Klaim Baru dari Memoar Earl Spencer: Charles Diduga Ucap 'Kita Akan Segera Melupakannya' Usai Diana Wafat
Baca dalam 60 detik
- Charles Spencer mengungkap dalam memoar terbarunya bahwa Raja Charles III pernah melontarkan kalimat kontroversial beberapa hari setelah kematian Putri Diana pada 1997.
- Memoar berjudul Swan Song: Diana, My Sister itu juga menyoroti perdebatan sengit soal keputusan Pangeran William dan Harry ikut dalam prosesi pemakaman ibu mereka.
- Publikasi memoar ini berpotensi memicu kembali diskursus tentang dinamika keluarga kerajaan dan warisan Diana, sementara Istana Buckingham belum memberikan tanggapan resmi.

Charles Spencer, Earl Spencer ke-9, kembali menghebohkan publik dengan pengakuan kontroversial dalam memoarnya yang akan segera terbit. Dalam buku berjudul Swan Song: Diana, My Sister, ia mengklaim bahwa Raja Charles III — yang saat itu masih berstatus Pangeran Wales — melontarkan pernyataan pedas hanya beberapa hari setelah kepergian tragis Putri Diana pada 1997. Menurut Spencer, Charles mengatakan, "Kita akan segera melupakannya." Klaim ini langsung memicu perdebatan sengit tentang hubungan kedua pria tersebut dan cara keluarga kerajaan menangani duka publik saat itu.
Memoar tersebut, yang dikutip secara eksklusif oleh Daily Mail sebelum peluncuran resminya di Inggris pada 22 September mendatang, mengungkap detail di balik layar persiapan pemakaman Diana. Spencer mengaku sempat menentang keputusan Charles agar kedua putranya, Pangeran William (15) dan Pangeran Harry (12), ikut berjalan di belakang peti jenazah ibu mereka. Ia berargumen bahwa Diana tidak akan menginginkan anak-anaknya mengalami trauma psikologis akibat sorotan publik yang begitu intens.
Namun, Charles disebut bersikeras dan bahkan mencontohkan pengalamannya sendiri saat berjalan di prosesi pemakaman Lord Mountbatten 18 tahun sebelumnya. Ketika Spencer menunjukkan bahwa Charles saat itu sudah berusia 30 tahun, bukan remaja, ia mengklaim Charles "menjadi sangat marah". Dalam memoarnya, Spencer menulis bahwa Charles kemudian melontarkan kalimat yang ia anggap sebagai bentuk penghinaan terhadap Diana: "'Tenang saja,' desisnya, 'kita akan segera melupakannya!'" Spencer mengaku terkejut dan butuh beberapa detik untuk membalas, "Aku tidak percaya kau baru saja mengatakan itu."
Meski demikian, Spencer akhirnya tetap bergabung dalam prosesi bersama William, Harry, Charles, dan Pangeran Philip. Pada upacara di Westminster Abbey, ia menyampaikan pidato yang kemudian diakui sebagai salah satu pidato paling berpengaruh abad ke-20. Pidato itu sendiri sempat memicu ketegangan dengan keluarga kerajaan karena nada kritisnya terhadap perlakuan mereka terhadap Diana.
"Saya menulis buku ini untuk mengoreksi ketidakbenaran yang selama ini beredar tentang Diana," ujar Spencer dalam pernyataan yang dikutip dari memoarnya.
Konteks Indonesia: Bagi masyarakat Indonesia, kisah ini bukan sekadar drama kerajaan asing. Publik Tanah Air memiliki ikatan emosional dengan sosok Putri Diana yang dikenal luas karena kunjungannya pada 1990-an dan dedikasinya pada isu kemanusiaan. Kasus ini juga menjadi cermin bagaimana media dan publik menyoroti kehidupan privat figur publik, serta bagaimana keluarga kerajaan beradaptasi dengan tekanan zaman. Di era digital, klaim semacam ini cepat menyebar dan dapat memengaruhi persepsi publik terhadap institusi monarki, termasuk di negara-negara dengan sistem kerajaan seperti Malaysia dan Thailand yang menjadi tetangga dekat Indonesia.
Sejumlah pengamat kerajaan menilai bahwa memoar ini berpotensi membuka kembali luka lama dalam keluarga Windsor, terutama di tengah upaya Raja Charles membangun citra modern dan inklusif. "Ini adalah pengingat bahwa narasi resmi kerajaan sering kali tidak sejalan dengan pengalaman pribadi anggota keluarga," kata seorang analis kerajaan yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa publikasi ini bisa memicu diskusi lebih luas tentang kesehatan mental dan tekanan media terhadap figur publik.
Hingga saat ini, Istana Buckingham belum menanggapi tuduhan tersebut. Namun, serialisasi memoar di Daily Mail diprediksi akan terus menjadi sorotan global setidaknya hingga buku itu resmi beredar. Pertanyaannya, apakah klaim ini akan mengubah cara publik memandang Raja Charles, atau justru memperkuat warisan Diana sebagai ikon yang tak lekang oleh waktu?



