Younes Ebnoutalib, Striker Muda Frankfurt yang Bisa Jadi Jawaban Nomor 9 Jerman di Era Klopp
Baca dalam 60 detik
- Younes Ebnoutalib mencetak tiga gol dan satu assist dalam tiga laga Bundesliga, mencuri perhatian sebagai calon penyerang tengah Jerman.
- Krisis striker Timnas Jerman sejak pensiunnya Miroslav Klose membuka peluang bagi pemain berusia 23 tahun itu untuk masuk skuad Klopp.
- Laga perdana Jerman di Nations League melawan Belanda, Yunani, dan Serbia menjadi panggung pembuktian bagi Ebnoutalib.

Nama Younes Ebnoutalib mencuat tajam di Bundesliga musim ini. Penyerang Eintracht Frankfurt itu telah mengemas tiga gol dan satu assist hanya dalam tiga penampilan, memicu spekulasi bahwa ia bisa menjadi solusi jangka panjang untuk posisi nomor 9 Timnas Jerman yang tengah mencari identitas di bawah pelatih baru Jürgen Klopp.
Perjalanan Ebnoutalib menuju puncak tidak instan. Setelah menuntaskan paruh musim 2025 sebagai top skor Bundesliga 2 bersama Elversberg dengan 12 gol dalam 17 pertandingan, ia pindah ke Frankfurt pada Januari tahun ini dan menandatangani kontrak berdurasi lima setengah tahun hingga 30 Juni 2031. Debutnya berjalan manis: ia mencetak gol ke gawang Borussia Dortmund, memperlihatkan ketenangan luar biasa di depan Gregor Kobel. Namun, cedera ligamen lutut pada laga keduanya melawan VfB Stuttgart memaksanya menepi hampir sepanjang musim.
Alih-alih terpuruk, Ebnoutalib bangkit dengan ledakan performa. Pada laga pembuka musim ini, ia mencetak hat-trick dalam hasil imbang 3-3 melawan Union Berlin, setelah sebelumnya ikut menyumbang gol dalam kemenangan 11-0 di Piala DFB atas Tönis. Aksi tiga golnya di Berlin memperlihatkan spektrum penyelesaian yang lengkap: gol penyama kedudukan pada menit ke-10 dari dalam kotak enam yard, penyelesaian tenang di bawah kiper Matheo Raab satu menit berselang, dan voli klinis dari dalam kotak penalti.
Krisis striker menjadi momok Timnas Jerman sejak pensiunnya Miroslav Klose, pemegang rekor gol terbanyak dengan 71 gol dalam 137 caps. Di era Hansi Flick dan Julian Nagelsmann, berbagai profil penyerang dicoba, tetapi tak ada yang benar-benar mengisi kekosongan. Niclas Füllkrug dan Tim Kleindienst baru debut di usia 29 tahun; meski produktif, cedera menghambat konsistensi mereka. Kai Havertz memang menjadi top skor Jerman sejak 2020 dengan 24 dari 25 golnya lahir setelah dekade berganti, termasuk lima gol di Piala Dunia 2026, namun ia tidak memiliki kehadiran fisik khas penyerang tengah murni. Deniz Undav lebih sering menjadi super-sub, sementara Nick Woltemade belum mendapat kesempatan berarti.
"Dia bekerja luar biasa keras untuk tim," ujar pelatih Eintracht Frankfurt, Adi Hütter. "Dan ketika Anda selalu bekerja keras seperti itu, Anda akan mendapat imbalannya."
Ebnoutalib menawarkan paket atribut yang jarang dimiliki penyerang Jerman belakangan ini. Posturnya yang tinggi tidak mengurangi kecepatan eksplosifnya. Kontrol bola rapat, kemampuan menemukan ruang, dan insting predator di kotak penalti membuatnya mirip Klose di masa jaya. Ia juga mampu turun ke lini tengah, menusuk ke belakang pertahanan, dan meregangkan garis pertahanan lawan—kualitas yang cocok dengan gaya Klopp yang menginginkan penyerang terlibat dalam build-up.
Musim ini, ia telah mencatat dua assist dalam lima pertandingan, menambah dimensi baru pada permainannya. Dengan laga perdana Jerman di Nations League melawan Belanda, Yunani, dan Serbia di depan mata, Ebnoutalib yang belum pernah membela Timnas senior berpeluang besar menjadi kejutan. Ia bukan sekadar pelengkap; ia bisa menjadi game-changer di lini serang yang tengah dirombak.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, fenomena Ebnoutalib menjadi cermin betapa pentingnya kompetisi domestik sebagai panggung pembuktian. Bundesliga 2, yang sering dianggap kasta kedua, terbukti mampu melahirkan penyerang tajam yang langsung bersinar di level tertinggi. Timnas Indonesia yang tengah gencar mencari striker murni bisa mengambil pelajaran: memberi ruang bagi pemain muda di liga domestik adalah investasi jangka panjang. Selain itu, keberhasilan Ebnoutalib di Frankfurt menunjukkan bahwa klub-klub Jerman berani memberi kepercayaan pada pemain dari divisi bawah—sebuah model yang bisa diadopsi klub-klub Liga 1.
Pertanyaannya kini: apakah Klopp akan segera memanggilnya? Jika Ebnoutalib terus mencetak gol, tekanan publik untuk memberinya debut akan semakin besar. Laga melawan Serbia pada September nanti bisa menjadi momen penentu. Jika ia tampil impresif, bukan tidak mungkin Jerman menemukan jawaban nomor 9 yang mereka cari selama bertahun-tahun.



