Xi Jinping Bawa Global Civilization Initiative ke Jakarta, IFSRC Jadi Kendaraan Baru Diplomasi RI-China
Baca dalam 60 detik
- Peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) di Jakarta Pusat menandai babak baru diplomasi people-to-people Indonesia-China yang digagas sejak 2013.
- Global Civilization Initiative (GCI) yang dibawa Xi Jinping menawarkan empat pilar utama: penghormatan keragaman peradaban, nilai universal, warisan-inovasi, dan pertukaran antarmasyarakat.
- IFSRC akan menggelar roadshow ke sejumlah kota, pertukaran pemuda-pelajar, serta diskusi yang melibatkan pebisnis — membuka peluang jejaring ekonomi dan sosial bagi profesional Indonesia.

Presiden China Xi Jinping membawa gagasan Global Civilization Initiative (GCI) ke Indonesia, dan gagasan itu kembali mencuat dalam peluncuran Indonesia Friends of Silk Road Club (IFSRC) di Jakarta Pusat, Selasa (15/9/2026). Peluncuran ini menandai upaya Beijing memperluas pengaruh melalui jalur budaya dan masyarakat sipil, bukan sekadar infrastruktur dan perdagangan.
Kuasa Usaha Kedutaan Besar China di Indonesia, Zhou Kan, menegaskan bahwa GCI bukan konsep baru. Ia mengingatkan bahwa pada 2013, saat berpidato di hadapan DPR RI, Xi Jinping pertama kali menawarkan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21. "Gagasan tersebut meneruskan semangat Jalur Sutra Kuno sekaligus membuka ruang baru bagi perdagangan, konektivitas, dan pertukaran antarmasyarakat," ujar Zhou dalam acara tersebut.
Zhou memaparkan empat ajakan utama GCI: menghormati keragaman peradaban dunia, menjunjung nilai-nilai bersama umat manusia, menghargai pewarisan dan inovasi peradaban, serta memperkuat pertukaran dan kerja sama antarmasyarakat internasional. Menurutnya, prinsip-prinsip ini relevan di tengah situasi global yang semakin kompleks. "Hal ini sangat penting untuk membantah teori bentrokan peradaban dan teori unggul-rendah peradaban, serta untuk meningkatkan saling pengertian dan kepercayaan antarnegara," kata Zhou.
Direktur Sino-Nusantara Institute, Ahmad Syaifuddin Zuhri, menekankan bahwa IFSRC dibentuk untuk memperkuat hubungan Indonesia-China melalui jalur people-to-people. "Penguatan hubungan Indonesia dan Tiongkok tidak hanya terjadi di tingkat antarpemerintah, tetapi yang paling utama adalah di tingkat antarmasyarakat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa organisasinya telah menyiapkan agenda roadshow ke berbagai kota untuk menyosialisasikan pertukaran peradaban antarpemuda kedua negara.
"Gagasan tersebut meneruskan semangat Jalur Sutra Kuno sekaligus membuka ruang baru bagi perdagangan, konektivitas, dan pertukaran antarmasyarakat." — Zhou Kan, Kuasa Usaha Kedubes China untuk Indonesia
Bagi Indonesia, peluncuran IFSRC dan pengarusutamaan GCI bukan sekadar peristiwa seremonial. Ini adalah sinyal bahwa China semakin serius menggarap diplomasi publik di Tanah Air, melengkapi pendekatan ekonomi yang sudah berjalan melalui Belt and Road Initiative (BRI). Bagi kalangan profesional, akademisi, dan pelaku usaha, program pertukaran pemuda, seminar, serta diskusi bisnis yang direncanakan IFSRC dapat menjadi kanal untuk membangun jejaring lintas negara — sekaligus peluang memahami dinamika pasar China secara lebih langsung.
Namun, diplomasi people-to-people juga membawa tantangan tersendiri. Di tengah meningkatnya persaingan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik, kedekatan budaya dan sosial dengan China dapat memicu pertanyaan soal kedaulatan dan orientasi kebijakan luar negeri Indonesia. Pemerintah Indonesia secara konsisten menegaskan posisi bebas-aktif, tetapi derasnya arus pertukaran masyarakat bisa menjadi ujian bagi kemampuan negara menjaga keseimbangan kepentingan.
Ke depan, publik akan menantikan apakah IFSRC mampu menghasilkan program yang benar-benar inklusif dan berdampak nyata, atau hanya menjadi wadah seremonial. Pertanyaan kuncinya: sejauh mana inisiatif ini akan memberi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat luas, bukan hanya bagi segelintir elite yang terhubung dengan jaringan bisnis kedua negara?



