Perang Iran dan Paradoks Trump: Ledakan Emisi Turun, tapi Energi Hijau AS Justru Dilucuti
Baca dalam 60 detik
- Konflik AS-Israel vs Iran memicu lonjakan harga minyak dan gas, memaksa banyak negara mempercepat transisi ke energi terbarukan.
- Gubernur California Gavin Newsom menyebut Trump sebagai 'hadiah' tak sengaja bagi gerakan iklim, meski kebijakan domestiknya justru memangkas regulasi lingkungan.
- Para analis menilai penurunan emisi global tahun ini hanya efek samping, bukan hasil kebijakan iklim yang disengaja, dan momentum transisi energi bisa meredup jika harga minyak kembali normal.

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah menciptakan fenomena tak terduga: penurunan emisi bahan bakar fosil global untuk pertama kalinya di luar resesi atau pandemi. International Energy Agency (IEA) memperkirakan puncak konsumsi minyak dunia mungkin telah tiba tahun ini, jauh lebih cepat dari proyeksi sebelumnya pada 2029. Carbon Brief mencatat emisi fosil global berpotensi turun 0,5% sepanjang tahun ini akibat krisis tersebut.
Selat Hormuz, jalur pelayaran yang biasanya mengalirkan seperlima ekspor minyak dan gas dunia, sempat tersendat sejak perang meletus pada Februari. Harga minyak sempat bertahan di kisaran $100 per barel selama berbulan-bulan, memaksa negara-negara di Eropa, Asia, dan Afrika untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan beralih ke sumber energi yang lebih bersih seperti surya dan angin.
Gubernur California Gavin Newsom, yang digadang-gadang sebagai calon presiden dari Partai Demokrat, menyebut Trump sebagai "hadiah terbesar" bagi gerakan lingkungan. Menurutnya, perang telah membangunkan dunia akan kerentanan terhadap "petro-diktator" dan gangguan pasokan dari Timur Tengah. "Perang ini telah menghancurkan segala romantisme tentang ketahanan energi dan memaksa orang berpikir berbeda. Ini mempercepat investasi di energi bersih dan terbarukan," ujarnya kepada The Guardian saat Climate Week di New York.
Namun, label "environmentalis tak sengaja" itu menuai kritik tajam. Rob Jackson, ilmuwan iklim dari Stanford University, menilai Newsom mengalami "tunnel vision". "Serangan ilegal Trump terhadap Iran mungkin mempercepat energi bersih di beberapa negara, tetapi ia telah melumpuhkan teknologi hijau di Amerika Serikat dan memundurkan kita beberapa dekade. Gagasan bahwa dia adalah environmentalis tak sengaja hanyalah angan-angan," tegas Jackson.
Kritik itu beralasan. Pemerintahan Trump justru gencar mencabut batasan polusi untuk mobil, truk, dan pembangkit listrik, mengucurkan dana publik ke industri fosil, serta membatalkan proyek energi terbarukan secara sepihak. Trump bahkan pernah menyebut aktivis lingkungan sebagai "teroris" dan krisis iklim sebagai "hoaks". Ketika ditanya soal kredibilitas lingkungannya pada kampanye 2024, ia malah merujuk pada penghargaan yang diterima lapangan golfnya di Florida.
Di balik narasi penurunan emisi, industri minyak dan gas justru menikmati keuntungan luar biasa. Delapan perusahaan terbesar meraup lebih dari $90 miliar hanya dalam tiga bulan pertama perang. Exxon bahkan memproyeksikan dunia masih akan mengonsumsi 105 juta barel minyak per hari pada 2050, naik dari 100 juta barel tahun lalu. Dua pertiga bauran energi global di pertengahan abad ini diprediksi tetap didominasi minyak, gas, dan batu bara.
"Semua minyak yang diproduksi akan dibakar. Jika mereka memproduksi lebih banyak, lebih banyak pula yang akan digunakan. Mereka yang memprediksi penurunan emisi gas rumah kaca hanya berbohong atau buta," kata Juan Carlos Navarro, Menteri Lingkungan Panama.
Navarro juga menyoroti lonjakan permintaan listrik dari pusat data kecerdasan buatan yang sebagian besar masih ditenagai gas. Ia berharap dunia setidaknya dapat menahan konsumsi dan produksi pada level saat ini.
Meski demikian, para pendukung iklim menilai perang Iran justru mempercepat tren yang sudah mengarah ke energi bersih. Investasi global di energi terbarukan kini dua kali lipat investasi fosil, hampir semua kapasitas listrik baru berasal dari sumber bersih, dan satu dari empat mobil yang terjual tahun lalu adalah kendaraan listrik. Negara-negara seperti Inggris, India, dan Thailand berlomba mempercepat transisi untuk menghemat miliaran dolar akibat mahalnya ketergantungan pada fosil.
Sonia Dunlop, CEO Global Solar Council, mencatat lonjakan permintaan panel surya dan penyimpanan baterai di Filipina, Eropa, Asia Tenggara, hingga Australia. "Krisis Iran yang dipicu Presiden Trump telah menyebabkan lonjakan besar permintaan teknologi kami, tetapi ini hanya memperkuat tren yang sudah ada," ujarnya. Ia yakin momentum ini tidak akan surut setelah konflik berakhir. "Begitu seseorang memutuskan turun dari roller coaster bahan bakar fosil, mereka tidak akan kembali."
Al Gore, mantan Wakil Presiden AS, menyoroti fenomena akar rumput di negara berkembang. "Harga surya turun begitu cepat sehingga kini ada 100.000 panel surya dipasang setiap hari di Afrika. Di sebagian Pakistan, mahar pengantin kini tiga panel dan satu inverter, bukan 10 atau 12 kambing," ungkapnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Sebagai negara yang masih bergantung pada batu bara dan impor BBM, gejolak harga minyak global akibat konflik Timur Tengah akan langsung menekan subsidi energi dan anggaran negara. Namun, lonjakan permintaan panel surya dan baterai juga membuka peluang investasi besar di sektor energi terbarukan dalam negeri, terutama jika kebijakan transisi dipercepat. Pertanyaannya, apakah Jakarta akan memanfaatkan momentum ini untuk mempercepat transisi, atau justru kembali ke jalur lama begitu harga minyak kembali normal?



