FIFA Gabungkan Jeda September-Oktober, Liga Eropa Harus Siasati 3 Pekan Kosong
Baca dalam 60 detik
- FIFA resmi menyatukan jendela internasional September dan Oktober menjadi satu periode panjang hampir tiga pekan, mengubah total ritme kompetisi domestik di Eropa.
- Kebijakan ini memangkas perjalanan pemain lintas benua, tetapi memaksa klub-klub besar kehilangan pemain kunci lebih lama dan mengatur ulang program latihan serta uji coba.
- Bagi sepak bola Asia, termasuk Indonesia, kalender anyar ini membuka peluang sekaligus tantangan dalam menyusun agenda Timnas dan kompetisi domestik.

FIFA memutuskan menyatukan dua jendela pertandingan internasional pada September dan Oktober menjadi satu blok panjang yang berlangsung hampir tiga pekan, sebuah perubahan besar yang mulai berlaku pada kalender 2026/27 dan berdampak langsung pada liga-liga top Eropa. Keputusan ini diambil dalam rapat Dewan FIFA 2025 dan mengubah total ritme kompetisi domestik yang selama puluhan tahun berjalan dengan dua jeda terpisah.
Sebelumnya, setiap bulan September dan Oktober liga-liga Eropa seperti Bundesliga, Premier League, dan La Liga harus berhenti selama dua pekan agar para pemain bisa memperkuat negaranya. Kini, jeda itu digabung menjadi satu periode yang lebih panjang, sehingga klub kehilangan pemain lebih lama, tetapi di sisi lain jumlah perjalanan internasional pemain berkurang signifikan. Contohnya, penyerang Bayern Munich, Luis Díaz, hanya perlu sekali menyeberangi Atlantik untuk memperkuat Kolombia dalam laga uji coba di Amerika Serikat, bukan dua kali seperti sebelumnya.
Meski durasi jeda bertambah, jumlah pertandingan yang boleh dimainkan tim nasional sepanjang tahun tetap sepuluh. Konsekuensinya, banyak negara akan memainkan empat laga dalam satu blok, bukan dua. Ini membuka ruang bagi Harry Kane untuk menambah koleksi 85 golnya bagi Inggris dan memperkuat kans meraih Ballon d'Or, terutama karena Inggris akan menghadapi Spanyol, Kroasia, dan Ceko masing-masing dua kali di UEFA Nations League.
Perhatian juga tertuju pada Jerman, di mana Jürgen Klopp akan memimpin tim nasional untuk pertama kalinya. Mantan pelatih Borussia Dortmund, Mainz, dan Liverpool itu akan membawa skuad berisi banyak talenta Bundesliga ke Nations League melawan Belanda, Yunani (kandang dan tandang), serta Serbia. Debut Klopp ini menjadi magnet tersendiri bagi penggemar sepak bola Jerman dan internasional.
"Keputusan menyatukan jendela September dan Oktober adalah langkah maju untuk mengurangi beban perjalanan pemain, tetapi klub harus beradaptasi dengan hilangnya pemain dalam waktu lebih lama," ujar seorang analis sepak bola Eropa, seperti dikutip dari diskusi panel Bundesliga.
Bagi klub-klub peserta liga domestik, jeda panjang ini menuntut manajemen skuad yang lebih cermat. Pelatih harus merancang program latihan mandiri bagi pemain yang tidak dipanggil, sementara pemain yang kembali dari tim nasional berpotensi mengalami kelelahan akibat empat pertandingan dalam waktu singkat. Bundesliga dan Bundesliga 2, misalnya, harus mengosongkan satu akhir pekan penuh pada September dan satu lagi pada Oktober, tetapi kini keduanya digabung menjadi satu periode kosong yang lebih panjang.
Dari perspektif Indonesia, perubahan kalender FIFA ini juga berdampak pada Timnas Garuda dan kompetisi domestik. PSSI dan operator Liga 1 perlu menyesuaikan jadwal agar tidak berbenturan dengan agenda internasional, terutama jika Indonesia terlibat dalam kualifikasi Piala Asia atau Piala Dunia. Jeda panjang bisa dimanfaatkan untuk pemusatan latihan, tetapi juga berisiko mengganggu momentum kompetisi. Klub-klub Liga 1 yang memiliki pemain timnas harus siap kehilangan mereka lebih lama, sementara pemain yang bermain di luar negeri akan menghadapi jadwal padat yang sama.
Ke depan, format jeda gabungan ini akan diuji pada 2026/27. Jika sukses mengurangi beban perjalanan tanpa mengorbankan kualitas kompetisi, FIFA mungkin akan mempertahankannya secara permanen. Namun, jika klub-klub besar merasa dirugikan karena kehilangan pemain terlalu lama, tekanan untuk meninjau ulang kebijakan ini bisa muncul. Yang jelas, sepak bola global sedang memasuki babak baru dalam pengelolaan kalender, dan semua pihak—dari federasi, klub, hingga pemain—harus beradaptasi.



