China Klaim Temukan Deposit Emas-Perak di Dasar Pasifik Barat, Jaraknya Tak Jauh dari Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Ekspedisi Xiangyanghong 10 milik China menemukan sulfida polimetalik kaya emas dan perak di dasar Pasifik Barat, dengan kadar emas mencapai 15,4 ppm dan perak 1.271 ppm.
- Lokasi deposit berada di zona ekonomi eksklusif China, namun letaknya di kawasan tektonik aktif dekat perbatasan Lempeng Eurasia dan Lempeng Laut Filipina, yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia.
- Penambangan komersial masih terkendala tekanan laut dalam dan kompleksitas geologis, sehingga dampak ekonominya bagi pasar mineral global belum akan terasa dalam waktu dekat.

China mengumumkan penemuan endapan mineral kaya emas dan perak di dasar laut Pasifik Barat, sebuah klaim yang langsung memantik perhatian karena lokasinya relatif dekat dengan perairan Indonesia. Tim peneliti dari Universitas Tsinghua, Institut Geologi Kelautan Qingdao, dan Universitas Shanghai Jiao Tong melaporkan bahwa sampel bijih dari kawasan tersebut mengandung emas hingga 15,4 gram per ton dan perak 1.271 gram per ton—konsentrasi yang disebut jauh melampaui rata-rata deposit daratan.
Ekspedisi yang diberi nama Xiangyanghong 10 itu berlangsung 18 hari sejak 10 Agustus 2026, dengan tujuh kali penyelaman kapal selam khusus. Media yang berafiliasi dengan pemerintah Beijing, Global Times, menyatakan bahwa endapan tersebut terletak di cekungan busur belakang di Pasifik Barat, tepatnya di dalam zona ekonomi eksklusif China. Artinya, meski berada di kawasan yang secara geografis berdekatan dengan Indonesia, klaim kedaulatan atas sumber daya itu sepenuhnya berada di yurisdiksi China.
Deposit ini tergolong sulfida polimetalik, yakni endapan dasar laut yang mengandung beragam logam—tembaga, besi, seng—dalam bentuk senyawa sulfida, plus logam mulia. Mineral utamanya meliputi kalkopirit, pirit, dan sfalerit. Proses pembentukannya terkait aktivitas hidrotermal di zona tektonik aktif, dekat perbatasan Lempeng Eurasia dan Lempeng Laut Filipina. Global Times mengklaim temuan ini berpotensi mencapai skala deposit dasar laut kelas dunia.
Namun, seperti dilaporkan CCTV News, endapan hidrotermal aktif ini belum siap ditambang. Tekanan tinggi di laut dalam dan kondisi geologis yang rumit menjadi penghalang utama. Tidak ada keterangan mengenai estimasi volume cadangan, biaya eksploitasi, atau jadwal eksplorasi lanjutan. Ketidakpastian ini membuat klaim "kelas dunia" masih bersifat indikatif, bukan angka produksi yang bisa diverifikasi.
"Analisis awal di laboratorium kapal menunjukkan mineral-mineral bernilai ekonomi penting," demikian pernyataan Global Times, tanpa merinci metode pengujian atau tingkat akurasi sampel.
Bagi Indonesia, temuan ini lebih relevan sebagai cermin strategi sumber daya laut. Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan bawah laut yang belum tergarap optimal, Indonesia menghadapi pertanyaan serupa: seberapa siap teknologi dan regulasi domestik untuk mengeksplorasi mineral dasar laut? China telah menggelontorkan kapal riset dan kapal selam khusus, sementara Indonesia masih bergantung pada survei terbatas dan kerja sama asing.
Dari sisi pasar, penemuan ini belum mengubah neraca pasokan global. Harga emas dan perak lebih dipengaruhi kebijakan moneter serta permintaan industri, bukan oleh satu temuan yang belum masuk tahap produksi. Namun, dalam jangka panjang, jika China berhasil mengembangkan teknologi penambangan laut dalam, negara itu bisa mengurangi ketergantungan pada impor mineral dan memperkuat posisi tawar dalam rantai pasok logam global. Investor di sektor pertambangan dan energi perlu mencermati apakah proyek ini akan mengarah pada kemitraan internasional atau justru memperketat dominasi China di kawasan.
Pertanyaan besarnya: akankah Indonesia mempercepat eksplorasi sumber daya laut dalam untuk mengimbangi langkah China, atau tetap menjadi penonton di kawasan yang secara geografis begitu dekat? Tanpa terobosan teknologi dan kebijakan, potensi bawah laut Indonesia bisa terus tertinggal dari negara yang lebih agresif berinvestasi di riset kelautan.


