Mathys Tel, Kambing Hitam Baru Tottenham yang Bikin Lini Serang Mandek
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur kembali jadi sorotan setelah hanya mencetak satu gol dalam empat laga terakhir, dengan Mathys Tel sebagai pusat kritik.
- Pemain asal Prancis itu belum menyumbang gol atau assist di Premier League 2026/27, memicu perbandingan dengan Serge Aurier dan Emerson Royal.
- Manajemen Spurs menghadapi dilema: bertahan dengan proyek jangka panjang Tel atau mencari solusi lain demi mengembalikan ketajaman lini depan.

Mathys Tel menjadi sasaran utama kritik publik setelah Tottenham Hotspur mencatat start buruk di Premier League 2026/27. Pemain sayap berusia 21 tahun itu belum mencetak gol atau assist di kompetisi domestik, sementara Spurs hanya mencetak satu gol dalam empat pertandingan terakhir. Tekanan semakin besar setelah tersingkir dari Carabao Cup dan belum meraih kemenangan di liga.
Krisis di lini serang Tottenham bukan hal baru. Klub telah menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan Savio (85 juta poundsterling) dan Omar Marmoush, namun produktivitas gol tetap minim. Manajer Roberto De Zerbi dianggap belum mampu mengatasi masalah penyelesaian akhir, meskipun pertahanan tampil lebih terorganisir dengan dua clean sheet beruntun melawan Nottingham Forest dan Everton sebelum kebobolan tiga gol dari Liverpool di Piala Liga.
Tel, yang dibeli permanen dari Bayern Munich dengan harga 30 juta poundsterling pada musim panas 2025, awalnya menunjukkan sinyal positif di pramusim. Ia mencetak gol indah dari tendangan bebas melawan Sydney dan menciptakan dua gol untuk Mikey Moore saat melawan Hoffenheim. Namun, performa tersebut tidak berlanjut di pertandingan resmi. Melawan Liverpool, ia bermain selama 85 menit tanpa satu pun tembakan atau umpan kunci, kehilangan penguasaan bola 17 kali, dan hanya memenangkan 5 dari 13 duel. Pengamat Football.London, Alasdair Gold, menyebut penampilannya sebagai 'banyak usaha tanpa hasil' โ sebuah ringkasan yang tepat untuk pemain yang dijuluki sebagai penerus Serge Aurier dan Emerson Royal sebagai kambing hitam.
Sejarah kelam Tottenham dengan pemain yang menjadi bulan-bulanan suporter bukan rahasia. Serge Aurier dan Emerson Royal adalah dua contoh nyata bagaimana kesalahan individu sering kali menutupi kelemahan sistemik klub. Aurier dikenal karena blunder defensif, termasuk pelanggaran bodoh pada Raheem Sterling di final Carabao Cup 2021 yang berujung gol kemenangan Manchester City. Emerson Royal juga sering dikritik karena keputusan buruk dan pasif dalam bertahan, dengan penampilan terburuknya terjadi saat melawan Liverpool pada Mei 2023. Keduanya menjadi simbol era Antonio Conte yang penuh kekecewaan.
"Tottenham's story is this: 20 years, there is this owner [Daniel Levy], and they never won something. Why? If they want to continue in this way, they can change the manager- a lot of managers- but the situation cannot change." โ Antonio Conte, mantan manajer Tottenham.
Kini, Tel menghadapi tekanan serupa meski dengan peran berbeda. Ia bukan bek yang rentan blunder, melainkan penyerang yang gagal memberikan dampak. Kritik terhadapnya bukan tanpa dasar: ia hanya mencetak empat gol musim lalu dan belum menunjukkan perkembangan signifikan. Namun, sebagian pengamat menilai bahwa masalah Tottenham lebih dalam daripada sekadar performa individu. Ketergantungan pada pemain muda seperti Tel, tanpa duet striker mapan, membuat lini serang mudah ditebak dan tumpul.
Bagi penggemar di Indonesia, saga Tottenham ini menjadi cermin bagaimana klub besar sering kali terjebak dalam siklus ekspektasi tinggi dan kekecewaan. Liga Premier memang bukan liga domestik, tetapi dinamika di Spurs relevan dengan diskursus sepak bola nasional: pentingnya kesabaran terhadap pemain muda, evaluasi taktik yang objektif, dan manajemen ekspektasi suporter. Banyak klub Indonesia juga kerap menjadikan pemain asing sebagai kambing hitam ketika hasil tim tidak sesuai harapan, tanpa melihat akar masalah yang lebih struktural.
Ke depan, De Zerbi dihadapkan pada pilihan sulit: terus memberi kepercayaan kepada Tel dengan risiko kehilangan poin, atau mengubah pendekatan dengan opsi lain di lini depan. Jika tren negatif berlanjut, bukan tidak mungkin posisi manajer menjadi taruhan. Sementara itu, bagi Tel sendiri, sisa musim ini akan menjadi ujian mental dan teknis untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar 'Spursy' berikutnya. Akankah ia bangkit, atau justru menjadi catatan kaki lain dalam daftar panjang kambing hitam Tottenham?



