Pakar ITS Bongkar Dinamika Laut Masalembu di Balik Tenggelamnya KM Virgo
Baca dalam 60 detik
- Gelombang dua meter disertai angin tenggara 18-20 knot dinilai menciptakan kondisi laut yang kurang mendukung stabilitas kapal.
- Ramp door dan potensi kegagalan mesin menjadi dua titik krusial yang harus diperiksa dalam investigasi teknis.
- Penyebab pasti insiden belum bisa disimpulkan sebelum otoritas merampungkan penyelidikan menyeluruh.

Gelombang setinggi dua meter yang menghantam perairan Kepulauan Masalembu dinilai cukup untuk membuat KM Virgo Transport 8 kehilangan kestabilan. Penilaian itu disampaikan pakar lingkungan laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kriyo Sambodho, yang menyoroti kombinasi angin dan gelombang sebagai faktor yang jarang dibahas dalam kecelakaan pelayaran.
Menurut Kriyo, perairan di sekitar lokasi tenggelamnya kapal tersebut memiliki karakter dinamis karena dipengaruhi angin muson barat dan timur serta proses transformasi gelombang. Data hidrometeorologi menunjukkan kecepatan angin tenggara berkisar 18-20 knot, dengan embusan mencapai 27-30 knot. Gelombang signifikan meningkat dari sekitar 1,7 meter menjadi dua meter, sementara periode gelombang berada pada kisaran 7-8 detik dari arah tenggara. Arus permukaan tercatat 1,0-1,2 knot menuju barat.
Kriyo menegaskan kondisi tersebut masuk kategori adverse marine conditions atau laut yang kurang mendukung, meski tidak tergolong cuaca ekstrem menurut klasifikasi BMKG. "Ketinggian gelombang yang mencapai 2 meter saat itu sangat mungkin membuat kapal tidak stabil," ujarnya. Ia menambahkan arah angin dan gelombang terhadap posisi kapal turut memengaruhi respons kapal saat berlayar di perairan terbuka.
"Penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan."
Jika ada dugaan air masuk ke dalam kapal, Kriyo menyebut ramp door sebagai komponen yang perlu diperiksa. Pintu besar yang menjadi akses kendaraan dan muatan itu berperan penting dalam menjaga integritas lambung kapal. Selain itu, kemungkinan kegagalan mesin tidak bisa diabaikan, meski ia menekankan semua dugaan masih bersifat sementara sebelum investigasi tuntas.
Ia juga mengingatkan agar tragedi KM Virgo Transport 8 tidak dikaitkan dengan sebutan Segitiga Bermuda Indonesia yang kerap dialamatkan ke perairan Kepulauan Masalembu. Menurutnya, penyebab kecelakaan harus dijelaskan lewat kajian lingkungan, teknis, dan investigasi resmi, bukan narasi mistis yang tidak berbasis data.
Bagi pembaca di Indonesia, terutama pelaku usaha logistik dan transportasi laut, temuan ini menyoroti pentingnya standar keselamatan pelayaran di jalur padat seperti Masalembu. Operator kapal penyeberangan dan angkutan barang perlu memperkuat prosedur pemeriksaan ramp door, sistem bilga, serta kesiapan mesin menghadapi cuaca musiman. Regulator juga dituntut memastikan prakiraan cuaca maritim tersampaikan tepat waktu ke nakhoda dan pemilik kapal.
Investor di sektor pelayaran dan asuransi kargo patut mencermati hasil investigasi karena akan memengaruhi penilaian risiko rute dan premi. Jika penyebabnya dominan faktor teknis, dorongan investasi pada perawatan armada dan sertifikasi keselamatan akan menguat. Sebaliknya, jika faktor lingkungan lebih dominan, kebutuhan sistem peringatan dini dan manajemen rute berbasis data cuaca menjadi prioritas.
Yang masih menjadi pertanyaan besar: sejauh mana operator dan otoritas pelabuhan menindaklanjuti rekomendasi teknis semacam ini sebelum insiden serupa terulang di perairan lain?



