Manchester United Terpuruk: Zirkzee, Dorgu, dan Dalot Jadi Simbol Kegagalan INEOS?
Baca dalam 60 detik
- Manchester United hanya meraih satu kemenangan dari empat laga awal Premier League 2026/27 dan kini terpuruk di peringkat 13.
- Krisis kualitas pemain terlihat jelas pada performa Patrick Dorgu, Diogo Dalot, dan Joshua Zirkzee yang dianggap tidak layak bersaing di level atas.
- Kegagalan rekrutmen INEOS dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan, dan perombakan skuad besar-besaran dinilai tak terhindarkan jika ingin kembali bersaing.

Manchester United kembali menelan hasil buruk dalam lanjutan Premier League 2026/27. Kekalahan dari rival sekota Manchester City pada pekan keempat membuat Setan Merah baru mengoleksi satu kemenangan dan terpuruk di posisi ke-13 klasemen. Tekanan pun langsung mengarah kepada manajer Michael Carrick, yang dianggap belum mampu mengangkat performa tim setelah finis ketiga musim lalu.
Krisis ini bukan sekadar soal hasil, melainkan kualitas pemain yang dinilai jauh dari standar klub elite. Dua bek sayap, Patrick Dorgu dan Diogo Dalot, menjadi sorotan utama setelah tampil mengecewakan di derby Manchester. Dorgu, yang mengisi posisi Luke Shaw yang cedera, kesulitan menghadapi tekanan lawan. Ia tercatat dua kali dilewati pemain City dan hanya menyelesaikan 25% umpan silangnya. Sementara Dalot, di sisi kanan, hanya memenangkan satu tekel dan kalah dalam 53% duel darat, serta tidak menciptakan peluang berarti.
Namun, sorotan terbesar jatuh kepada striker Joshua Zirkzee. Pemain asal Belanda itu baru mendapatkan menit bermain pertama di Premier League musim ini ketika masuk sebagai pengganti di derby Manchester. Dalam tujuh menit, ia hanya menyentuh bola sembilan kali, kehilangan penguasaan bola tiga kali, dan tidak memenangkan satu pun duel. Yang lebih mengkhawatirkan, Zirkzee kini telah melewati 15 pertandingan kompetitif tanpa mencetak gol. Carrick lebih memilih Matheus Cunha dan Bryan Mbeumo sebagai false nine dibandingkan Zirkzee, sebuah indikasi jelas bahwa sang striker tidak masuk dalam rencana utama.
"Kualitas skuad senior masih jauh dari cukup untuk bersaing memperebutkan gelar," demikian penilaian tajam terhadap performa United musim ini.
Kegagalan ini tidak lepas dari kebijakan transfer INEOS sejak mengambil alih kendali operasional sepak bola. Mereka dianggap gagal mendatangkan pemain yang benar-benar meningkatkan kualitas tim. Dorgu, Dalot, dan Zirkzee adalah contoh nyata bagaimana rekrutmen yang buruk meninggalkan lubang besar di hampir setiap lini. Jika United ingin kembali menantang gelar, ketiganya disebut perlu segera dijual dan digantikan dengan pemain kelas atas.
Bagi penggemar di Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa klub sebesar Manchester United pun bisa terjebak dalam siklus mediokritas jika manajemen olahraga tidak kompeten. Liga Premier memang liga paling populer di Tanah Air, dan fluktuasi performa Setan Merah selalu menjadi perbincangan hangat di media sosial maupun komunitas penggemar. Banyak yang berharap INEOS segera berbenah, terutama menjelang jendela transfer berikutnya.
Ke depan, pertanyaannya: apakah Carrick akan bertahan jika hasil buruk berlanjut, dan berapa besar dana yang siap dikucurkan INEOS untuk merombak skuad? Tanpa perubahan radikal, mimpi mengakhiri puasa gelar liga yang sudah bertahun-tahun akan semakin jauh dari kenyataan.



