangannya menjadi tembakan panah yang mampu mengenai tiga musuh sekaligus. Meski tidak mengubah alur pertempuran secara drastis, tambahan ini memberikan variasi yang disambut baik, terutama bagi pemain yang sudah menghabiskan puluhan jam di game utama. Tantangan juga meningkat dengan hadirnya jenis panah musuh yang menancap di tubuh Atsu, memaksanya untuk mencabutnya sebelum bisa menyembuhkan diri atau menggunakan Spirit.
Namun, daya tarik utama Echoes of Sekigahara bukanlah pada pertempurannya, melainkan pada pendalaman karakter dan narasinya. Erika Ishii, yang memerankan Atsu, kembali menunjukkan aktingnya yang memukau. Ia mampu menampilkan sisi lembut Atsu dalam interaksi dengan Nagato, sekaligus membangkitkan amarah dan haus darah yang menjadi ciri khas karakternya. Nominasi Best Performance di The Game Awards dan kemenangan DICE Award untuk Outstanding Achievement in Character seakan menegaskan bahwa performa Ishii di ekspansi ini adalah bukti kualitasnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul: mengapa konten sedalam ini tidak disertakan sejak awal? Ghost of Yōtei sebagai game dunia terbuka memang kerap kesulitan menghadirkan protagonis yang kompleks secara berkelanjutan. Echoes of Sekigahara membuktikan bahwa pendalaman karakter dan eksplorasi konsekuensi tindakan dapat menjadi kekuatan utama, bahkan ketika formula open-world mulai terasa repetitif. Jika DLC ini adalah arah yang ingin diambil Sucker Punch ke depan, pemain berhak berharap bahwa Ghost of Yōtei 2—jika ada—akan menghadirkan kedalaman serupa sejak menit pertama.
Echoes of Sekigahara kini tersedia untuk PlayStation 5. Ulasan ini didasarkan pada salinan prarilis yang disediakan oleh Sony Interactive Entertainment.



