Liverpool Temukan Permata Baru di Lini Belakang: Jeremy Jacquet, Pengganti Ideal Van Dijk?
Baca dalam 60 detik
- Liverpool merekrut Jeremy Jacquet dari Rennes senilai £60 juta pada Januari lalu, dan bek muda Prancis itu langsung menunjukkan performa impresif.
- Kehadiran Jacquet membuat Ibrahima Konate yang tampil inkonsisten musim lalu tidak lagi menjadi masalah utama bagi lini pertahanan The Reds.
- Jika konsisten, Jacquet berpotensi menjadi salah satu bek terbaik dunia dan mengulang sukses upgrade Alisson dari Karius pada 2018.

Liverpool kembali menuai hasil positif dari strategi rekrutmen mereka. Bek muda asal Prancis, Jeremy Jacquet, yang didatangkan dari Rennes pada Januari 2026 dengan mahar £60 juta, langsung menjelma menjadi tembok kokoh di jantung pertahanan The Reds. Performa impresifnya dalam beberapa laga terakhir, termasuk penampilan solid melawan Tottenham Hotspur, membuat publik Anfield yakin bahwa mereka telah menemukan pasangan ideal bagi Virgil van Dijk.
Keputusan manajemen Liverpool untuk merekrut Jacquet sempat diragukan mengingat usianya yang baru 21 tahun dan cedera yang sempat menghambat akhir musim lalu di Rennes. Namun, keraguan itu sirna setelah bek tengah tersebut menunjukkan kombinasi kecepatan, kekuatan, dan kecerdasan taktik yang jarang dimiliki pemain seusianya. Dalam laga melawan Tottenham, ia hanya bermain 45 menit, tetapi aksinya memenangkan duel melawan Omar Marmoush menjadi bukti kualitasnya.
Kehadiran Jacquet juga menjadi jawaban atas masalah yang selama ini menghantui lini belakang Liverpool: inkonsistensi Ibrahima Konate. Bek asal Prancis itu kerap melakukan kesalahan fatal, terutama di laga-laga besar. Legenda klub, Jamie Carragher, bahkan pernah melabeli penampilan Konate sebagai "buruk sepanjang musim" dan "membuat kesalahan di setiap pertandingan". Kritik itu muncul setelah kekalahan Liverpool dari Paris Saint-Germain di Liga Champions musim lalu, di mana Konate tampil di bawah standar.
Perbandingan dengan masa lalu pun mencuat. Delapan tahun lalu, Liverpool mengalami masalah serupa di posisi kiper dengan Loris Karius. Kesalahan Karius di final Liga Champions 2018 memaksa manajemen mendatangkan Alisson Becker dari AS Roma. Transfer itu terbukti menjadi titik balik kejayaan Liverpool, yang kemudian menjuarai Liga Champions 2019 dan Premier League 2020. Kini, Jacquet diharapkan mengikuti jejak Alisson sebagai upgrade krusial di lini pertahanan.
"Jacquet memiliki potensi untuk menjadi salah satu bek terbaik di dunia. Liverpool sudah mendapatkan jackpot dengan merekrutnya," ujar jurnalis ESPN, Julien Laurens.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah sukses Jacquet menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan jangka panjang dalam rekrutmen pemain. Klub-klub Liga Indonesia sering kali tergoda mendatangkan pemain senior dengan harga mahal, tetapi kurang memberi ruang bagi pemain muda untuk berkembang. Padahal, investasi pada talenta muda seperti Jacquet dapat memberikan keuntungan ganda: performa jangka pendek dan nilai jual di masa depan.
Selain itu, keberhasilan Liverpool mengintegrasikan pemain muda ke dalam skuad utama juga bisa menjadi inspirasi bagi Timnas Indonesia. Dengan banyaknya pemain muda berbakat di liga domestik, sudah saatnya klub dan federasi memberikan kesempatan lebih besar bagi mereka untuk unjuk gigi di level tertinggi. Jika Jacquet bisa bersinar di Premier League pada usia 21 tahun, bukan tidak mungkin pemain Indonesia juga mampu menembus kompetisi Eropa dengan pembinaan yang tepat.
Meski demikian, perjalanan Jacquet masih panjang. Ia perlu menjaga konsistensi dan menghindari cedera yang sempat menghantuinya. Liverpool juga masih memiliki pekerjaan rumah untuk memperbaiki lini pertahanan secara keseluruhan, terutama dengan spekulasi masa depan Konate yang belum jelas. Namun, setidaknya The Reds kini bisa bernapas lega karena memiliki bek muda yang siap menjadi penerus Van Dijk di masa depan.
Akankah Jacquet benar-benar menjadi bek terbaik dunia seperti prediksi Laurens? Atau justru terlena oleh pujian dan tekanan? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal yang pasti: Liverpool telah mengambil langkah berani yang mungkin akan dikenang seperti keputusan mendatangkan Alisson delapan tahun silam.



