Mesir Dukung Arab Saudi Jaga Laut Merah: Sinyal Baru bagi Pelayaran Global dan Kepentingan Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi menyatakan dukungan terhadap inisiatif Arab Saudi untuk menjamin keamanan navigasi di Laut Merah.
- Pertemuan dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman di Kairo menandai konsolidasi poros kekuatan regional di kawasan strategis.
- Stabilitas Laut Merah krusial bagi Indonesia karena jalur ini menghubungkan Asia dengan Eropa dan memengaruhi biaya logistik serta harga energi domestik.

Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi secara terbuka menyatakan dukungan terhadap seruan Arab Saudi guna memastikan keamanan dan kelancaran pelayaran di Laut Merah. Dukungan itu disampaikan saat menerima kunjungan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) di Kairo, dalam pertemuan yang menyoroti isu keamanan maritim kawasan.
Langkah ini menandai penguatan poros MesirโArab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran internasional. Laut Merah, yang menghubungkan Terusan Suez dengan Selat Bab el-Mandeb, merupakan salah satu arteri perdagangan paling sibuk di dunia. Gangguan di wilayah ini langsung berdampak pada rantai pasok global, termasuk harga minyak dan biaya pengiriman.
Mesir memiliki kepentingan ekonomi langsung karena Terusan Suez menyumbang devisa signifikan bagi negara itu. Sementara Arab Saudi berkepentingan menjaga keamanan jalur ekspor minyaknya. Dukungan El-Sisi terhadap inisiatif Riyadh memperlihatkan upaya kolektif negara-negara Arab untuk mengurangi risiko geopolitik di perairan tersebut, terutama setelah serangan terhadap kapal dagang oleh kelompok Houthi beberapa waktu lalu.
Bagi Indonesia, stabilitas Laut Merah bukan sekadar isu Timur Tengah. Sebagai negara kepulauan yang bergantung pada perdagangan maritim, gangguan di jalur ini dapat menaikkan biaya angkut barang impor maupun ekspor. Kenaikan premi asuransi pelayaran dan waktu pengiriman yang lebih lama berpotensi mendorong inflasi domestik, terutama untuk komoditas energi dan bahan baku industri.
Selain itu, banyak perusahaan pelayaran Indonesia yang mengirim barang ke Eropa melalui rute Laut MerahโSuez. Jika ketegangan berlanjut, mereka mungkin terpaksa memutar melalui Tanjung Harapan yang memakan waktu hingga dua minggu lebih lama. Dampaknya terasa pada daya saing produk Indonesia di pasar Eropa, terutama tekstil, elektronik, dan minyak sawit.
"Dukungan Mesir terhadap Arab Saudi merupakan sinyal bahwa negara-negara di kawasan ingin mengambil alih tanggung jawab keamanan maritim, tanpa harus menunggu intervensi kekuatan eksternal," ujar seorang analis keamanan regional yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pertemuan Kairo juga dapat dibaca sebagai bagian dari upaya normalisasi hubungan Arab Saudi dengan berbagai pihak, termasuk Iran, untuk menciptakan stabilitas jangka panjang. Namun, tantangan tetap ada: kelompok milisi non-negara masih memiliki kemampuan mengganggu pelayaran. Tanpa solusi politik yang inklusif, keamanan Laut Merah akan terus rapuh.
Ke depan, Indonesia perlu memperkuat diplomasi maritim dan menjajaki kerja sama dengan negara-negara Teluk untuk melindungi kepentingan pelayaran nasional. Apakah ASEAN akan mengambil peran lebih aktif dalam menjaga jalur perdagangan strategis ini, atau justru membiarkan dinamika kawasan dikuasai oleh kekuatan besar?


