Alarm Perang Menyentuh Makkah, Bab el-Mandeb Jadi Titik Kritis Baru Energi Global
Baca dalam 60 detik
- Arab Saudi sempat mengaktifkan peringatan keamanan di Makkah dan Jeddah sebelum dicabut, menandai pertama kalinya kota suci itu masuk radar ancaman selama konflik berlangsung.
- Penguasaan Houthi atas pesisir barat Yaman mengancam Bab el-Mandeb, memaksa Saudi mengalihkan ekspor minyak ke Pipa East-West yang kini lumpuh.
- Harga Brent menembus US$108 per barel dan solar AS mencetak rekor, sementara Indonesia menghadapi tekanan baru pada subsidi energi dan defisit APBN.

Arab Saudi untuk pertama kalinya mengaktifkan sirene peringatan keamanan di Kota Suci Makkah dan Jeddah pada Selasa (15/9/2026), sebelum akhirnya mencabut alarm tersebut dalam hitungan singkat. Otoritas Riyadh belum mengonfirmasi apakah ada proyektil yang benar-benar mencapai wilayahnya, dan hingga kini tidak ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab. Meski berlangsung sekejap, cakupan peringatan ini lebih luas dari sebelumnya dan menandai eskalasi baru dalam perang regional yang selama tujuh bulan menyeret Iran dan Amerika Serikat.
Yang membuat situasi berbeda bukan sekadar alarm di Makkah, melainkan pergeseran medan tempur ke selatan. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dalam sepekan terakhir menguasai hampir seluruh garis pantai barat Yaman di Laut Merah, termasuk pelabuhan bersejarah Mocha dan sebuah pulau di mulut laut tersebut. Kini mereka berdiri tepat di depan Bab el-Mandeb, selat sempit yang menjadi pintu masuk pelayaran antara Laut Merah dan Teluk Aden โ jalur yang selama ini menjadi tulang punggung perdagangan energi dunia.
Bagi Riyadh, ancaman ini datang dari dua arah sekaligus. Selat Hormuz di sisi timur sudah nyaris tidak bisa diandalkan karena lalu lintas kapal menyusut drastis akibat perang. Saudi pun mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke Pipa East-West sepanjang 1.200 kilometer yang membelah gurun menuju Laut Merah. Namun, pipa itu lumpuh sejak serangan Jumat yang dituduhkan Riyadh kepada kelompok pro-Iran berbasis di Irak. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan aliran minyak melalui pipa tersebut diperkirakan pulih dalam hitungan hari, tetapi para pedagang memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan bisa memangkas pasokan global hingga 4%.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Kontrak berjangka Brent menembus US$108 per barel, sementara harga solar ritel di Amerika Serikat โ indikator politik yang sensitif โ mencetak rekor baru. Di Dewan Keamanan PBB, Wakil Duta Besar AS Jennifer Locetta menilai kemajuan Houthi di dekat Bab el-Mandeb mengancam keamanan energi global dan mendesak penghentian pasokan senjata serta dana dari Iran. Duta Besar Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil menuduh milisi Houthi "memiliterisasi selat-selat internasional untuk memeras ekonomi global".
"Kehadiran baru Houthi di Bab el-Mandeb dapat makin membahayakan jalur ekspor penting tersebut," demikian peringatan yang muncul dari kalangan pedagang minyak, menggambarkan betapa rapuhnya rute alternatif Saudi.
Washington kini berada di posisi sulit. Setelah membombardir Houthi selama dua bulan pada tahun lalu, AS harus memilih antara membiarkan ancaman terhadap ekonomi global membesar atau memberi dukungan militer lebih besar kepada Saudi โ dengan risiko terseret ke medan perang baru yang mahal. Sejauh ini bantuan AS masih terbatas pada dukungan intelijen, meski Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah menelepon Presiden Donald Trump pekan lalu untuk meminta dukungan militer. Mohammed juga bertemu komandan militer regional AS, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah, dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Kairo, di mana kedua pemimpin menekankan pentingnya kebebasan navigasi di Bab el-Mandeb dan Laut Merah.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, eskalasi ini bukan peristiwa jauh. Sebagai importir minyak mentah dan bahan bakar olahan, kenaikan Brent ke atas US$108 per barel akan merembet ke harga BBM dalam negeri, biaya logistik, dan pada akhirnya inflasi. Pemerintah menghadapi dilema fiskal: menahan harga jual agar daya beli terjaga berarti subsidi dan kompensasi energi membengkak, sementara membiarkan harga naik berisiko menekan konsumsi rumah tangga. Selain itu, sekitar 40% perdagangan laut Indonesia menuju Eropa dan Timur Tengah melewati Laut Merah dan Bab el-Mandeb; gangguan berkepanjangan dapat memperpanjang waktu pengiriman, menaikkan premi asuransi kargo, dan mengancam ekspor CPO, tekstil, serta produk manufaktur. Bagi investor, sektor energi dan komoditas mungkin diuntungkan jangka pendek, tetapi tekanan pada obligasi negara dan rupiah bisa membayangi.
Pertanyaan ke depan: jika Houthi benar-benar mengunci Bab el-Mandeb, apakah dunia akan menyaksikan intervensi militer besar-besaran yang menyeret lebih banyak negara, atau justru negosiasi darurat yang mengorbankan sebagian kepentingan Riyadh? Jawabannya akan menentukan arah harga minyak โ dan anggaran Indonesia โ sepanjang sisa tahun.


