Rumah Baru di Zona Banjir Inggris Terancam Tak Bisa Diasuransikan, Bos Aviva Peringatkan Pemerintah
Baca dalam 60 detik
- Aviva memperingatkan pembangunan perumahan di kawasan rawan banjir Inggris dapat membuat properti tidak layak diasuransikan di masa depan.
- Data Environment Agency menunjukkan 6,3 juta properti di Inggris saat ini berisiko banjir, berpotensi melonjak menjadi 8 juta pada pertengahan abad.
- CEO Aviva juga mengkritik spekulasi kebijakan pensiun menjelang anggaran yang memicu penarikan dana hingga 30 kali lipat dari normal.

Amanda Blanc, Chief Executive Aviva—perusahaan asuransi terbesar di Inggris—menyatakan bahwa rumah-rumah yang dibangun saat ini di kawasan rawan banjir berpotensi menjadi tidak dapat diasuransikan di kemudian hari. Peringatan ini muncul ketika ancaman banjir di Inggris disebut "benar-benar meningkat" dan pola konstruksi yang ada dinilai tidak berkelanjutan.
Dalam wawancara dengan BBC, Blanc menyoroti bahwa jika praktik pembangunan tidak berubah, sekitar 115.000 rumah akan berdiri di zona banjir dalam sepuluh tahun ke depan. "Itu tidak masuk akal bagi saya. Kita perlu memikirkan di mana rumah-rumah itu dibangun," ujarnya. Ia menegaskan bahwa lokasi rawan banjir sudah diketahui dengan baik, sehingga seharusnya menjadi pertimbangan serius dalam perencanaan tata ruang.
Data Environment Agency memperkirakan sekitar 6,3 juta rumah dan bisnis di Inggris saat ini berada dalam risiko banjir. Angka itu bisa membengkak menjadi sekitar 8 juta—atau satu dari empat properti—pada pertengahan abad ini seiring memburuknya krisis iklim. Aviva sendiri memproyeksikan hampir sepertiga rumah baru yang dibangun pada 2024 akan menghadapi risiko banjir pada 2050, dengan satu dari tujuh di antaranya berisiko sedang hingga tinggi.
Blanc juga menyoroti pentingnya mitigasi risiko. Menurutnya, ada banyak langkah yang bisa dilakukan untuk membuat properti lebih tahan terhadap banjir. Namun, ia menekankan bahwa keputusan pembangunan harus mempertimbangkan lokasi secara cermat. "Anda bisa melakukan berbagai hal pada properti Anda untuk membuatnya lebih atau kurang rentan terhadap banjir," tambahnya.
Selain isu banjir, Blanc mengkritik praktik "kite flying" kebijakan—yakni spekulasi kebijakan yang beredar sebelum anggaran resmi—menjelang anggaran pertama John Healey sebagai kanselir pada 28 Oktober. Aviva adalah penyedia dana pensiun swasta terkemuka, dan spekulasi tentang perubahan aturan pensiun telah memicu lonjakan penarikan dana. "Kami melihat 30 kali lipat penarikan normal dari pensiun tahun lalu, yang jelas bisa disesali pelanggan karena setelah mengambil lump sum bebas pajak, Anda tidak bisa mengembalikannya," jelasnya. Ia meminta pemerintah berpikir sangat matang sebelum menguji kebijakan yang dapat memicu kepanikan pasar.
"Kita perlu berpikir sangat hati-hati tentang rumah-rumah yang sedang dibangun. Kawasan banjir sudah diketahui dengan baik." — Amanda Blanc, CEO Aviva
Konteks Indonesia: Peringatan ini relevan bagi Indonesia yang juga menghadapi tantangan serupa. Sejumlah kota pesisir seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya kerap dilanda banjir rob dan banjir musiman. Pembangunan perumahan di kawasan rawan banjir masih marak, sementara penetrasi asuransi properti terhadap risiko banjir tergolong rendah. Jika pola ini berlanjut, semakin banyak rumah tangga yang akan menanggung kerugian ekonomi akibat banjir tanpa perlindungan asuransi yang memadai. Regulator dan pemerintah daerah perlu memperketat tata ruang serta mendorong skema asuransi bencana yang terjangkau.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah industri asuransi mampu menanggung risiko yang membengkak, tetapi juga sejauh mana pemerintah berani menghentikan pembangunan di zona berbahaya. Tanpa intervensi kebijakan yang tegas, rumah-rumah yang dibangun hari ini bisa menjadi beban fiskal dan sosial di masa depan—baik di Inggris maupun di negara-negara rentan bencana seperti Indonesia.



