Hedge Fund Kuasai 7% Pasar Treasury AS: Likuiditas atau Bom Waktu?
Baca dalam 60 detik
- Hedge fund memegang rekor 7% dari total surat utang AS yang diperdagangkan, dengan nilai kepemilikan mencapai US$2 triliun per akhir 2025.
- Regulator memperingatkan leverage tinggi dan strategi basis trade dapat memperbesar gejolak pasar obligasi terbesar dunia.
- Meski meningkatkan likuiditas, dominasi hedge fund berpotensi memicu ketidakstabilan sistemik jika terjadi deleveraging paksa.

Hedge fund kini menguasai porsi terbesar dalam sejarah pasar surat utang Amerika Serikat senilai US$30 triliun. Data Office of Financial Research menunjukkan kepemilikan surat utang negara (Treasury) oleh hedge fund mencapai US$2 triliun pada akhir 2025, melonjak hampir tiga kali lipat dibanding lima tahun sebelumnya. Dari total utang Treasury yang diperdagangkan di pasar sekunder sebesar US$28,9 triliun, pangsa hedge fund tercatat 7%—rekor tertinggi yang pernah ada.
Masuknya hedge fund secara agresif terjadi saat investor tradisional seperti dana pensiun mulai mengurangi porsi di obligasi jangka panjang. Peralihan dari skema manfaat pasti ke iuran pasti membuat dana pensiun kurang berminat pada surat utang tenor panjang. Sebagian malah mengalihkan dana ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi seperti private credit, yang menyerap hampir US$300 miliar pada 2025 menurut Mercer. Kekosongan itulah yang diisi hedge fund, yang tidak sekadar memburu kupon, melainkan mengejar return jangka pendek.
Namun, kehadiran mereka membawa risiko. Federal Reserve dalam laporan stabilitas keuangan Mei menyoroti leverage hedge fund yang bertahan di level rekor dan terkonsentrasi pada fund besar. Bank for International Settlements (BIS) bahkan memperingatkan bahwa posisi hedge fund sebagai perantara inti di pasar obligasi pemerintah telah menciptakan kerentanan baru. Ketergantungan pada repo jangka pendek dan leverage tinggi membuat pasar rentan terhadap deleveraging mendadak.
Strategi yang paling disorot adalah basis trade, yakni membeli Treasury di pasar tunai sambil menjual kontrak berjangka yang setara. Karena selisih harga kedua pasar sangat tipis, pelaku menggunakan leverage hingga 20 kali lipat untuk menghasilkan imbal hasil menarik. Ricky Siao, spesialis hedge fund dari Union Bancaire Privée, menilai leverage agresif tersebut dapat memperbesar risiko sistemik. "Ketika deleveraging paksa terjadi akibat situasi ekstrem, hal itu bisa memicu peristiwa likuiditas dan stabilitas keuangan yang lebih luas," ujarnya.
Don Steinbrugge, pendiri Agecroft Partners, mengingatkan bahwa basis trade memiliki margin tipis dan sering kali dilever 20 kali atau lebih. Ia merujuk pada Maret 2020, ketika likuiditas pasar Treasury memburuk tajam dan fund dengan leverage tinggi terpaksa melikuidasi posisi secara cepat. "Ini dapat menciptakan lingkaran setan margin call, penjualan paksa, dan volatilitas pasar yang semakin dalam," kata Steinbrugge.
Meski demikian, tidak semua pihak menilai kehadiran hedge fund negatif. Ken Heinz, presiden Hedge Fund Research, berpendapat bahwa kesediaan hedge fund untuk bertransaksi—bukan sekadar menahan obligasi hingga jatuh tempo—menyediakan likuiditas dua arah saat pasar naik maupun turun. Dalam kondisi normal, aktivitas mereka membantu mengoreksi ketidaksesuaian harga dan menstabilkan pergerakan suku bunga.
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita jauh. Pasar Treasury AS adalah acuan global untuk imbal hasil obligasi, termasuk Surat Berharga Negara (SBN). Ketika gejolak di pasar AS meningkat, aliran modal asing ke negara berkembang seperti Indonesia bisa berubah cepat. Yield SBN tenor 10 tahun sering bergerak mengikuti Treasury, sehingga biaya utang pemerintah dan korporasi berpotensi tertekan. Selain itu, beberapa hedge fund global yang aktif di pasar Indonesia juga merupakan pemain yang sama di basis trade Treasury; posisi mereka yang tertekan dapat memicu penjualan aset di pasar berkembang untuk memenuhi margin call.
Ke depan, regulator menghadapi dilema: di satu sisi hedge fund menyediakan likuiditas yang dibutuhkan pasar Treasury yang terus membengkak, di sisi lain leverage mereka menjadi sumber kerentanan. Pertanyaannya, apakah pengawasan terhadap basis trade dan leverage hedge fund akan diperketat sebelum gejolak berikutnya terjadi—dan seberapa besar dampaknya bagi stabilitas pasar keuangan global, termasuk Indonesia?



