Gyokeres di Ambang Pintu Keluar: Arsenal Diminta Tiru Keberanian Melepas Zinchenko
Baca dalam 60 detik
- Viktor Gyokeres kembali tampil tak meyakinkan saat Arsenal mengalahkan Ipswich 4-2, memperkuat spekulasi masa depannya di Emirates.
- Kai Havertz telah menggeser posisi Gyokeres dengan catatan lari 44,5 km dalam empat laga, hampir 3 km lebih jauh dari penyerang terdekat di Liga Primer.
- Manajemen Arsenal disebut perlu mengulang keputusan tegas seperti saat melepas Oleksandr Zinchenko demi mendatangkan penyerang yang lebih cocok dengan sistem Mikel Arteta.

Viktor Gyokeres menghadapi tekanan besar setelah kembali tampil minim kontribusi dalam kemenangan 4-2 Arsenal atas Ipswich Town, Selasa malam. Penyerang asal Swedia itu hanya mencatat 18 sentuhan—lebih sedikit dari kiper David Raya—dan kalah dalam tiga dari empat duel udara, memicu pertanyaan apakah ia masih layak menjadi ujung tombak utama The Gunners.
Sejak didatangkan dengan banderol £63 juta dari Sporting CP, Gyokeres memang sempat menjadi andalan dengan 21 gol di musim pertamanya. Namun, musim ini ia tampak kehilangan ketajaman. Dalam laga melawan Napoli pekan lalu, dari 26 tembakan Arsenal, tidak satu pun berasal dari kaki Gyokeres. Ia hanya menyentuh bola sembilan kali dan menyelesaikan lima umpan.
Pelatih Mikel Arteta dikenal sebagai sosok yang tak ragu mengambil keputusan sulit. Keputusan mengganti Aaron Ramsdale dengan David Raya dan menyingkirkan Emile Smith Rowe sempat menuai kontroversi, tetapi terbukti tepat. Hal serupa terjadi ketika ia melepas Oleksandr Zinchenko setelah tiga musim—sebuah langkah yang kini dianggap brilian karena Riccardo Calafiori tampil gemilang di posisi bek kiri.
Kai Havertz telah mengambil alih posisi utama di lini depan. Penyerang Jerman itu tidak hanya rajin menekan, tetapi juga efektif dalam membangun serangan. Catatan larinya yang mencapai 44,5 km dalam empat pertandingan menunjukkan etos kerja yang jauh melampaui Gyokeres. Perbedaan gaya ini menjadi alasan utama mengapa Arteta lebih memilih Havertz, terutama saat Arsenal menghadapi lawan yang bertahan dalam blok rendah.
"Dari segi teknik, tiga pemain terbaik menurut saya adalah Zinchenko, Riyad Mahrez, dan Bernardo Silva. Zinchenko luar biasa," ujar Kyle Walker, mantan rekan setim Zinchenko di Manchester City, menggambarkan kualitas teknis bek Ukraina itu. Namun, kelemahan defensif Zinchenko membuatnya tersingkir, dan kini Gyokeres menghadapi nasib serupa karena tidak cocok dengan sistem Arsenal.
Arsenal sebenarnya tidak kekurangan peluang. Melawan Ipswich, Max Dowman dan Noni Madueke berulang kali membongkar pertahanan lawan, tetapi Gyokeres terlihat terisolasi dan frustrasi. Ia jarang bergerak mencari ruang, tidak kuat memegang bola, dan kurang terlibat dalam kombinasi umpan pendek. Kritik pun mengarah pada ketidaksesuaian peran: Gyokeres lebih efektif memanfaatkan bola terobosan di belakang pertahanan, sementara Arsenal sering kali harus membongkar pertahanan rapat.
Meski demikian, ada argumen bahwa Arsenal tidak memainkan gaya yang menguntungkan Gyokeres. Namun, tuntutan untuk berkontribusi lebih besar tetap ada. Rio Ferdinand pernah menyoroti kelemahan Zinchenko dalam duel satu lawan satu, dan kini kritik serupa mengarah pada Gyokeres yang dianggap kurang agresif di kotak penalti.
Jika situasi ini berlanjut, bukan tidak mungkin Gyokeres akan mengakhiri musim ini sebagai penyerang cadangan, atau bahkan hengkang. Arsenal dilaporkan sempat mencoba mendatangkan Julian Alvarez dari Atletico Madrid pada musim panas lalu, tetapi gagal. Langkah serupa diperkirakan akan diulang pada jendela transfer Januari, dengan Gyokeres sebagai korban.
Bagi penggemar Arsenal di Indonesia, saga ini menjadi pengingat bahwa kesabaran manajemen di liga top Eropa sangat terbatas. Performa di lapangan adalah mata uang utama. Jika Gyokeres tidak segera menemukan kembali ketajamannya, ia bisa menyusul Zinchenko sebagai korban berikutnya dari ketegasan Arteta. Akankah Arsenal bergerak cepat di bursa musim dingin, atau memberi Gyokeres kesempatan terakhir hingga akhir musim?



