Moise Kean vs Calvert-Lewin: Dua Mantan Striker Everton yang Kini Bersinar, Siapa Lebih Tajam?
Baca dalam 60 detik
- Moise Kean dan Dominic Calvert-Lewin meninggalkan Everton dengan cara berbeda, namun keduanya justru menemukan performa terbaik di klub baru.
- Kean menjelma menjadi penyerang top Serie A bersama Fiorentina dan kini Como, sementara Calvert-Lewin kembali produktif di Leeds United.
- Keputusan Everton melepas dua striker tersebut menyisakan pertanyaan besar tentang strategi transfer dan ketajaman lini depan The Toffees.

Dua mantan penyerang Everton, Moise Kean dan Dominic Calvert-Lewin, kini menikmati masa kejayaan bersama klub baru mereka setelah meninggalkan Goodison Park. Kean, yang sempat dicap gagal di Premier League, telah bertransformasi menjadi salah satu striker paling ditakuti di Serie A, sementara Calvert-Lewin menemukan kembali ketajamannya bersama Leeds United. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa Everton justru kehilangan dua ujung tombak yang kini bersinar?
Kean bergabung dengan Everton dari Juventus pada 2019 dengan harga £29 juta, namun hanya mencetak dua gol dalam 32 penampilan Liga Inggris. Setelah dipinjamkan kembali ke Juventus dan kemudian dijual ke Fiorentina, ia meledak dengan 35 gol dalam 79 pertandingan. Musim panas ini, ia pindah ke Como, klub yang dilatih Cesc Fabregas, dan dianggap sebagai salah satu transfer paling menjanjikan di Italia. Sementara itu, Calvert-Lewin, yang meninggalkan Everton secara gratis pada 2024, telah mencetak 16 gol untuk Leeds United dan tampil impresif sebagai target man.
Performa apik keduanya kontras dengan kondisi lini depan Everton saat ini. Manajer David Moyes hanya memiliki Thierno Barry sebagai striker murni, yang baru mencetak tiga gol dalam lima pertandingan. Kepergian Beto dan Iliman Ndiaye pada Agustus lalu semakin memperparah situasi. Everton memang mendatangkan Jack Grealish dan Ainsley Maitland-Niles, tetapi keduanya bukan tipikal pencetak gol instan. Ketergantungan pada keberuntungan fisik menjadi risiko besar bagi The Toffees.
"Profil fisik Kean sangat menakutkan, pergerakan dan dribelnya berkembang pesat," ujar reporter Carlo Garganese, seperti dikutip dari Football FanCast.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Kean dan Calvert-Lewin menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kesabaran dalam mengembangkan pemain muda. Klub-klub Liga 1 sering kali terburu-buru melepas striker yang belum menunjukkan performa konsisten, padahal potensi mereka bisa melejit di lingkungan yang tepat. Selain itu, manajemen transfer yang cermat dan stabilitas pelatih menjadi faktor kunci agar pemain seperti Kean tidak menjadi 'bom waktu' yang meledak setelah pergi.
Ke depan, Everton harus segera membenahi lini depan jika ingin bersaing di kompetisi Eropa. Sementara Kean dan Calvert-Lewin terus mencetak gol, The Toffees hanya bisa menyesali keputusan masa lalu. Akankah Moyes mampu menemukan sosok striker tajam sebelum jendela transfer berikutnya, atau justru kembali kehilangan pemain berbakat karena kurangnya kesabaran?



