Arab Saudi Buka "Harta Karun" Mineral Tanah Jarang US$100 Miliar di Madinah, Peta Pasokan Global Berubah
Baca dalam 60 detik
- Arab Saudi mengumumkan temuan sekitar 110 juta ton bijih tanah jarang dan uranium di Jabal Sayid, Madinah, dengan estimasi nilai mencapai US$100 miliar.
- Penemuan ini memperkuat kemitraan Riyadh-Washington dalam rantai pasokan mineral kritis, termasuk pembiayaan 49% pabrik pemrosesan oleh Departemen Pertahanan AS.
- Bagi Indonesia, dinamika ini membuka peluang kerja sama pengolahan mineral dan tantangan bersaing dalam menarik investasi hilirisasi.

Arab Saudi mengumumkan penemuan sumber daya mineral tanah jarang dan bijih uranium di Jabal Sayid, Madinah, dengan estimasi volume mencapai 110 juta ton. Pengumuman disampaikan dalam Sidang Reguler ke-70 Konferensi Umum Badan Energi Atom Internasional (IAEA) pada Senin, menandai babak baru diversifikasi ekonomi kerajaan di luar sektor hidrokarbon.
Menteri Energi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan bahwa eksplorasi dan studi geologi di proyek tersebut mengungkap konsentrasi tinggi mineral tanah jarang, terutama unsur berat, serta indikasi uranium yang menjanjikan. Menurut data yang dihimpun CSIS dari Kementerian Perindustrian dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi serta perusahaan tambang negara Maaden, situs ini menyimpan cadangan tanah jarang terbesar keempat dunia, dengan rincian sekitar 552.000 ton logam tanah jarang berat seperti disprosium dan terbium, serta 355.000 ton tanah jarang ringan termasuk neodymium dan praseodymium. Sumber daya uranium di lokasi yang sama diperkirakan mencapai 31.000 ton.
Temuan ini muncul hanya beberapa bulan setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi meresmikan kerja sama nuklir sipil pada 22 Juli, serta memperdalam kemitraan mineral kritis sejak November 2025. Departemen Pertahanan AS setuju membiayai 49% pabrik pemrosesan logam tanah jarang baru di Arab Saudi, sementara Maaden memegang 51% saham pengendali bersama MP Materials, perusahaan yang mengoperasikan satu-satunya tambang dan pabrik pemrosesan tanah jarang di AS. Skema ini menempatkan Riyadh sebagai simpul baru dalam rantai pasokan global yang selama ini didominasi China.
"Eksplorasi dan studi geologi pada proyek Jabal Sayid di Madinah telah mengungkapkan perkiraan sumber daya sekitar 110 juta ton bijih dengan konsentrasi mineral tanah jarang yang tinggi, terutama unsur-unsur berat, di samping konsentrasi uranium yang menjanjikan," ujar Pangeran Abdulaziz bin Salman.
Jabal Sayid terletak sekitar 350 km timur laut Jeddah, wilayah yang dikenal memiliki salah satu deposit tanah jarang paling berharga di dunia. Survei Geologi Saudi juga mengidentifikasi dua area eksplorasi tahap lanjut dengan perkiraan sumber daya total 644 juta ton, memperkuat posisi kerajaan sebagai pemain baru di sektor mineral kritis.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, Indonesia dapat memperdalam kerja sama hilirisasi mineral dengan Arab Saudi, terutama dalam pengolahan tanah jarang yang selama ini belum tergarap optimal. Di sisi lain, masuknya pasokan baru dari Timur Tengah berpotensi mengubah lanskap harga dan persaingan global, yang dapat memengaruhi daya tarik investasi sektor serupa di dalam negeri. Pemerintah perlu mempercepat pengembangan ekosistem pengolahan mineral tanah jarang nasional agar tidak hanya menjadi penonton dalam pergeseran rantai pasokan ini.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa cepat Arab Saudi dapat mengubah temuan geologis menjadi produksi komersial, dan apakah kemitraan dengan AS akan mendorong transfer teknologi yang juga bisa dimanfaatkan negara-negara mitra lain, termasuk Indonesia. Jika Riyadh berhasil, peta kekuatan mineral kritis dunia akan semakin terfragmentasi, dan negara-negara pemilik cadangan seperti Indonesia dituntut untuk bergerak lebih lincah dalam menarik investasi serta membangun kapasitas industri.



