Freeport Targetkan 21 Ton Emas 2026 Meski Kapasitas Tambang Baru 65%
Baca dalam 60 detik
- PT Freeport Indonesia memproyeksikan produksi 700.000 ons emas (setara 21 ton) dan 800 juta pon tembaga pada 2026, kendati operasi hanya berjalan 65% dari kapasitas normal.
- Pemulihan pasca longsor material basah September 2025 membuat pengolahan bijih dibatasi 124.000 ton per hari, jauh di bawah kapasitas normal 200.000 ton.
- Produksi akan menanjak bertahap: 31 ton emas pada 2027 dan mendekati 39โ40 ton pada 2028 seiring pulihnya Grasberg Block Caving.

PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan produksi emas sebanyak 700.000 ons atau setara 21 ton pada 2026, meskipun aktivitas penambangan masih berjalan di bawah kapasitas normal. Target itu disampaikan Direktur Utama PTFI Tony Wenas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (16/9/2026).
Angka tersebut lebih rendah dari potensi penuh tambang Grasberg, yang menurut Tony bisa mencapai 39โ40 ton emas per tahun. Penyebabnya adalah insiden longsoran material basah pada September 2025 yang membuat kapasitas pengolahan bijih tahun ini hanya diproyeksikan 124.000 ton per hari, atau sekitar 65% dari kapasitas normal 200.000 ton per hari.
Selain emas, PTFI memproyeksikan produksi 800 juta pon tembaga pada 2026. Dari fasilitas pemurnian logam berharga (Precious Metal Refinery), perusahaan juga memperkirakan menghasilkan 103 ton perak batangan, 1,4 juta ton asam sulfat, dan 900.000 ton terak tembaga (copper slag).
Tony menjelaskan bahwa peningkatan produksi akan berjalan bertahap seiring pemulihan area Grasberg Block Caving (GBC) yang terdampak longsor. Pada 2027, kapasitas penambangan ditargetkan naik menjadi 170.000 ton bijih per hari dengan produksi emas sekitar 31 ton, sebelum mendekati kapasitas penuh pada 2028.
"Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan Grasberg Block Caving yang terkena longsor di tahun yang lalu," ujar Tony.
Bagi Indonesia, fluktuasi produksi Freeport bukan sekadar urusan korporasi. PTFI adalah salah satu penyumbang terbesar penerimaan negara dari sektor mineral, baik melalui royalti, pajak, maupun dividen. Penurunan output tahun ini berpotensi menekan setoran fiskal dari sektor pertambangan, meski harga komoditas yang tinggi dapat menjadi kompensasi.
Di sisi lain, target produksi yang lebih rendah juga memengaruhi pasokan global tembaga dan emas. Freeport Indonesia merupakan salah satu produsen tembaga terbesar dunia, sehingga gangguan operasionalnya dapat berdampak pada harga internasional. Bagi investor, perlu mencermati apakah pemulihan GBC berjalan sesuai jadwal atau ada risiko penundaan yang dapat mengubah proyeksi pendapatan emiten tambang di Bursa Efek Indonesia.
Pemerintah sendiri memiliki kepentingan ganda: mendorong peningkatan produksi untuk penerimaan negara, sekaligus memastikan operasi tambang berjalan aman dan berkelanjutan. Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Grasberg pulih dan apakah target 2027โ2028 dapat tercapai tanpa hambatan teknis maupun regulasi.


