ICA-CEPA Mulai Berjalan, RI Tawarkan Nuklir hingga AI ke Investor Kanada
Baca dalam 60 detik
- Indonesia memanfaatkan momen implementasi ICA-CEPA untuk menggaet perusahaan Kanada di sektor nuklir, AI, mineral kritis, dan jasa keuangan.
- Perjanjian ini menghapus atau memangkas tarif lebih dari 90 persen pos tarif Kanada untuk produk Indonesia, dan hampir 86 persen sebaliknya.
- Bagi pelaku pasar dalam negeri, ICA-CEPA membuka akses bahan baku dan teknologi, tetapi juga menuntut kesiapan standar serta aturan asal barang.

Pemerintah Indonesia membuka pintu selebar-lebarnya bagi perusahaan Kanada untuk menanamkan modal di sektor energi nuklir, kecerdasan buatan, mineral kritis, dan jasa keuangan, seiring dimulainya fase implementasi Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Ajakan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Canada-ASEAN Business Council (CABC) Executive Dialogue yang berlangsung di sela-sela Canada Investment Summit.
Langkah ini menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara. ICA-CEPA bukan sekadar perjanjian dagang biasa: ia menjadi kesepakatan bilateral pertama Kanada dengan negara ASEAN, sekaligus kemitraan ekonomi komprehensif perdana Indonesia dengan kawasan Amerika Utara. Kedua negara telah merampungkan ratifikasi, dan kini pembahasan beralih ke urusan teknis, termasuk aturan asal barang (rules of origin) yang akan menentukan seberapa besar manfaatnya benar-benar mengalir ke pelaku usaha.
Dalam pertemuan itu, Airlangga menegaskan bahwa pasar Indonesia tidak hanya besar, tetapi juga stabil dan dikelola secara disiplin. Pernyataan ini menyiratkan pesan bahwa kepastian regulasi menjadi nilai jual utama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ia juga mendorong forum bisnis tersebut menjadi ajang pertukaran gagasan dua arah, agar masukan dari dunia usaha bisa segera diterjemahkan menjadi langkah konkret.
"Dialog hari ini penting, karena pada akhirnya para pelaku usaha seperti anggota CABC-lah yang akan mewujudkan ICA-CEPA," ujar Airlangga, seraya berharap forum itu menghasilkan tindak lanjut nyata.
Yang menarik, rangkaian pertemuan ini tidak berhenti pada perdagangan barang. Airlangga tercatat menggelar pertemuan khusus dengan CEO AtkinsRealis Ian L. Edwards untuk membahas kerja sama energi tenaga nuklir, serta dengan CEO Sun Life Kevin D. Strain guna memperkuat sektor keuangan. Ia juga menyampaikan sambutan pada CABC Reception bersama Menteri Industri Kanada Mรฉlanie Joly, mengajak lebih banyak investasi masuk ke sektor strategis, mulai dari mineral kritis, transisi energi, ketahanan pangan, hingga AI.
Bagi pembaca di Indonesia, terutama investor dan profesional, ICA-CEPA menawarkan peluang yang perlu dicermati secara jernih. Di satu sisi, produsen dalam negeri mendapat akses pasar ke Kanada dengan tarif yang jauh lebih ringan, sementara importir bisa memperoleh bahan baku dan teknologi dari Kanada dengan biaya lebih rendah. Di sisi lain, kesiapan standar produk, sertifikasi, dan pemahaman aturan asal barang menjadi syarat mutlak agar manfaat tidak sekadar menjadi narasi di atas kertas. Tanpa kesiapan itu, bukan tidak mungkin pasar domestik justru kebanjiran barang Kanada tanpa diimbangi ekspansi ekspor Indonesia.
Pemerintah tampaknya menyadari hal ini. Karena itu, forum bisnis semacam CABC Executive Dialogue diposisikan sebagai jembatan antara negosiasi tingkat negara dan eksekusi di tingkat perusahaan. Kehadiran sejumlah pejabat, termasuk Duta Besar RI untuk Kanada Muhsin Syihab dan Deputi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Edi Prio Pambudi, menunjukkan bahwa pendekatan yang dipakai tidak lagi sekadar seremonial, melainkan upaya membangun kesiapan dunia usaha sejak dini.
Ke depan, ujian sesungguhnya ada pada detail teknis: seberapa cepat aturan asal barang rampung, seberapa siap industri dalam negeri memenuhi standar Kanada, dan seberapa agresif perusahaan Kanada merealisasikan komitmen investasinya. Jika tiga hal itu berjalan seiring, ICA-CEPA bisa menjadi cetak biru bagi perjanjian serupa dengan negara maju lainnya. Namun jika tidak, ia berisiko menjadi dokumen tebal yang manfaat ekonominya hanya dinikmati segelintir pihak.


