Houthi Kuasai Pelabuhan Mokha, Jalur Energi Laut Merah Kembali di Ujung Tanduk
Baca dalam 60 detik
- Milisi Houthi merebut Kota Pelabuhan Mokha, memperbesar risiko konflik bersenjata terbuka dengan pemerintah Yaman yang diakui internasional.
- Posisi Mokha yang hanya 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb menjadikannya titik krusial bagi arus pelayaran dan pasokan energi global.
- Klaim Houthi soal keamanan navigasi belum meyakinkan pasar, sehingga premi risiko minyak dan biaya logistik berpotensi naik dalam waktu dekat.

Milisi Houthi resmi menguasai Kota Pelabuhan Mokha di Yaman sejak Sabtu, sebuah perkembangan yang langsung memantik kekhawatiran bahwa negara itu akan terseret kembali ke perang saudara penuh antara kelompok pemberontak dan pemerintah yang diakui dunia internasional. Perebutan kota pelabuhan ini bukan sekadar peristiwa lokal: Mokha berada sekitar 80 kilometer dari Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Ketegangan ini muncul di tengah situasi geopolitik yang belum mereda antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik bersenjata antara Houthi dan Arab Saudi juga masih berlangsung, sehingga eskalasi di Mokha berpotensi menyeret lebih banyak pihak ke dalam pusaran konflik. Sejumlah pengamat menilai perebutan Mokha sebagai upaya Houthi memperkuat cengkeraman atas wilayah pesisir Yaman, setelah sekitar empat tahun situasi relatif tenang.
Juru bicara Houthi, Abdulsalam, menyatakan bahwa kebebasan navigasi dan perdagangan internasional di Laut Merah serta selat tersebut tetap aman. Ia menegaskan operasi militer kelompoknya hanya menyasar target tertentu, meski tidak merinci apa dan siapa yang dimaksud. Pernyataan itu kontras dengan rekam jejak Houthi yang dalam beberapa tahun terakhir beberapa kali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal internasional di Laut Merah.
"Kebebasan navigasi dan perdagangan internasional di Laut Merah serta selat tersebut tetap aman," ujar Abdulsalam, dikutip Reuters, Selasa (15/9/2026).
Bagi Indonesia, eskalasi di Yaman bukan perkara jauh. Sebagai negara importir minyak, pergerakan harga minyak mentah dunia akan langsung terasa pada APBN, biaya energi industri, hingga tarif angkutan logistik. Laut Merah adalah salah satu rute utama kapal tanker dari Timur Tengah menuju Asia, termasuk Indonesia. Ketika jalur ini terganggu, premi risiko asuransi pelayaran naik, dan biaya pengiriman barang dari Eropa atau Afrika ke Asia ikut membengkak.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu mencermati dampak berantai ini. Kenaikan biaya logistik dapat menekan margin importir, sementara harga bahan bakar bersubsidi berisiko membebani anggaran jika harga minyak dunia melonjak. Investor di pasar modal juga biasanya merespons ketegangan di Timur Tengah dengan mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS, yang pada gilirannya memengaruhi nilai tukar rupiah.
Sejumlah analis menilai klaim Houthi soal keamanan navigasi belum cukup meyakinkan pasar. Mereka menggarisbawahi bahwa perebutan Mokha justru memperbesar kemungkinan gangguan pasokan, terutama jika konflik meluas ke pelabuhan-pelabuhan lain di pesisir Yaman. Dalam skenario terburuk, Selat Bab el-Mandeb bisa menjadi titik sumbat kedua setelah Selat Hormuz, yang saat ini masih menghadapi ketegangan tersendiri.
Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah Houthi akan mempertahankan kontrol atas Mokha atau menghadapi serangan balik dari pemerintah Yaman dan sekutunya. Jika pertempuran berkepanjangan, harga minyak dunia berpotensi menembus level baru, dan Indonesia harus bersiap dengan bantalan fiskal yang memadai. Pertanyaannya, seberapa siap kebijakan energi dan logistik domestik menghadapi guncangan dari Laut Merah kali ini?



